Pertamina Turbo & DEX Melambung: Kelas Menengah Terjerat Krisis, Nyawa Taruhannya?
Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.500 dan Pertamina DEX menjadi Rp23.900 per 18 April 2026. Kenaikan harga BBM ini memicu kekhawatiran dampak signifikan pada kelas menengah. Berpotensi menaikkan biaya produksi dan harga barang, mendorong peralihan ke BBM subsidi, serta memengaruhi ekonomi masyarakat luas.
Dari Gerobak Tahu Bulat ke Ruang Kelas: Kisah Inspiratif Dai Mengubah Hidup di Sekolah Rakyat
Program Sekolah Rakyat di Bekasi menyediakan pendidikan gratis bagi siswa putus sekolah. Daifulloh Afif (19) adalah salah satu peserta yang kini melanjutkan pendidikan di SRMA 13 Bekasi. Program ini membantu individu terkendala ekonomi untuk kembali bersekolah. Fasilitas pendidikan dan kebutuhan siswa disediakan gratis.
Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia: Reformasi Bikin Pasar Modal RI Lebih Sehat, Fondasi Capai Kelas Global
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan bahwa reformasi yang tengah dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi fondasi penting untuk membangun pasar modal yang lebih kredibel dan berkelas global. (Foto Dok. Istimewa)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Berbagai langkah reformasi yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperbaiki iklim pasar modal di Tanah Air dinilai layak diapresiasi. Sebab, saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) jadi lebih sehat dan transparan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan bahwa reformasi yang tengah dijalankan menjadi fondasi penting untuk membangun pasar modal yang lebih kredibel dan berkelas global.
Ia menyebutkan, komitmen OJK untuk mengungkap data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% melalui situs BEI sangat baik karena memberikan kejelasan kepada investor tentang siapa saja pemilik saham di suatu emiten.
Begitu juga dengan kewajiban pemegang saham minimal 10% yang harus melaporkan Ultimate Beneficial Owner (UBO) kepada IDX. Di mana, aturan ini mulai diterapkan pada 1 April 2026.
“Upaya peningkatan transparansi seperti pengungkapan identitas pemegang saham, klasifikasi investor yang lebih granular, serta kewajiban pelaporan UBO sebenarnya bukan sekadar kepatuhan, tapi sebuah re-pricing mechanism terhadap kepercayaan,” katanya kepada media, Selasa (14/4).
Menurut Fakhrul, dengan kondisi pasar modal yang lebih sehat dan transparan, maka kredibilitasnya akan semakin tinggi dan bisa mencapai standar global. Sebab, dengan keterbukaan infoamsi, maka risiko jadi lebih rendah dan kepercayaan investor meningkat.
“Selama ini salah satu tantangan utama pasar saham Indonesia adalah adanya opacity premium, di mana investor, terutama asing mendiskon valuasi karena keterbatasan visibilitas terhadap struktur kepemilikan dan potensi konflik kepentingan. Dengan reformasi ini, risiko tersebut secara bertahap bisa ditekan,” terangnya.
Secara rinci, ia menyebutkan ada tiga dampak positif dari reformasi ini. Pertama, penentuan harga wajar saham akan menjadi lebih sehat karena pelaku pasar memiliki informasi yang lebih simetris.
Kedua, reformasi akan meningkatkan kualitas basis investor, sehingga investor nantinya tidak hanya bicara kuantitas likuiditas, tapi juga stabilitasnya.
“Ketiga, dalam jangka menengah, ini berpotensi menurunkan cost of equity (biaya ekuitas) bagi emiten karena premi risiko yang lebih rendah,” jelasnya.
Kendati, ia menekankan bahwa reformasi struktur tidak boleh hanya berhenti di transparansi semata. Ada dua hal yang dinilai perlu didorong ke depan.
Pertama, bagaimana menciptakan basis investor institusi dalam negeri (seperti dana pensiun, asuransi, dan reksa dana) yang kuat. Pasalnya, selama ini pasar modal dalam negeri terlalu sensitif terhadap aliran jangka pendek, baik dari asing maupun domestik. Tanpa investor jangka panjang, volatilitas akan selalu tinggi.
Kedua, ia menilai pemerintah harus mulai mendesain pasar saham sebagai sumber pendanaan strategis, bukan sekadar tempat perdagangan sekunder.
“Artinya, kebijakan harus diarahkan agar lebih banyak perusahaan berkualitas masuk ke bursa, dengan insentif yang tepat, serta pipeline IPO yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (her/dav)
BRI Pacu Erildya Cemilan Family: Sinergi, Inovasi, dan Tradisi Dorong UMKM Lokal Naik Kelas
Erildya Cemilan Family, UMKM inspiratif, bermula dari hobi ngemil saat pandemi 2020. Menghadirkan camilan tradisional seperti keripik tempe umpet, mereka kini mencatat omzet Rp7-10 juta per bulan. Keberhasilan ini didukung pelatihan dan pendampingan dari program BRIncubator BRI, membantu pemasaran digital dan pengembangan usaha.
Dari Pajak ke Panggung Bisnis: DJP Jateng I Bekali UMKM Public Speaking Demi Naik Kelas
DJP Jawa Tengah I dan HIMIKS gelar Business Development Services (BDS) bagi 50 UMKM inklusi di Semarang. Fokusnya pada penguatan kapasitas usaha, keterampilan public speaking, dan pemahaman pajak. Upaya ini mendorong UMKM berkembang, bersaing, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Tekanan Pajak Mencekik, Bansos Luput: Kelas Menengah Indonesia Terancam Miskin Baru Akibat Beban Defisit Negara.
Kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan finansial berat. Pendapatan mereka tergerus pajak, kenaikan biaya hidup, dan potongan wajib seperti PPh 21 atau BPJS. Dianggap terlalu kaya untuk subsidi namun kesulitan membeli rumah, mereka berada dalam posisi dilematis antara kemandirian dan kebutuhan bantuan.