Determinasi Sutarti: Dapur MBG Jadi Benteng Biayai Perang Anak Lawan Kanker Tulang & Cuci Darah
Sutarti (56), warga Klaten, terbantu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini memungkinkannya membiayai pengobatan anak yang berjuang melawan kanker tulang dan gagal ginjal. Penghasilan pasti dari dapur MBG dekat rumah, sehingga Sutarti bisa merawat anaknya. Program ini sangat berarti bagi keluarga.
Dari Putus Sekolah ke Bangku Kelas: Anak Pemulung Boyolali Kini Raih Pendidikan Gratis di Sekolah Rakyat
Seorang pemulung di Boyolali, Sarjo (50), kini bisa menyekolahkan kembali anaknya yang sempat putus. Program Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, inisiasi Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Sosial, memfasilitasi pendidikan anak Sarjo. Fasilitas lengkap seperti tempat tinggal dan kebutuhan belajar disediakan, meringankan beban ekonomi keluarga.
Dampak Ganda yang Mengejutkan: Gizi Anak Sekolah Membaik, Dompet Pekerja Tahu Menebal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) inisiasi Presiden Prabowo Subianto menjamin gizi anak sekolah, lansia, dan ibu hamil. Program ini juga meningkatkan kesejahteraan pekerja UMKM, seperti pabrik tahu di Ngawi. Produksi tahu UMKM Laris Tahu Jaya meningkat, berdampak pada penghasilan karyawan. MBG mendukung ekonomi lokal.
Terobosan Pendidikan: Anak Pembuat Tungku Lolos SMA Berkat Sekolah Rakyat Gratis Pemerintah.
Sugiyanto, pembuat anglo dari Surakarta, Jawa Tengah, menghadapi tantangan ekonomi dalam menyekolahkan anaknya. Ia mendaftarkan Muhammad Roid ke Sekolah Rakyat. Program ini, diapresiasi Sugiyanto, menawarkan pendidikan gratis, fasilitas lengkap, dan meringankan beban biaya sekolah bagi keluarga dengan keterbatasan finansial di Surakarta.
Nawal Yasin: Fatayat NU Wajib Konsisten Bentengi Perempuan dan Anak dari Kekerasan!
Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mendorong Fatayat NU konsisten melindungi perempuan dan anak dari kekerasan. Fatayat NU berperan krusial dalam pencegahan dan penanganan kasus. Data Dinsos PPKB Rembang mencatat 8 kasus kekerasan perempuan dan 16 kasus anak. Rembang terendah di Jateng berkat kolaborasi ini.
Akhiri Keterbatasan: Anak Buruh Tani Kini Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat Pemerintah
Punijah, buruh tani di Sragen, bersyukur anaknya, Ahmad Lutfi, dapat kembali bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen. Sebelumnya, Lutfi putus sekolah karena kendala biaya. Program ini menjamin pendidikan anak tanpa biaya. Punijah juga menerima bantuan sosial untuk menopang ekonomi keluarga.
DPR Serukan Gerak Cepat: Krisis Kepercayaan Vaksin Anak Ancam Kesehatan Publik
Kepercayaan pada vaksin menurun, mengancam anak Indonesia. IDAI peringatkan penyakit seperti campak dan polio muncul kembali. Cakupan imunisasi dasar lengkap turun dari 94% (2022) menjadi 87% (2024). Target 2025 belum tercapai. Cakupan 14 antigen masih jauh dari ambang aman herd immunity 95%.
Sekolah Rakyat Ubah Nasib: Anak Ojol Lolos Kuliah Data Analyst di AS
Akbar Varel Areva (17) dari Bekasi, anak pengemudi ojek online, kembali bersekolah melalui program pemerintah Sekolah Rakyat. Program ini memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak keluarga miskin, memutus rantai kemiskinan. Di SRMA Bekasi, Akbar kini bercita-cita menjadi Data Science Analyst. Sekolah Rakyat memberikan pendidikan berasrama gratis dengan fasilitas lengkap untuk masa depan siswa.
Bukan Manja, Anak Bungsu: Dilema Pahit Antara Meraih Cita
Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh orang tuanya. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka.
Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema.
Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.
Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua
Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya pasangan, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri.
Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing.
Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah!
Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi!
Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa
Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan banyak yang masih jauh dari UMR. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan.
Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya!
Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua.
Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita
Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya.
Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!
Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Purnatugas dari MK, Anwar Usman: Putusan Nomor 90 Bukan Pintu Buat Gibran, demi Anak Muda
loading…
Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman berbicara terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023. Foto/SindoNews
JAKARTA – Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman berbicara terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang sempat mengundang polemik dalam kontestasi Pilpres 2024. Ia mengatakan, putusan itu bukan merupakan “pintu” bagi keponakannya, Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden.
Hal itu disampaikan Anwar Usman usai menjalani wisuda purnabakti di Gedung MK, Jakarta, Senin (13/4/2026). Ia menyebut adanya kesalahan persepsi publik yang mengaitkan putusan tersebut secara eksklusif dengan sosok Gibran. Menurutnya, putusan tersebut ditujukan untuk memberikan ruang bagi seluruh anak muda di Indonesia.
“Lho nggak, nggak, nggak itu bukan pintu untuk Gibran. Untuk semua anak muda. Nah itulah kesalahan persepsi,” tegas Anwar Usman.
Anwar Usman menyatakan bahwa ia menjatuhkan putusan tersebut atas dasar keyakinan untuk kebenaran dan keadilan yang dianggapnya sebagai amanah Allah.
Anwar Usman membantah adanya konflik kepentingan dalam pengambilan putusan tersebut, seraya merujuk pada pernyataan beberapa pihak terkait fakta hukum yang ada.