Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
loading…
Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel mengaku tak kaget mendengar kabar terjeratnya mantan Kepala BGN Dadan Hindayana hingga Wamen Imipas Silmy Karim dalam perkara korupsi. Foto: Achmad Al Fiqri
JAKARTA – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel mengaku tak kaget mendengar kabar terjeratnya mantan Kepala BGN Dadan Hindayana hingga Wamen Imipas Silmy Karim dalam perkara korupsi. Noel mengatakan telah bersuara akan adanya ejanat yang dijerat kasus korupsi, salah satunya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
“Sebelumnya kan saya sudah ingatkan ke kawan-kawan, nanti ada pejabat juga yang akan seperti saya. Dulu yang saya ingatkan Pak Purbaya, tapi ternyata yang kena ada dua hari ini, selain Pak Dadan, ada Pak Silmy,” ucap Noel di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Bahkan, eks Ketua Umum Jokowi Mania ini pun menggulirkan isu bahwa akan banyak pejabat yang tersandung masalah hukum pada bulan ini. Namun, Noel tak menyebut lebih detail identitas pejabat itu.
Dadan Hindayana Dkk Terafiliasi Punya Banyak SPPG dengan Insentif Miliaran per Hari
loading…
Eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana keluar dari Gedung Bundar Kejaksaan Agung. Foto/Yudistiro Pranoto
JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan dua wakilnya sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan tata kelola Makan Bergizi Gratis (MBG) pada BGN tahun 2025-2026. Kejagung menyebut Dadan Hindayana dkk terafiliasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ( SPPG ) dalam program MBG.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi menjelaskan, sejatinya program MBG dikelola oleh yayasan yang terafiliasi dengan sekolah penerima.
Namun, dalam pelaksanaannya, banyak SPPG yang ditunjuk karena mempunyai afiliasi dengan petinggi BGN. Syarief menyebut yayasan itu sejatinya juga tidak memiliki syarat untuk menjadi mitra SPPG.
“Namun tetap ditunjuk dengan cara dilakukan pengaturan verifikasi pada portal Mitra BGN dengan adanya atensi dari para tersangka,” kata Syarief dalam konferensi pers, Rabu (3/6/2026).
WhatsApp Diserang Spam Nomor Brasil, Banyak Akun Tiba-Tiba Logout
Pengguna WhatsApp dihebohkan serangan spam misterius dari ratusan nomor asing berkode Brasil. Akun korban otomatis keluar dan sulit dipulihkan akibat deteksi “unusual activity”. Sistem keamanan WhatsApp memblokir akun. Lindungi akun Anda dengan verifikasi dua langkah dan blokir pesan tidak dikenal. Kesadaran keamanan siber pribadi sangat krusial.
Soroti Kasus Chromebook, DPR: Bukti Jaksa Solid, Terlalu Banyak Kebetulan yang Janggal
loading…
Mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dituntut pidana 18 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan pada kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Chromebook. Foto: Dok Sindonews
JAKARTA – Anggota Komisi III DPR Hinca Pandjaitan mengapresiasi kinerja Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam menangani kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek. Konstruksi hukum dan alat bukti yang dibangun oleh Kejaksaan sejak pembacaan dakwaan hingga tuntutan sangat solid, logis, dan berbasis pada fakta-fakta hukum yang terang benderang.
“Saya mengikuti jalannya persidangan ini secara saksama dari awal. Saya harus katakan bahwa fakta-fakta serta alat bukti yang diajukan JPU sangat kuat. Analisis yuridis yang dipaparkan jaksa terstruktur dengan baik dan memiliki dasar pembuktian yang kokoh,” ujar Hinca di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Politikus senior Partai Demokrat ini juga menyoroti adanya kecenderungan di ruang publik atau pembelaan yang mencoba menyederhanakan beberapa kejanggalan dalam proyek tersebut sebagai rentetan kebetulan.
Hinca menilai dalam hukum pidana korupsi tidak ada ruang bagi argumen yang hanya bersandar pada asas kebetulan jika pola penyimpangannya terjadi secara berulang dan sistematis.
Imbas Selat Hormuz Ditutup, Prabowo Ungkap Banyak Negara Minta Pupuk dari Indonesia
loading…
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Foto: Tangkapan layar
NGANJUK – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa banyak negara di dunia saat ini kesulitan hingga panik karena gejolak perang di Timur Tengah. Dia mengaku mendapatkan laporan bahwa negara-negara lain ingin membeli beras dari Indonesia.
Prabowo mengungkapkan, penutupan Selat Hormuz akibat perang mempengaruhi banyak hal, terutama pengiriman pupuk. “Sekarang banyak negara yang kesulitan yang panik karena perang di Timur Tengah, Selat Hormuz ditutup, 20 persen BBM dunia lewat Selat Hormuz, berarti pupuk terpengaruh karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas pupuk dari urea, urea sangat dibutuhkan,” kata Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Ia mengaku mendapat laporan dari Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman terkait banyaknya negara yang membeli pupuk dari Indonesia. Prabowo menyebut Indonesia kini berada di pihak yang memberi bantuan.
Prabowo Tak Menampik: MBG Banyak Masalah, Penertiban Mutlak Dilakukan
Presiden Prabowo Subianto meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo mengakui banyak masalah dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). Ia berjanji menertibkan masalah tersebut dan menindak tegas pimpinan yang tidak berintegritas.
Bukan Soal Skill, Ini Alasan Banyak Perusahaan Pecat Gen Z
Foto: Getty Images
Teknologi.id– Memasuki dunia kerja seolah menjadi medan benturan budaya yang nyata bagi Generasi Z (Gen Z). Sebuah survei terbaru dari Intelligent mengungkapkan realita yang cukup mengejutkan: enam dari 10 perusahaan (60 persen) mengaku telah memecat karyawan Gen Z hanya dalam beberapa bulan setelah mereka direkrut.
Profesor dari New York University (NYU), Suzy Welch, menilai fenomena ini bukan sekadar masalah kompetensi teknis, melainkan cerminan dari pergeseran fundamental terkait nilai dan prioritas hidup yang dianut oleh tenaga kerja muda saat ini.
Krisis Keselarasan: Hanya 2 Persen Gen Z yang Memenuhi Kriteria
Melalui riset yang melibatkan sekitar 200.000 responden selama setahun terakhir menggunakan alat pemetaan The Values Bridge, Welch menemukan adanya jurang pemisah yang sangat lebar antara apa yang dicari perusahaan dan apa yang diprioritaskan oleh Gen Z.
Data menunjukkan bahwa hanya 2 persen dari Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan ekspektasi manajer perekrutan. Benturan nilai ini terlihat jelas dari prioritas masing-masing pihak:
Prioritas Utama Karyawan Gen Z:
Perawatan diri (self-care) dan kesehatan mental.
Kebebasan untuk mengekspresikan diri secara autentik.
Keinginan untuk membantu orang lain.
Prioritas Utama Manajer Perekrutan (Perusahaan):
Prestasi: Dorongan dan keinginan kuat untuk menang atau mencapai target.
Fokus: Dedikasi penuh terhadap pekerjaan.
Ruang Lingkup: Keinginan untuk terus belajar, beraktivitas, dan mengambil tantangan profesional.
“Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya—itu angka kesenjangan yang sangat besar,” ungkap Welch, dilansir dari USA Today.
Trauma Generasional: Menolak Hustle Culture
Foto: ASBILL
Meskipun perusahaan menuntut fokus pada pencapaian dan pekerjaan, pekerja muda memiliki alasan kuat mengapa mereka lebih memilih keseimbangan hidup.
Menurut Welch, Gen Z melihat bahwa pola kerja “gila-gilaan” yang dianut generasi sebelumnya tidak selalu menjamin kehidupan yang stabil di masa tua. Mereka melihat orang tua mereka mendedikasikan hidup untuk perusahaan, namun berujung terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di usia paruh baya.
“Gen Z pada dasarnya mengatakan, ‘Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Orang tua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun’,” jelas Welch mengilustrasikan pola pikir pekerja muda.
Oleh karena itu, Welch menegaskan bahwa nilai yang dianut Gen Z pada dasarnya tidak salah. Namun, mereka harus menyadari konsekuensinya: mempertahankan prinsip tersebut berarti mereka mungkin akan kesulitan mendapatkan pekerjaan konvensional yang sejalan dengan gelar sarjana mereka. Di sisi lain, perusahaan kini harus berjuang keras memperebutkan 2 persen talenta muda yang sesuai dengan standar korporat.
Tantangan bagi Gen Z tidak hanya datang dari perbedaan budaya kerja, tetapi juga dari kondisi makroekonomi dan disrupsi teknologi.
Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir tahun 2025, tingkat pengangguran untuk lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen. Angka ini 1,5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok usia produktif lainnya.
Peningkatan angka pengangguran ini sangat dipengaruhi oleh perubahan struktural di dalam perusahaan dan adopsi masif teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang mulai menggantikan posisi-posisi tingkat pemula (entry-level).
Menghadapi realita ini, para lulusan baru disarankan untuk lebih pragmatis. Mereka didorong untuk membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan dan tidak hanya terpaku pada jalur karier yang secara kaku mengikuti jurusan saat kuliah.
Margin Tergerus Biaya Admin, Banyak Seller Berpaling ke Website Sendiri
Banyak seller beralih dari marketplace ke website sendiri, kenapa? (Sumber: Freepik)
Lanskap e-commerce di Indonesia tengah mengalami transformasi fundamental. Jika sebelumnya marketplace dianggap sebagai kanal distribusi tunggal yang paling efisien, kini tren Direct-to-Consumer (D2C) melalui website mandiri kembali mencuat sebagai strategi krusial bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Melansir dari Kumparan, Fadhila Maulida, peneliti dari Center of Digital Economy and SMEs INDEF, menyoroti adanya perubahan struktur ekonomi digital di Indonesia.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah penjual saat ini melaju jauh lebih cepat dibandingkan tingkat pertumbuhan permintaan. Ketimpangan ini menciptakan saturasi pasar yang memaksa para pelaku usaha untuk berpikir lebih taktis dalam mengelola margin dan loyalitas pelanggan.
Jebakan Biaya Tersembunyi di Platform Marketplace
Selama ini, marketplace menawarkan kemudahan akses pasar secara instan. Namun, ada banyak elemen biaya yang sering kali tidak disadari oleh para seller. Mulai dari biaya iklan internal agar produk tetap terlihat, biaya layanan per kategori, hingga skema logistik yang dinamis.
Bagi banyak pemilik bisnis, akumulasi biaya admin bulanan di platform besar kini justru sering kali melampaui biaya pengelolaan dan pemeliharaan website mandiri.
Hal inilah yang memicu momentum bagi para penjual untuk menghitung ulang efisiensi pengeluaran mereka. Membandingkan biaya potongan transaksi marketplace dengan biaya operasional platform mandiri menjadi langkah yang kian lumrah diambil demi menjaga kesehatan arus kas.
Keunggulan Model Direct-to-Consumer (D2C) melalui Website
Dengan beralih atau menambahkan kanal website sendiri, pelaku bisnis mendapatkan sejumlah keuntungan yang tidak tersedia di platform pihak ketiga:
Kontrol Penuh atas Margin: Tanpa potongan komisi per transaksi yang progresif, bisnis memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk melakukan promosi kreatif atau pengembangan produk.
Kepemilikan Data Pelanggan: Di website sendiri, data pelanggan menjadi aset internal. Bisnis dapat memahami perilaku belanja secara utuh untuk kebutuhan retargeting yang lebih presisi, ketimbang hanya bergantung pada algoritma marketplace.
Penguatan Brand Authority: Website berfungsi sebagai “wajah” profesional sebuah merek. Dalam jangka panjang, hal ini membangun kepercayaan konsumen yang jauh lebih stabil dibandingkan hanya sekadar menjadi salah satu dari ribuan toko di platform publik.
Menghadapi Tantangan Teknis dan Operasional
Meskipun menjanjikan kontrol total, mengelola website mandiri menuntut kesiapan operasional yang lebih matang. Tantangan utamanya adalah membangun trafik dari nol melalui optimasi SEO dan strategi konten. Selain itu, aspek teknis seperti kecepatan akses dan keamanan data menjadi tanggung jawab penuh pemilik bisnis.
Banyak pelaku usaha yang sempat ragu beralih karena kendala teknis e-commerce, seperti integrasi payment gateway atau risiko website yang melambat saat trafik tinggi. Kesadaran akan pentingnya kedaulatan digital membuat tantangan ini kini dipandang sebagai investasi dan bukan lagi beban.
Membangun Fondasi Digital yang Kokoh
Keputusan untuk mulai memanfaatkan website, media sosial, dan sistem D2C secara terintegrasi adalah respon logis terhadap struktur ekonomi digital yang kian kompetitif. Agar transisi ini berjalan optimal, infrastruktur teknis yang digunakan harus memiliki reliabilitas tinggi.
Sebagai solusi untuk meminimalkan kendala teknis tersebut, penggunaan layanan yang stabil seperti WordPress Hostingdari Qwords sangat direkomendasikan.
Dengan dukungan hosting yang dioptimasi khusus untuk kebutuhan e-commerce, pemilik bisnis dapat memastikan websitunya tetap cepat dan aman tanpa harus terbebani oleh urusan maintenance server yang rumit.
Karet Gas Indomaret, Barang Sepele Penyelamat Banyak Orang
Ada yang pernah beli karet gas Indomaret?
Di dunia ini, ada barang-barang yang terlihat sepele, tapi keberadaannya sungguh berharga. Tanpanya, hidup umat manusia akan repot. Salah satu barang yang punya karakteristik semacam itu adalah karet gas. Karet gas berukuran kecil, harganya murah, tapi penting. Tanpanya memasang tabung gas ke regulator bakal repot.
Bagi yang belum tahu, karet gas berfungsi sebagai penyegel agar tidak terjadi kebocoran antara tabung dan regulator. Karet ini menjaga sambungan tetap rapat sehingga gas tidak keluar secara berbahaya. Jika karet rusak atau aus, risiko kebocoran meningkat dan bisa membahayakan keselamatan.
Itu mengapa, keberadaan karet gas penting bagi banyak orang. Jaringan ritel Indomaret melihat peluang ini dan menjualnya di banyak cabang. Sebuah keputusan yang tepat. Saya jadi ingat salah satu pengalaman menjengkelkan ketika pasang gas. Sudah diotak-atik berkali-kali dan gas masih saja “ngowos”. Di tengah kejengkelan ini, saya menemukan karet gas Indomaret. Sekali pasang langsung bisa. Benar-benar produk yang life changing banget.
Harga karet gas Indomaret lebih mahal dari rata-rata, tapi worth it
Di jajaran rak Indomaret, karet gas jadi salah satu item yang harganya paling murah, Rp5.500 untuk satu pak yang berisi 5 karet. Apabila dibandingkan dengan harga karet gas lain di pasaran, karet gas Indomaret memang sedikit lebih mahal. Harganya Rp5.500 untuk 5 karet. Walau sedikit lebih mahal, produk ini sangat layak untuk dibeli. Karetnya berkualitas dan pastinya lebih awet dan bisa dipakai berkali-kali.
Asal tahu saja, menemukan karet gas yang berkualitas itu penting supaya proses menyambungkan gas ke regulator tidak jadi aktivitas yang buang-buang energi dan waktu. Sebab, kalau kualitasnya jelek, perlu berkali-kali percobaan agar gas tidak “ngowos” atau berbunyi. Nah, karet gas Indomaret ini beda, sekali pasang langsung klik. Kita bisa memasangnya tanpa keringatan dan tentu saja lebih aman.
Coba deh kalian yang gas di rumahnya sering “ngowos” ganti ke karet Indomaret satu ini. Jangan sampai persoalan gas “ngowos” berbuntut panjang dan menjadi sumber konflik rumah tangga seperti yang banyak terjadi.
Bagi yang belum tahu, karet gas yang dijual di Indomaret itu bukan dari privat label Indomaret ya, tapi merek Kenmaster. Merek ini memang terkenal akan perkakas dan peralatan rumah tangga yang memang berkualitas.
Indomaret selalu jadi solusi di tengah keresahan hidup
Keberadaan karet gas di tengah rak barang sesungguhnya menegaskan posisi Indomaret sebagai minimarket yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Semua barang yang tidak pernah terpikir kita membutuhkannya, ternyata dijual di sana. Salah satu tulisan di Terminal Mojok pernah membahasnya dalam 5 Barang yang Tidak Pernah Saya Sangka Bisa Dibeli di Indomaret.
Apalagi, gerai Indomaret saat ini begitu mudah ditemukan di mana-mana. Setidaknya ada lebih dari 17 ribu gerai tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jadi, kalau karet gas kalian hilang atau rusak, bisa langsung mampir ke salah satu dari ribuan gerai itu.
Karet gas dan banyak produk lain mungkin terdengar barang sepele, tapi dari barang-barang inilah Indomaret bisa bikin pelanggan jadi lebih loyal. Ditambah lagi, barang sepele yang dijual ternyata punya kualitas yang nggak main-main lagi. Pelanggan jadi merasa semakin terbantu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Tes Ishihara, Tes Konyol yang Membunuh Mimpi Banyak Manusia
Tes Ishihara tidak ada ubahnya membunuh mimpi manusia dengan cara yang paling konyol
Selama ini saya kira buta warna itu cuma soal tidak bisa membedakan merah dan hijau. Hal yang terasa sepele, bahkan sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya saya melihat sendiri bagaimana satu kondisi itu cukup untuk menutup satu pilihan. Adik saya gagal masuk jurusan kelistrikan karena dinyatakan mengalami buta warna parsial. Cerita ini sebenarnya sederhana, bahkan terlalu sering terjadi untuk dianggap luar biasa. Tapi justru dari situ, ada satu hal yang terasa janggal: keputusan sebesar itu ditentukan oleh sesuatu yang sangat kecil.
Semua drama ini bermuara pada satu musuh besar: Tes Ishihara. Tes yang isinya kumpulan titik warna yang menyembunyikan angka. Kalau mata kamu bisa menangkap angka di balik titik-titik itu, kamu dianggap “layak” jadi manusia produktif. Kalau tidak? Ya sudah, game over. Di situlah semuanya ditentukan—lulus atau tidak, layak atau tidak, boleh atau tidak. Padahal, bagi kami yang spektrum matanya sedikit berbeda, tes ini bukan sekadar tes kesehatan, tapi algojo yang siap memenggal cita-cita dalam hitungan detik.
Pertanyaannya sederhana: apa hubungannya kemampuan seseorang dengan profesi yang dia pilih, dengan kemampuannya membaca angka samar di antara titik-titik warna?
Apa relevansinya?
Kalau ini soal pekerjaan yang benar-benar bergantung pada warna secara presisi, argumennya masih bisa diterima. Tapi apakah semua yang masuk jurusan tersebut akan berakhir di posisi itu? Apakah seluruh proses belajar di sana sepenuhnya bergantung pada kemampuan melihat warna dalam format seperti itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memakai satu alat ukur yang sama untuk semua orang, tanpa benar-benar peduli apakah alat itu relevan atau tidak?
Masalahnya bukan pada tesnya, tapi pada cara sistem kita memperlakukannya. Tes seperti Ishihara awalnya dibuat untuk mendeteksi kondisi penglihatan, bukan untuk menjadi penentu mutlak masa depan seseorang. Tapi dalam praktiknya, tes ini sering dipakai seperti gerbang mutlak: sekali gagal, selesai. Seakan tidak ada ruang untuk penerimaan lagi.
Bayangkan, adik saya yang mungkin sudah khatam soal arus AC/DC dan paham skema rangkaian listrik, harus pulang dengan tangan hampa cuma karena matanya gagal mengenali angka “74” di balik tumpukan warna yang mirip tumpahan sambal kacang. Apakah kabel listrik di lapangan dibuat dalam bentuk titik-titik samar seperti tes itu? Tentu tidak. Kabel itu nyata, punya label, punya tekstur, dan punya posisi. Tapi birokrasi pendidikan kita tampaknya terlalu malas untuk membuat penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi.
Dan yang lebih aneh, kita jarang mempertanyakan itu. Padahal ini bukan cuma soal kelistrikan. Banyak bidang lain yang menerapkan hal yang sama, bahkan yang tidak selalu membutuhkan ketepatan warna seperti yang dibayangkan. Semua diminta ikut tes Ishihara, padahal jurusannya nggak ada urusannya dengan warna. Maksudnya, untuk apa anak Sastra diminta ikut tes seperti itu?
Dari sini dampaknya mulai terasa. Banyak orang bukan benar-benar gagal karena bodoh, mereka hanya dipaksa berbelok karena matanya nggak cocok sama “standar” yang kaku. Banyak mimpi yang gagal karena tes Ishihara, yang mungkin tak relevan, atau bahkan tak logis digunakan.
Di titik ini, rasanya wajar kalau muncul pertanyaan: apakah memang tidak ada cara lain? Apakah kemampuan seseorang harus selalu diukur dari pola titik-titik warna seperti itu?
Mimpi terkubur karena tes Ishihara
Sebenarnya, opsinya bukan tidak ada. Penilaian bisa dibuat lebih kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan bidangnya. Bisa lewat simulasi langsung, bisa dengan alat bantu digital yang sudah sangat masif di tahun 2026 ini, atau setidaknya ada tahap lanjutan sebelum keputusan benar-benar ditutup.
Karena yang dibutuhkan dunia kerja sebenarnya bukan sekadar kemampuan melihat warna, tapi kemampuan bekerja, memahami risiko, dan beradaptasi. Dan itu semua tidak selalu bisa diwakili oleh satu lembar gambar berisi titik-titik peninggalan zaman dulu.
Masalahnya, sistem kita sering memilih cara paling mudah: menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi hitam-putih. Lulus atau tidak, boleh atau tidak. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu. Banyak orang mungkin tidak lolos bukan karena tidak mampu secara intelegensi, tapi karena tidak cocok dengan cara sistem mengukurnya. Dan itu dua hal yang berbeda, tapi sering diperlakukan sama oleh para pengambil kebijakan yang kurang piknik soal isu inklusivitas.
Yang hilang bukan cuma satu pilihan bagi adik saya, tapi banyak rencana anak bangsa yang akhirnya disesuaikan, bukan diwujudkan. Selama tes Ishihara ini masih dianggap cukup untuk menentukan segalanya tanpa ada ruang debat, maka cerita seperti ini akan terus berulang. Kita kehilangan banyak talenta hanya karena kita malas menggunakan sesuatu yang lebih terukur, dan memilih menyederhanakan semuanya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.