Menlu Singapura Apresiasi Kerja Keras Pemerintah dalam Evakuasi Gunung Dukono
Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengapresiasi upaya keras pemerintah Indonesia dalam mengevakuasi warga negara Singapura yang meninggal dunia maupun selamat dalam erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara, Jumat (8/5). Hal itu disampaikan Vivian usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Sugiono, Selasa (12/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengapresiasi upaya keras pemerintah Indonesia dalam mengevakuasi warga negara Singapura yang meninggal dunia maupun selamat dalam erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara, Jumat (8/5).
Mewakili rakyat Singapura, Vivian juga menyampaikan harapan agar seluruh tim penyelamat Indonesia tetap berada dalam kondisi aman selama proses evakuasi berlangsung.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada tim pencarian dan pertolongan, di mana lebih dari 150 pihak profesional mengambil risiko tinggi di tengah gunung berapi yang masih erupsi dan di tengah cuaca yang kurang baik,” ujar Vivian usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Sugiono, Selasa (12/5).
Lebih lanjut, Vivian menilai respons cepat dan upaya keras pemerintah Indonesia mencerminkan eratnya hubungan kedua negara. Menurutnya, proses penyelamatan tersebut menunjukkan naluri alami kedua negara untuk saling membantu dan melindungi pada masa krisis.
“Jadi, terima kasih banyak. Hal-hal seperti ini tidak dapat dibayar maupun diminta; kita hanya bisa berharap dan mengandalkan kekuatan hubungan di antara kedua negara kita,” lanjut dia.
Sebelumnya, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gunung Dukono erupsi pada Jumat yang melontarkan kolom abu vulkanis setinggi 10 kilometer (km) dan disertai dentuman lemah hingga kuat.
Pascaperistiwa tersebut, BNPB mencatat bahwa 15 pendaki ditemukan dalam keadaan selamat, yang terdiri dari tujuh warga negara Singapura dan delapan Warga Negara Indonesia (WNI). Sementara itu, tim SAR gabungan juga telah mengevakuasi jenazah tiga korban jiwa, yang terdiri dari satu WNI dan dua warga negara Singapura. (her/dav)
3 Perilaku Pendaki Gunung Lawu yang Bikin Geleng-geleng
Beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Basecamp Gunung Lawu via Cemoro Sewu untuk menggarap sebuah proyek film dokumenter. Di sana, saya bertemu sama dua orang rangers yang udah sangat kenal sama seluk-beluk gunung ini.
Sambil menyeruput kopi, kami ngobrol banyak hal, mulai dari kondisi alam Lawu, urusan biaya retribusi, sampai cerita-cerita di balik layar yang jarang diketahui oleh publik.
Namun, di sela obrolan santai itu, terselip nada keresahan soal perilaku pendaki yang sering kali bikin mereka geleng-geleng kepala. Ternyata, nggak semua orang datang ke Lawu dengan persiapan dan etika yang benar. Nah, berikut adalah tiga kelakuan pendaki yang paling meresahkan menurut mereka. Simak baik-baik, siapa tahu kamu salah satunya!
Modal FOMO tapi nggak ada persiapan
Pertama, FOMO. Akhir-akhir ini, tren ikut-ikutan eman lagi hangat jadi perbincangan di dunia pendakian. Ada jalur baru atau spot foto bagus yang viral, pasti beberapa pendaki langsung penasaran dan berbondong-bondong datang. Saat saya ngobrol bersama rangers, sebenarnya mereka nggak begitu mempermasalahkan tren ini. Toh bisa berdampak baik karena akan banyak pendaki yang mampir ke Gunung Lawu dan otomatis berdampak juga pada pemasukan basecamp.
“Ora popo mas FOMO, asal ono persiapan,” kata salah satu rangers. Nah inilah yang jadi masalah. Banyak pendaki FOMO, khususnya para pemula, yang mendaki cuma modal ikut-ikutan tanpa pemahaman dasar sama sekali. Mereka cenderung meremehkan medan Lawu dan nekat naik hanya dengan perlengkapan seadanya.
Buktinya, para rangers masih sering lo menemukan pendaki yang nggak membawa jaket, mantel, sleeping bag, bahkan obat-obatan pribadi. Akhirnya, jika ditemukan pendaki nekat seperti ini, mereka biasanya diwajibkan menyewa perlengkapan di lokasi demi keselamatan mereka sendiri.
Masih minimnya kesadaran untuk menjaga alam Gunung Lawu
Sebagai sebuah gunung, tentu kita tau kalau Lawu masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Vegetasi di sini masih rimbun, satwanya pun juga masih beragam. Tentu sebagai tamu, pendaki juga punya kewajiban untuk menjaga itu semua. Namun, realitas di lapangan sering kali bertolak belakang.
Menurut penjelasan rangers, di jalur Cemoro Sewu masih marak oknum pendaki yang membuang sampah sembarangan atau melakukan vandalisme. Sampah sachet hingga botol plastik masih sering mereka temukan di jalur pendakian. Belum lagi aksi menempel stiker komunitas di plang pos pendakian atau di batu. Ayolah, menempel stiker itu sama sekali nggak keren. Alih-alih bikin komunitasmu dikenal, kalian justru hanya akan merusak estetika alam Lawu.
Soal sampah pun harusnya udah jadi hal yang paling sederhana buat dipahami nggak sih. Kalian pasti udah tau kan kalau sampah plastik butuh puluhan bahkan ratusan tahun buat terurai?
Ingat lo kawan-kawan, selama sampah kalian masih belum terurai, itu akan jadi dosa jariyah buat kalian. Karena apa? Karena tindakan kalian hanya akan merusak alam dan merepotkan petugas yang harus memungutnya.
Hobi meninggalkan teman yang kelelahan
Terakhir, ini adalah kebiasaan yang paling sulit diterima oleh akal sehat. Saya sendiri pernah mendaki, dan saya tetap nggak habis pikir dengan orang yang tega meninggalkan temannya. Biasanya sih alasannya karena temannya jalannya lambat atau kelelahan ya. Apa mereka nggak takut ya kalau temannya kenapa-napa?
Benar kata pepatah, “Jika ingin melihat sifat asli manusia, ajaklah mendaki”. Di gunung, sifat egois seseorang akan terlihat jelas. Ya, contohnya masalah ini. Hal ini juga jadi keluhan para rangers. Tak jarang, mereka menemui rombongan yang jumlahnya nggak lengkap saat pendaki turun. Naik lima orang, turun cuma tiga orang. Bahkan saat ditanya temannya di mana, dengan santainya mereka menjawab temannya ditinggal di pos A atau pos B karena lelet atau kelelahan. Gila-gila, saat menceritakan ini aja para rangers cuma bisa tarik nafas panjang lo.
Itulah tiga perilaku pendaki Gunung Lawu yang bikin ranger Cemoro Sewu sampai geleng-geleng kepala. Ingat kawan, gunung bukan tempat bermain yang bisa kalian sepelekan. Apa pun yang kalian lakukan atau tinggalkan, semua akan berbalik ke kalian. Entah itu dalam bentuk lanskap alam yang menawan atau justru kesialan.
Jadi, jangan korbankan keindahan Lawu dengan membuang sampah sembarangan atau vandalisme hanya demi keegoisan kalian sendiri. Ingat prinsip pecinta alam,”Jangan ambil apa pun selain foto, jangan bunuh apa pun selain waktu, dan jangan tinggalkan apa pun selain jejak.” Ingat-ingat kata-kata itu!
Kalau emang FOMO, ya silakan, tapi ya harus dibarengi dengan persiapan dan pemahaman yang matang. Pun Jangan malah meninggalkan kawan kalian. Belajarlah dari kasus-kasus orang hilang di Gunung Lawu atau gunung lainnya, agar kalian nggak jadi korban berikutnya. Salam lestari!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
3 Perilaku Pendaki Gunung Lawu yang Bikin Penjaga Basecamp Angkat Bicara: Pengakuan Eksklusif
Beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Basecamp Gunung Lawu via Cemoro Sewu untuk menggarap sebuah proyek film dokumenter. Di sana, saya bertemu sama dua orang rangers yang udah sangat kenal sama seluk-beluk gunung ini.
Sambil menyeruput kopi, kami ngobrol banyak hal, mulai dari kondisi alam Lawu, urusan biaya retribusi, sampai cerita-cerita di balik layar yang jarang diketahui oleh publik.
Namun, di sela obrolan santai itu, terselip nada keresahan soal perilaku pendaki yang sering kali bikin mereka geleng-geleng kepala. Ternyata, nggak semua orang datang ke Lawu dengan persiapan dan etika yang benar. Nah, berikut adalah tiga kelakuan pendaki yang paling meresahkan menurut mereka. Simak baik-baik, siapa tahu kamu salah satunya!
Modal FOMO tapi nggak ada persiapan
Pertama, FOMO. Akhir-akhir ini, tren ikut-ikutan eman lagi hangat jadi perbincangan di dunia pendakian. Ada jalur baru atau spot foto bagus yang viral, pasti beberapa pendaki langsung penasaran dan berbondong-bondong datang. Saat saya ngobrol bersama rangers, sebenarnya mereka nggak begitu mempermasalahkan tren ini. Toh bisa berdampak baik karena akan banyak pendaki yang mampir ke Gunung Lawu dan otomatis berdampak juga pada pemasukan basecamp.
“Ora popo mas FOMO, asal ono persiapan,” kata salah satu rangers. Nah inilah yang jadi masalah. Banyak pendaki FOMO, khususnya para pemula, yang mendaki cuma modal ikut-ikutan tanpa pemahaman dasar sama sekali. Mereka cenderung meremehkan medan Lawu dan nekat naik hanya dengan perlengkapan seadanya.
Buktinya, para rangers masih sering lo menemukan pendaki yang nggak membawa jaket, mantel, sleeping bag, bahkan obat-obatan pribadi. Akhirnya, jika ditemukan pendaki nekat seperti ini, mereka biasanya diwajibkan menyewa perlengkapan di lokasi demi keselamatan mereka sendiri.
Masih minimnya kesadaran untuk menjaga alam Gunung Lawu
Sebagai sebuah gunung, tentu kita tau kalau Lawu masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Vegetasi di sini masih rimbun, satwanya pun juga masih beragam. Tentu sebagai tamu, pendaki juga punya kewajiban untuk menjaga itu semua. Namun, realitas di lapangan sering kali bertolak belakang.
Menurut penjelasan rangers, di jalur Cemoro Sewu masih marak oknum pendaki yang membuang sampah sembarangan atau melakukan vandalisme. Sampah sachet hingga botol plastik masih sering mereka temukan di jalur pendakian. Belum lagi aksi menempel stiker komunitas di plang pos pendakian atau di batu. Ayolah, menempel stiker itu sama sekali nggak keren. Alih-alih bikin komunitasmu dikenal, kalian justru hanya akan merusak estetika alam Lawu.
Soal sampah pun harusnya udah jadi hal yang paling sederhana buat dipahami nggak sih. Kalian pasti udah tau kan kalau sampah plastik butuh puluhan bahkan ratusan tahun buat terurai?
Ingat lo kawan-kawan, selama sampah kalian masih belum terurai, itu akan jadi dosa jariyah buat kalian. Karena apa? Karena tindakan kalian hanya akan merusak alam dan merepotkan petugas yang harus memungutnya.
Hobi meninggalkan teman yang kelelahan
Terakhir, ini adalah kebiasaan yang paling sulit diterima oleh akal sehat. Saya sendiri pernah mendaki, dan saya tetap nggak habis pikir dengan orang yang tega meninggalkan temannya. Biasanya sih alasannya karena temannya jalannya lambat atau kelelahan ya. Apa mereka nggak takut ya kalau temannya kenapa-napa?
Benar kata pepatah, “Jika ingin melihat sifat asli manusia, ajaklah mendaki”. Di gunung, sifat egois seseorang akan terlihat jelas. Ya, contohnya masalah ini. Hal ini juga jadi keluhan para rangers. Tak jarang, mereka menemui rombongan yang jumlahnya nggak lengkap saat pendaki turun. Naik lima orang, turun cuma tiga orang. Bahkan saat ditanya temannya di mana, dengan santainya mereka menjawab temannya ditinggal di pos A atau pos B karena lelet atau kelelahan. Gila-gila, saat menceritakan ini aja para rangers cuma bisa tarik nafas panjang lo.
Itulah tiga perilaku pendaki Gunung Lawu yang bikin ranger Cemoro Sewu sampai geleng-geleng kepala. Ingat kawan, gunung bukan tempat bermain yang bisa kalian sepelekan. Apa pun yang kalian lakukan atau tinggalkan, semua akan berbalik ke kalian. Entah itu dalam bentuk lanskap alam yang menawan atau justru kesialan.
Jadi, jangan korbankan keindahan Lawu dengan membuang sampah sembarangan atau vandalisme hanya demi keegoisan kalian sendiri. Ingat prinsip pecinta alam,”Jangan ambil apa pun selain foto, jangan bunuh apa pun selain waktu, dan jangan tinggalkan apa pun selain jejak.” Ingat-ingat kata-kata itu!
Kalau emang FOMO, ya silakan, tapi ya harus dibarengi dengan persiapan dan pemahaman yang matang. Pun Jangan malah meninggalkan kawan kalian. Belajarlah dari kasus-kasus orang hilang di Gunung Lawu atau gunung lainnya, agar kalian nggak jadi korban berikutnya. Salam lestari!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Jateng Siaga Bencana: Mitigasi Gunung Api Diperkuat, Keselamatan Warga Jadi Kunci Utama
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmen keselamatan masyarakat menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Slamet. PVMBG mencatat kenaikan suhu kawah hingga 460 derajat Celsius dan gempa frekuensi rendah. Radius bahaya ditingkatkan menjadi 3 kilometer, meski status Gunung Slamet Level II (Waspada). Sosialisasi mitigasi bencana geologi terus dilakukan.
Terobosan Pemprov Jateng: Cetak Pemandu Gunung Profesional, Pacu Peluang Kerja Sektor Pariwisata
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka peluang kerja dengan pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG). Disnakertrans Jateng menyelenggarakan program ini untuk meningkatkan kompetensi pemandu sesuai SKKNI. Sebanyak 16 peserta mengikuti praktik lapangan di Gunung Ungaran. Pelatihan didukung APGI dan LSP BNSP, guna menangkap potensi pariwisata gunung yang sangat besar di Jawa Tengah.
Gebrak Sport Tourism Jateng: Sekda Lepas Ratusan Pelari Taklukkan Gunung Ungaran
Semarang Mountain Race 2026 resmi dimulai 11 April di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Sekda Jateng Sumarno melepas ratusan pelari kategori 50K dan 82K. Ajang ini mendukung pengembangan sport tourism serta promosi gaya hidup sehat di Jawa Tengah. Event ini juga terafiliasi ITRA.
Rumah Dekat Gunung: Ilusi Damai yang Dihancurkan Ular, Monyet, dan Ancaman Satwa Liar Lainnya
Tinggal di rumah dekat gunung tak selalu romantis. Penduduk terbiasa berbagi ruang dengan hewan liar seperti ular, monyet, dan biawak. Kehidupan ini menuntut kewaspadaan tinggi serta pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan pemilik tunggal alam sekitar.