Mensos Buka Suara Soal Bansos Tepat Sasaran: BPS Penentu, Bukan Kepala Daerah!
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan penentuan desil DTSEN untuk bantuan sosial adalah kewenangan BPS, bukan pendamping PKH. Pendamping PKH bertugas memutakhirkan data riil warga agar bantuan sosial tepat sasaran. Desil merupakan pengelompokan 10 tingkat kesejahteraan masyarakat yang menjadi acuan program kebijakan.
Prabowo Beri Peringatan Keras ke Ketua DPRD: Persatuan Mutlak, Beda Partai Bukan Alasan!
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya persatuan bangsa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pernyataan ini disampaikan pada pengarahan Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah bagi Ketua DPRD Seluruh Indonesia di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4). Prabowo menekankan, perbedaan latar belakang suku, pendidikan, dan profesi bukanlah penghalang bagi kesatuan.
Bukan Sekadar Papan Tulis: Guru Bogor Ungkap Papan Digital Interaktif Ubah Murid Malas Jadi Rajin
Papan digital interaktif meningkatkan antusiasme belajar siswa dan kehadiran di SDN 02/03 Leuwibatu, Rumpin, Bogor. Guru kelas 6 Acep Zainal Mutakin melaporkan siswa lebih aktif serta tingkat kehadiran mencapai 100%. Teknologi pendidikan ini mendukung digitalisasi pembelajaran, memudahkan guru, dan siswa memahami materi lebih cepat.
Bukan Manja, Anak Bungsu: Dilema Pahit Antara Meraih Cita
Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh orang tuanya. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka.
Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema.
Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.
Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua
Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya pasangan, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri.
Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing.
Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah!
Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi!
Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa
Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan banyak yang masih jauh dari UMR. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan.
Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya!
Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua.
Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita
Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya.
Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!
Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Kopdes Merah Putih: Bukan Sekadar Angka, 97% Keuntungan Nyata Milik Masyarakat Desa
Pemerintah akan membangun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk menggerakkan perekonomian dan memberdayakan masyarakat desa/kelurahan. KDKMP, milik masyarakat, dikelola profesional dan transparan. Keuntungan 97% dibagikan kepada anggota. KDKMP juga mempersingkat rantai distribusi barang pokok serta menyalurkan barang subsidi seperti LPG dan pupuk secara tepat sasaran.
Bukan Sekadar Healing: Jateng Pacu Produksi Daging, Ini Dampak Ekonominya!
SRAGEN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan produksi daging ternak terbebas dari penyakit. Untuk memperkuat hal tersebut, dilakukan jemput bola layanan kesehatan ternak melalui program Kesehatan Hewan Keliling atau Healing.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, populasi hewan ternak di Jateng menyentuh angka 6 juta ekor. Selain mencukupi kebutuhan hewani di 35 kabupaten/ kota, produksi daging, telur, dan susu dari Jateng, juga mampu berkontribusi bagi ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, program Healing memberi layanan pengobatan, vaksinasi, hingga pemeriksaan kebuntingan secara gratis. Layanannya juga memberikan bantuan pakan bagi ternak terdampak bencana, serta menggunakan alat canggih seperti ultrasonografi mobile.
“Kita melakukan pengecekan karena sebentar lagi Idul Adha. Populasi ternak Provinsi Jawa Tengah mencapai 6,3 juta ekor. Artinya besar sekali. Kami tidak ingin ditemukan penyakit-penyakit ternak,” ucap Luthfi, di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Rabu (15/4/2026).
Terkait produksi daging, gubernur menyebut, Jawa Tengah mampu memenuhi pasar lokal. Data produksi daging pada 2024 berkontribusi sebesar 18,83 persen terhadap kebutuhan nasional atau peringkat kedua nasional. Sementara itu, telur menyokong 13,1 persen kebutuhan nasional, dan susu berkontribusi 9,4 persen.
“Swasembada daging di Provinsi Jawa Tengah sangat mencukupi. Bahkan, penyembelihan di provinsi lain, di tempat kita. Meski kalkulasi dari peternak menurun, tapi tidak mempengaruhi kebutuhan daging di tempat kita,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Defransisco Dasilva Tavares mengamini. Menurutnya, untuk kebutuhan Iduladha, konsumsi daging di Jawa Tengah diperkirakan sekitar sembilan persen dari total populasi ternak.
Sementara itu, untuk kebutuhan harian, pihaknya telah memperhitungkan kecukupan suplai, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia mengatakan, produksi unggas saja berada pada kisaran 732 juta ekor.
Karena itu, program Healing berupaya memperkuat penanganan penyakit ternak. Tercatat, penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jateng kian terkendali, dengan total kasus sebanyak 10 ekor, dan telah ditangani oleh tenaga medis.
“Untuk Iduladha saja, saya menghitung kurang lebih 9 persen dari sekitar 6,3 juta total populasi. Untuk kebutuhan sehari-hari sudah kami antisipasi, termasuk MBG dan SPPG, semuanya sudah dihitung. Jateng itu over suplai, unggas saja punya 732 juta ekor,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pihaknya juga mendorong kemitraan para peternak dengan berbagai pihak yang membutuhkan. Dengan demikian, kondisi tersebut mampu memberi nilai tambah bagi ekosistem peternakan di Jawa Tengah.
Peternak Desa Krikilan, Agus Kiswanto, mengapresiasi program Healing. Menurutnya, hal ini membantunya menyehatkan ternak, terlebih menjelang Iduladha.
“Harapannya, sering-sering ada program seperti ini, khususnya untuk sapi dan kambing. Biar peternak kecil seperti saya bisa terlindungi. Apalagi tahun kemarin ada PMK yang sangat merugikan petani,” pungkasnya. (Pd/Ul, Diskomdigi Jateng)
Bukan Sekadar Janji: Program Konkret Pemprov Jateng Perkuat Pembangunan Keluarga
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana melalui program Bangga Kencana. Rakorda di Semarang membahas implementasi program ini. Tujuannya menciptakan sumber daya manusia unggul. Inisiatif seperti Genting, Sidaya, GATI, dan Tamasya diimplementasikan untuk mendukung keluarga.
Ekonomi Indonesia Tetap Perkasa di Tengah Gelojak Global, Bukan Lagi Era 1998.
Ekonomi Indonesia tangguh di tengah gejolak global, jauh dari krisis 1998. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan 5,3% (2026), tertinggi kedua G20. Defisit anggaran rendah di bawah 3%. Bloomberg menyebut kemungkinan resesi Indonesia hanya 5%. Ketahanan ditopang ekonomi domestik kuat dan APBN terkendali.
Purnatugas dari MK, Anwar Usman: Putusan Nomor 90 Bukan Pintu Buat Gibran, demi Anak Muda
loading…
Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman berbicara terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023. Foto/SindoNews
JAKARTA – Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman berbicara terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang sempat mengundang polemik dalam kontestasi Pilpres 2024. Ia mengatakan, putusan itu bukan merupakan “pintu” bagi keponakannya, Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden.
Hal itu disampaikan Anwar Usman usai menjalani wisuda purnabakti di Gedung MK, Jakarta, Senin (13/4/2026). Ia menyebut adanya kesalahan persepsi publik yang mengaitkan putusan tersebut secara eksklusif dengan sosok Gibran. Menurutnya, putusan tersebut ditujukan untuk memberikan ruang bagi seluruh anak muda di Indonesia.
“Lho nggak, nggak, nggak itu bukan pintu untuk Gibran. Untuk semua anak muda. Nah itulah kesalahan persepsi,” tegas Anwar Usman.
Anwar Usman menyatakan bahwa ia menjatuhkan putusan tersebut atas dasar keyakinan untuk kebenaran dan keadilan yang dianggapnya sebagai amanah Allah.
Anwar Usman membantah adanya konflik kepentingan dalam pengambilan putusan tersebut, seraya merujuk pada pernyataan beberapa pihak terkait fakta hukum yang ada.
Bukan Hanya Sekolah: Anak Orangtua Difabel Raih Pendidikan & Kebutuhan Hidup Gratis di Sekolah Rakyat.
Kuat, seorang difabel 50 tahun dari Sukoharjo, menyampaikan anaknya diterima di Sekolah Rakyat (SR) Dasar 2 Surakarta. SR, program pemerintah, menyediakan pendidikan gratis dan fasilitas lengkap bagi keluarga miskin. Ini adalah upaya memutus rantai kemiskinan. Pemerintah menargetkan 500 SR hingga 2029.