LOMBOK INSIDER – Rencana peningkatan batas investasi saham bagi industri asuransi dan dana pensiun dari kisaran satu digit menjadi hingga 20% per emiten dinilai dapat memperluas fleksibilitas pengelolaan portofolio. Namun, kebijakan tersebut harus ditempatkan secara ketat dalam kerangka tata kelola investasi dan manajemen risiko yang disiplin agar tidak memicu konsentrasi risiko berlebihan di tengah dinamika […]
Prabowo Ajak Jerman Perkokoh Investasi: Kunci Transisi Energi dan Kendaraan Listrik
Presiden RI Prabowo Subianto mengundang Jerman untuk memperluas investasi di sejumlah sektor strategis di Indonesia, mulai dari transisi energi hingga kendaraan listrik. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6). (Foto Dok. Bakom RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto mengundang Jerman untuk memperluas investasi di sejumlah sektor strategis di Indonesia, mulai dari transisi energi hingga kendaraan listrik.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6).
Undangan tersebut sejalan dengan upaya Indonesia untuk mempercepat industrialisasi dan memperkuat kerja sama antara kedua negara yang telah terjalin selama 75 tahun.
“Indonesia juga mengundang pihak Jerman untuk memperluas investasi di sektor-sektor yang penting di Indonesia,” ujar Prabowo, Senin (15/6).
Ia kemudian mencontohkan sejumlah sektor strategis yang berpotensi menarik minat investor Jerman, seperti energi baru dan terbarukan (EBT), hilirisasi industri, semikonduktor, dan industri kendaraan listrik, seiring upaya Indonesia memperluas penggunaan kendaraan listrik.
Di samping itu, Prabowo juga mengundang Jerman untuk terlibat dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis dan unsur tanah jarang guna mendukung pembangunan industri domestik.
Menurutnya, Indonesia perlu menjalin kemitraan yang erat dengan Jerman karena negara tersebut memiliki peran ekonomi yang sangat kuat di Eropa.
“Kami butuh kemitraan yang baik dengan Jerman dan dengan Eropa. Kunjungan Presiden Jerman kali ini adalah tanda bahwa hubungan itu sangat penting,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Steinmeier mengungkapkan bahwa Jerman selama ini memandang Indonesia tidak hanya memiliki potensi pasar yang besar, tetapi juga daya tarik investasi yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran sejumlah perusahaan Jerman yang tetap setia beroperasi di Indonesia, seperti Siemens dan Daimler.
Ia melanjutkan, untuk memperkuat investasi Jerman di Indonesia, Jerman akan terus mendukung proses ratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA).
Pasalnya, perjanjian tersebut akan membuka peluang investasi baru dari Jerman ke Indonesia, sekaligus mendorong lebih banyak perusahaan kecil dan menengah asal negara tersebut untuk berinvestasi di tanah air.
“Kerja sama ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan Jerman dan Indonesia di bidang inovasi. Yang mulia Bapak Presiden, saya rasa itu menguntungkan bagi kedua belah pihak, bagi kedua negara,” jelas dia. (her/dav)
COO: Danantara Bukan 1MDB, Risiko BUMN dan Investasi Sudah Dipisah
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria menegaskan struktur kelembagaan Danantara dirancang berbeda dengan skema pengelolaan investasi seperti 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Sejak awal pembentukan, Danantara telah menerapkan pemisahan tegas antara pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan aktivitas investasi guna memitigasi risiko. Hal itu dikatakan Dony dalam podcast Bukan Kaleng Kaleng, dikutip Kamis (11/6). (Foto Dok. Istimewa; Podcast Bukan Kaleng Kaleng)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria menegaskan struktur kelembagaan Danantara dirancang berbeda dengan skema pengelolaan investasi seperti 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Sejak awal pembentukan, Danantara telah menerapkan pemisahan tegas antara pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan aktivitas investasi guna memitigasi risiko.
Dony mengatakan kekhawatiran sebagian masyarakat yang membandingkan Danantara dengan 1MDB muncul karena adanya konsolidasi aset BUMN yang disertai fungsi investasi dalam satu entitas. Namun, ia menegaskan Danantara telah didesain dengan mekanisme tata kelola yang berbeda melalui pemisahan fungsi pengelolaan aset dan investasi.
“Dari awal mendesain Danantara, (kita) itu sudah berpikir harus terjadi pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi. Karena yang namanya investasi itu bisa gagal, bisa menghasilkan,” kata Dony dalam podcast Bukan Kaleng Kaleng, dikutip Kamis (11/6).
Menurutnya, tanpa pemisahan tersebut, kegagalan investasi berpotensi berdampak langsung terhadap kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
“Anda bisa bayangkan kalau kemudian kita berinvestasi dan investasinya gagal, bisa menyeret BUMN-nya. Karena itu dari awal kita sudah mendesain itu, kita pecah,” ujar Dony.
Dony menjelaskan Danantara memiliki dua pilar utama. Pertama, Danantara Asset Management yang berfungsi sebagai konsolidator dan pengelola portofolio BUMN.
Kedua, Danantara Investment Management yang berperan sebagai lengan investasi untuk menempatkan dana pada proyek-proyek produktif.
“Danantara Asset Management sebagai konsolidator BUMN-BUMN, dan Danantara Investment Management sebagai investment arm-nya,” lanjutnya.
Pengelolaan BUMN jadi kunci
Ia menambahkan, sumber dana yang digunakan untuk investasi bukan berasal dari aset pokok BUMN, melainkan dari dividen yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara yang berada di bawah pengelolaan Danantara Asset Management.
“Yang diinvestasikan adalah dividen. Jadi, dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management diinvestasikan untuk hal yang produktif, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Dony.
Karena itu, Dony menekankan keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kualitas pengelolaan BUMN. Semakin baik kinerja perusahaan-perusahaan negara, semakin besar pula dividen yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Artinya apa? Pengelolaan BUMN ini menjadi kata kunci utama untuk keberlanjutan Danantara. Kalau kita keliru mengelola BUMN-nya, Danantara-nya pasti gone. Karena kunci yang diinvestasikan adalah hasil pengelolaan BUMN-nya,” kata dia. (her/dav)
Semarang Menuju Pusat Investasi Hijau: Proyek Rp3 Triliun Walikota Agustina Kebanjiran Peminat
loading…
Proyek Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) Semarang Raya di TPA Jatibarang
SEMARANG – Komitmen Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi semakin mendapatkan pengakuan. Salah satu buktinya adalah tingginya minat investor global terhadap proyek Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) Semarang Raya di TPA Jatibarang yang nilai investasinya mencapai Rp3 triliun.
Sebanyak 85 investor dari berbagai negara tercatat menunjukkan ketertarikan terhadap proyek strategis tersebut. Bahkan, pada Kamis (4/6), sebanyak enam perusahaan melakukan kunjungan langsung ke lokasi PSEL Semarang Raya untuk meninjau lokasi proyek. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah seiring rencana kunjungan investor lainnya pada 8 Juni 2026 mendatang.
Tingginya minat investor tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan terhadap kesiapan Kota Semarang dalam mengembangkan proyek pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang mendukung transisi menuju energi bersih.
Agustina menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional semata. Menurutnya, diperlukan lompatan inovasi agar sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari transformasi sebuah kota. Kota Semarang ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat,” tegas Agustina Rabu (3/6).
Dzulfikar Rezky Investment Specialist dan Direktur Citra Wisesa Energi
KABUPATEN Banyuasin sedang memasuki fase penting dalam peta investasi Sumatera Selatan. Selama ini, Banyuasin hanya dipandang sebagai wilayah penyangga Palembang, lumbung pangan, dan sekedar jalur lintasan ekonomi bukan pusat ekonomi. Pandangan itu tidak sepenuhnya keliru, Banyuasin telah melaju menuju simpul baru bagi investasi energi, logistik, hilirisasi, properti, dan utilitas kawasan.
Investor sejatinya tidak hanya tergiur pada sumber daya alam. Kita mencari kepastian arah, konektivitas, dukungan kebijakan, pasar, dan ekosistem yang memungkinkan modal tumbuh. Banyuasin mulai menunjukkan arah pembangunan yang semakin konkret. Bumi Sedulang Setudung memiliki kombinasi yang cukup kuat untuk menjadi destinasi titik baru investasi di Sumatera Selatan.
DKI Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jawa Timur dengan Pelabuhan Tanjung Perak, Sumatera Selatan dengan Pelabuhan Tanjung Carat. Meskipun agak berlebihan, proyek di Tanjung Carat penting bukan hanya tentang pembangunan pelabuhan, tetapi juga tentang pembentukan pusat ekonomi baru. Dengan pertimbangan kedekatan kawasan terhadap sumber komoditas, infrastruktur logistik, dan pasokan energi, Tanjung Carat segera disulap menjadi kawasan ekonomi khusus hilirisasi. Tanjung Carat telah berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Status PSN Tanjung Carat melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 ini menjadi sinyal penting bagi investor. Artinya, Tanjung Carat bukan sekadar agenda lokal, melainkan bagian dari prioritas pembangunan nasional. Arah pengembangan menuju Kawasan Ekonomi Khusus memberi pesan bahwa kawasan ini tidak hanya akan menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga diarahkan sebagai ruang pengolahan.
Bailey, Gray, Lee, dan Bentley (2023) dalam Place-Based Industrial and Regional Strategy: Levelling the Playing Field menjelaskan strategi industri modern tidak cukup hanya berbasis sektor, tetapi harus ditambahkan pada kekuatan spesifik suatu wilayah, yakni aset lokal, konektivitas, kapasitas kelembagaan, dan peluang pasar. Pendekatan place-based industrial policy relevan untuk membaca arah pembangunan Banyuasin dengan ketersediaan sumber daya yang mumpuni membentuk ekosistem kawasan berbasis pelabuhan, energi, komoditas, dan hilirisasi.
Dengan kerangka tersebut, Banyuasin menempati posisi strategis sebagai titik baru investasi Sumatera Selatan dengan Tanjung Carat yang berperan sebagai jangkar kawasan. Potensi energi menjadi daya dukung industri, sawit dan komoditas lokal menjadi basis hilirisasi, logistik dan pergudangan menjadi sektor penghubung, sementara properti dan utilitas menjadi sektor ikutan yang tumbuh seiring masuknya aktivitas ekonomi. Artinya, investasi di Banyuasin dapat membentuk rantai nilai yang saling menguatkan dan terintegrasi satu sama lain.
Dari sisi energi, Banyuasin memiliki prospek yang tidak kalah menarik dan menggiurkan bagi para investor. Wilayah ini berada dalam ekosistem Sumatera Selatan yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis energi nasional. Ada potensi besar terkait akumulasi minyak pada kedalaman relatif dangkal sekitar 65 meter yang umumnya 150 meter.
Apabila terus dikonfirmasi melalui kajian teknis dan keekonomian yang memadai, dapat menjadi indikasi efisiensi eksplorasi ke depan. Namun potensi energi ini tidak boleh hanya dibaca dalam logika eksploitasi bahan mentah. Nilainya akan jauh lebih besar apabila energi ditempatkan sebagai fondasi bagi industri, logistik, dan kawasan hilirisasi.
Gebrakan Prabowo: Indonesia Siap Kucurkan Investasi Strategis di Ekonomi Kelautan
Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan investasi besar-besaran di ekonomi kelautan. Upaya ini perlu didorong seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani global. Prabowo menilai Indonesia dianugerahi kekayaan laut yang sangat besar. Oleh karena itu, menurutnya, Indonesia tidak hanya harus bersyukur atas potensi tersebut, tetapi juga perlu mengoptimalkannya untuk kesejahteraan masyarakat. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI
Gorontalo, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan investasi besar-besaran di ekonomi kelautan. Upaya ini perlu didorong seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani global.
Prabowo menilai Indonesia dianugerahi kekayaan laut yang sangat besar. Oleh karena itu, menurutnya, Indonesia tidak hanya harus bersyukur atas potensi tersebut, tetapi juga perlu mengoptimalkannya untuk kesejahteraan masyarakat.
“Dunia sekarang sangat memerlukan ikan protein, karena itu, pemerintah yang saya pimpin, kita akan besar-besaran mengembangkan perikanan dan kelautan,” ujar Prabowo ketika meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan di Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Sabtu (9/5).
“Kita harus bersyukur, dan kita harus sekarang besar-besaran investasi,” imbuh dia.
Menurut Prabowo, investasi pada ekonomi kelautan, atau yang ia sebut sebagai blue economy, harus dimulai dengan memperkuat peran nelayan sebagai ujung tombak sektor perikanan nasional. Salah satunya melalui program KNMP, yang diharapkan dapat memperluas akses nelayan terhadap sarana dan prasarana perikanan yang layak.
Prabowo mengatakan pemerintah menargetkan 1.386 KNMP dapat beroperasi di seluruh Indonesia pada tahun ini dan akan terus membangun desa nelayan setiap tahunnya.
“Dan tahun depan, kita akan bangun lagi 1.000 (KNMP). Dan seterusnya, tiap tahun 1.000, 1.000, 1.000, kita seluruh Indonesia punya 12.000 desa nelayan. Ini pekerjaan besar,” jelas dia.
Selain itu, Prabowo juga mengatakan bahwa pemerintah akan mendistribusikan bantuan 1.582 kapal ikan agar nelayan Indonesia, di mana skema pengelolaannya akan diserahkan melalui koperasi nelayan.
“Nanti kita beri kapal. Kapal ada yang kecil, ada yang menengah, dan ada kapal-kapal besar. Kita ingin bukan kapal asing yang ambil ikan di laut kita, kita ingin rakyat kita yang mengambil,” tutupnya. (Her/dav)
Ekonom Global Sebut Program MBG Jadi Modal Investasi Jangka Panjang RI
Ekonom IQI Global, Shan Saeed, menilai fondasi ekonomi Indonesia solid di tengah ketidakpastian global. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang investasi jangka panjang untuk SDM dan ketahanan ekonomi. Kebijakan ini tidak instan, namun penting menjaga stabilitas pasokan dan kebutuhan dasar. Potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih tinggi.
Investasi Indonesia di Ambang Krisis: Jerat Lingkungan dan Ketidakpastian Regulasi
Sudarsono Soedomo, Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menyoroti penegakan hukum lingkungan. Insentif investasi berhadapan dengan ketidakpastian hukum di Indonesia. Tuntutan ganti rugi kerusakan lingkungan sering dinilai tidak adil. Permen LH No. 7 Tahun 2014 disalahgunakan, angka contoh dianggap tarif tetap, menciptakan kegaduhan pelaku usaha.
Rp 498 Triliun Investasi: Bukti Konkret Hilirisasi Mengukuhkan Kebangkitan Industri Nasional
Realisasi investasi triwulan I-2026 mencapai Rp 498,8 triliun, tumbuh 7,2%. Sektor hilirisasi menyumbang Rp 147,5 triliun, naik 8,2%. Ini menandai hasil nyata kebijakan hilirisasi pemerintah untuk nilai tambah ekonomi. Investasi luar Jawa mendominasi, menyerap 706.569 tenaga kerja. Kepercayaan investor global meningkat terhadap arah ekonomi Indonesia.
Realisasi Investasi Hilirisasi Capai Rp 147,5 T di Triwulan I 2026, Tumbuh 8,2%
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan total realisasi investasi hilirisasi pada periode Triwulan I 2026 sebesar Rp 147,5 triliun. Tumbuh 8,2% dibanding triwulan I 2025 yang sebesar Rp 136,3 triliun. Investasi di bidang hilirisasi mencapai 29,6% dari total realisasi investasi sepanjang Triwulan I 2026 yang sebesar Rp 498,8 triliun. Hal itu dikatakan Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosal Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan total realisasi investasi hilirisasi pada periode Triwulan I 2026 sebesar Rp 147,5 triliun. Tumbuh 8,2% dibanding triwulan I 2025 yang sebesar Rp 136,3 triliun.
Investasi di bidang hilirisasi mencapai 29,6% dari total realisasi investasi sepanjang Triwulan I 2026 yang sebesar Rp 498,8 triliun.
“Kontribusi dari investasi dari sektor yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan dan bisa semakin meningkat ke depannya,” kata Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosal Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4).
Dari total realisasi investasi hilirisasi Rp 147,5 triliun tersebut, Rp 98,3 triliun di antaranya adalah hilirisasi mineral. Rinciannya yakni nikel Rp 41,5 triliun, tembaga Rp 20,7 triliun, besi baja Rp 17,0 triliun, bauksit Rp 13,7 triliun, timah Rp 2,5 triliun, lainnya Rp 2,9 triliun.
Lalu hilirisasi perkebunan dan kehutanan sebesar Rp 29,8 triliun. Rinciannya kelapa sawit Rp 18,3 triliun, kayu log Rp 7,0 triliun, karet Rp 2,4 triliun, lainnya Rp 2,1 triliun. “Kita menginginkan investasi ke hilirisasi perkebunan dan kehutanan juga meningkat,” ucapnya.
Kemudian hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) Rp 17,7 triliun, terdiri dari minyak bumi Rp 13,6 triliun serta gas bumi Rp 4,1 triliun.
Adapun hilirisasi perikanan dan kelautan sebesar Rp 1,7 triliun. Komoditas pada sektor ini termasuk garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, tilapia.
“Kita melihat investasi hilirisasi perikanan dan kelautan bisa meningkat pada semester depan,” ujar Rosan.
Mayoritas realisasi investasi hilirisasi berlokasi di luar Jawa, yakni 75,5% atau Rp 111,4 triliun. Terbesar di Sulawesi Tenggara (Sulteng) Rp 24,1 triliun, Maluku Utara (Malut) Rp 18,6 triliun, Jawa Barat Rp 13,0 triliun, Nusa Tenggara Barat (NTB) Rp 12,9 triliun, dan Kepulauan Riau Rp 9,6 triliun. (her/dav)