Program MBG Dongkrak Ekonomi Petani Sayur Cipanas, Bantu Modal hingga Penuhi Kebutuhan Keluarga
Program MBG turut mendongkrak ekonomi petani sayur di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Selain itu, juga membantu modal hingga memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu seperti dirasakan Ala Mulyana, salah satu petani di Cipanas. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Cipanas, Idola 92.6 FM-Udara pagi terasa sejuk ketika Ala Mulyana mulai memetik sayuran di kebunnya. Selama 20 tahun menjadi petani, ia sudah merasakan jatuh bangun harga hasil panen.
Ada masa ketika sayuran melimpah, tetapi harga begitu rendah hingga modal pun sulit kembali. Namun belakangan, harapan perlahan tumbuh kembali berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ala menyebut MBG yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto membawa perubahan signifikan bagi para petani sayur di daerahnya. Permintaan hasil panen meningkat, harga sayuran membaik, dan penghasilan petani bisa kembali menghidupi keluarga dengan lebih layak.
“Semenjak ada MBG, Alhamdulillah, bisa kebantu buat nutupin modal,” ujar Ala penuh syukur saat ditemui di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (1/6).
Baginya, hasil panen tak hanya soal angka penjualan di pasar. Sebab, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dari setiap rupiah yang didapat di kebun. “Untuk anak, untuk keluarga, ya,” katanya.
Ia mencontohkan harga pokcoy yang sebelumnya hanya dihargai sekitar Rp3 ribu di tingkat petani. Kini, setelah program MBG berjalan, harga bisa naik hingga Rp6 ribu sampai Rp7 ribu.
“Sayuran itu bisa naik. Misalnya nih, contoh, harga pokcoy Rp3 ribu, kalau semenjak ada MBG bisa naik, bisa Rp6 ribu, bisa Rp7 ribu di kebun, di petani. Jadi istilah bagus,” tuturnya.
Ala menuturkan kenaikan harga itu menjadi angin segar bagi para petani. Setelah bertahun-tahun bekerja tanpa kepastian, mereka mulai merasakan adanya peluang untuk hidup lebih baik.
Hal serupa dirasakan Deden (42), petani yang telah 25 tahun menggantungkan hidup dari hasil bertani. Ia mengatakan, kenaikan harga sayuran dari program MBG membuat kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya terpenuhi lebih baik.
“Buat keluarga, buat anak, buat biaya sekolah anak,” ucap Deden.
Menurut Deden, program MBG menjadi angin segar bagi petani di tengah sulitnya harga hasil panen. Kenaikan harga sayuran yang mulai dirasakan membuat para petani perlahan bisa bangkit.
“Jadi Alhamdulillah, ada MBG membantu. Sekarang sayuran lagi naik. Kemarin-kemarin kan rugi terus,” ungkapnya.
Ia mengatakan program MBG bukan hanya menghadirkan pasar baru bagi hasil panen, melainkan memberi harapan bahwa kerja keras di ladang dapat kembali membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Di akhir perbincangan, Ala dan Deden sama-sama menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap nasib petani.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, dengan adanya program MBG, petani jadi lebih sejahtera,” ujar Ala.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Presiden. Cukup membantu, dalam pertanian Indonesia,” kata Deden. (her/dav)
Mengapa Jokowi Khianati Prabowo? Ferdinand Hutahaean Ungkap Ambisi Politik Keluarga 2029
loading…
Politisi PDIP Ferdinand Hutahaean menyebut jika Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tengah menunjukkan karakter aslinya. Foto/SindoNews
JAKARTA – Politisi PDI Perjuangan (PDIP) Ferdinand Hutahaean menyebut jika Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tengah menunjukkan karakter aslinya sebagai pengkhianat politik di balik rencananya yang ingin melakukan safari ke sejumlah daerah di Indonesia. Jokowi dinilai ingin menjadikan Presiden Prabowo Subianto sebagai target berikutnya setelah sebelumnya mengkhianati PDIP sebagai partainya dahulu.
Hal ini disampaikan Ferdinand dalam program Interupsi bertajuk ‘Bersiap 2029, Jokowi: Siap Keliling Indonesia’ yang ditayangkan iNews, Kamis (28/5/2026).
“Jokowi ini bagi kami justru sedang menunjukkan karakter aslinya siapa, bahwa memang karakter pengkhianat itu kembali muncul setelah dulu mengkhianati PDI Perjuangan dan sekarang tampaknya Jokowi ini akan mengkhianati Prabowo Subianto demi Gibran,” kata Ferdinand.
Ferdinand memaparkan analisisnya ini didasarkan pada ambisi besar Jokowi untuk mengamankan kepentingan politik keluarganya, khususnya masa depan Gibran Rakabuming yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres). Ferdinand menilai segala langkah yang diambil Jokowi saat ini adalah demi memuluskan jalan menuju kontestasi politik 2029.
Diaspora Paris Bahagia Salat Iduladha Bersama Prabowo: Rasanya Seperti Kumpul dengan Keluarga Besar
Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam pelaksanaan salat Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5), menghadirkan kebahagiaan dan kesan mendalam bagi diaspora Indonesia di negara tersebut. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam pelaksanaan salat Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5), menghadirkan kebahagiaan dan kesan mendalam bagi diaspora Indonesia di negara tersebut.
Mereka mengaku bahagia dapat merayakan Iduladha bersama Prabowo dan menilai momen tersebut mencerminkan eratnya rasa kekeluargaan antar Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri.
Sejak pagi hari, warga Indonesia dan diaspora tampak antusias memadati area Wisma Indonesia untuk melaksanakan salat Iduladha berjemaah bersama Prabowo.
Suasana hangat dan penuh keakraban terasa sepanjang pelaksanaan salat Iduladha yang berlangsung khidmat. Seusai salat, Prabowo juga terlihat bersilaturahmi dan menyalami diaspora Indonesia yang hadir.
Salah satu diaspora Indonesia di Paris, Dini Indriyani, mengaku merasakan kebahagiaan berlipat karena dapat melaksanakan salat Iduladha bersama Prabowo.
Bagi Dini yang telah bermukim di Paris selama 15 tahun, momen tersebut meninggalkan kesan mendalam karena membuatnya merasa seperti merayakan Iduladha bersama keluarga besar Indonesia meski berada jauh dari tanah air.
Ia berharap kehadiran Prabowo dalam salat Iduladha kali ini juga membawa kebahagiaan bagi diaspora Indonesia lainnya.
“Kebahagiaannya double. Salat bersama Pak Presiden itu benar-benar merasa seperti salat bersama keluarga besar Republik Indonesia,” ujarnya ketika ditemu.
Dini juga berharap doa-doa yang dipanjatkan bersama saat salat Iduladha dapat membawa kebaikan bagi Indonesia. Ia pun turut mendoakan agar Prabowo senantiasa diberikan kesehatan dalam memimpin Indonesia serta menjaga hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Prancis.
“Segala persoalan bangsa kita akan segera teratasi, Semoga Bapak Presiden sehat selalu, dan semoga hubungan Indonesia dengan Prancis semakin membaik,” tambahnya.
Kegembiraan serupa juga dirasakan Azrina, diaspora Indonesia lainnya di Paris. Ia menilai beribadah bersama Prabowo merupakan kesempatan yang langka dan penuh makna.
“Salat bareng Pak Presiden itu suatu kesempatan yang luar biasa buat saya. Kebetulan banget Bapak Presiden lagi ada kunjungan resmi dan pas banget harinya Iduladha, jadi beliau bisa menyempatkan bertemu dengan warga Indonesia yang ada di Prancis,” ujarnya.
Azrina juga berharap Prabowo senantiasa diberikan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan untuk memimpin Indonesia ke depan. Selain itu, ia berharap diaspora Indonesia di berbagai negara, khususnya di Prancis, dapat terus menjaga kekompakan dan kebersamaan.
Kesan serupa turut dirasakan diaspora muda Indonesia di Paris, Shafa dan Jelita. Keduanya mengaku gugup sekaligus senang dapat bertemu langsung dengan Prabowo setelah selama ini hanya melihat sosoknya melalui layar televisi.
Bagi mereka, pengalaman tersebut terasa semakin spesial karena menjadi kenangan manis dalam salat Iduladha pertama mereka di Paris.
“Lumayan deg-degan, terus senang banget sih, merasa terhormat juga. Biasanya lihat di TV saja, sekarang bisa langsung,” ungkap mereka. (her/dav)
Bedah Strategi TP PKK Jateng: Kapulaga, Kunci Baru Penguatan UMKM dan Ekonomi Keluarga
SEMARANG – Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah terus mendorong penguatan ekonomi keluarga melalui program Kapulaga (Kelompok Usaha Berbasis Keluarga). Program itu menjadi salah satu strategi pemberdayaan UMKM berbasis rumah tangga, agar lebih berkembang, mandiri, dan berkelanjutan.
Gagasan pembentukan Kapulaga disampaikan Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Kapulaga yang digelar secara daring, Senin (25/5/2026).
Nawal mengatakan, sektor UMKM memiliki potensi besar, karena jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Hingga 2025, jumlah UMKM di Jateng mencapai sekitar 4,45 juta unit, dan mayoritas dijalankan oleh keluarga. Dari jumlah tersebut, baru 198.780 unit atau 4,47 persen yang telah mendapat pendampingan dari Dinas Koperasi dan UMKM.
Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan inovasi pemberdayaan ekonomi masyarakat, melalui pendekatan berbasis keluarga.
Nawal menuturkan, PKK memiliki kekuatan jaringan hingga tingkat dusun, RW, RT, dan dasa wisma. Sehingga, kekuatan itu dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi keluarga secara lebih masif dan berkelanjutan.
Selama ini, pihaknya telah memiliki program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). Untuk memperkuat dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat, program Kapulaga dihadirkan sebagai model pemberdayaan baru yang lebih terintegrasi.
“Agar implementasinya berkelanjutan dan memastikan berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga, maka TP PKK Jateng mengembangkan sebuah terobosan yaitu program Kapulaga,” ungkap istri Wakil Gubernur Jateng.
Melalui program tersebut, pelaku usaha akan mendapatkan pendampingan secara menyeluruh. Mulai dari asesmen kebutuhan, pelatihan, penguatan kualitas produk, legalitas usaha, pengemasan, pemasaran, hingga akses pembiayaan.
“Usaha peningkatan pendapatan keluarga harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak, mulai asesmen kebutuhan, pembentukan kelompok, pelatihan, pendampingan standarisasi produk, pendampingan pengemasan, pemasaran, fasilitasi akses kredit, serta monitoring,” tutur Nawal.
Ia menjelaskan, Kapulaga merupakan kelompok usaha ekonomi produktif berbasis keluarga, yang dibangun dengan semangat kolaborasi dan saling memberdayakan. Tujuannya, meningkatkan kemandirian ekonomi dan pendapatan keluarga.
Program tersebut memiliki empat layanan utama, yakni pembentukan kelompok Kapulaga, pemberdayaan kelompok, pendampingan kelompok, dan pemantauan perkembangan usaha. Sasarannya, keluarga kurang mampu yang memiliki usaha produktif berbasis keluarga, baik sektor makanan dan minuman, fesyen, maupun kriya.
“Kelompok usahanya dapat dibentuk berdasarkan kumpulan individu atau wilayah tempat usaha, misalnya di tempat wisata, pasar, lingkungan pabrik, pusat perbelanjaan, atau area car free day, dan sebagainya,” jelas Nawal.
Ditambahkan, pelaksanaan Kapulaga akan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, Baznas, CSR perusahaan, perbankan, hingga perguruan tinggi, agar akses pemberdayaan ekonomi masyarakat semakin luas dan merata.
“Dengan demikian Kapulaga tidak hanya akan meningkatkan pendapatan, tetapi juga solidaritas serta keadilan dan pemerataan ekonomi, khususnya pada keluarga kurang mampu, baik di perkotaan maupun di pedesaan,” ujarnya.
Nawal mengatakan, Kapulaga mulai dikembangkan di Jawa Tengah tahun ini melalui sejumlah tahapan. Mulai dari penyusunan pedoman, sosialisasi, pembentukan kelompok usaha berdasarkan klaster, pelatihan dan inkubasi usaha, hingga pendampingan legalitas dan pemasaran produk.
Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, program Kapulaga diharapkan dapat menjadi gerakan bersama dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di Jawa Tengah.
“Saya berharap kolaborasi berbagai pihak ini dapat mewujudkan inovasi atau terobosan dalam pemberdayaan usaha ekonomi keluarga dengan baik, sehingga meningkatkan pendapatan keluarga dan menyejahterakan kehidupan masyarakat,” pungkas Nawal. (At/Ul, Diskomdigi Jateng)
Kendal: Menguak Peran Krusial Keluarga dalam Menyelamatkan Lingkungan
KENDAL – Pemerintah Kabupaten Kendal terus mendorong masyarakat, untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan dari lingkup keluarga masing-masing. Pasalnya, saat ini Kendal tengah menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah.
Hal itu disampaikan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, pada kegiatan Bersih Desa Tampung Aspirasi Warga (Bersatu Siaga), di Desa Puguh, Kecamatan Boja, Jumat (22/5/2026).
“Sekarang, Kendal sedang berjuang menghadapi tantangan besar, yaitu persoalan sampah. Tapi saya yakin, warga Puguh bisa jadi contoh bagaimana masalah ini bisa diselesaikan bersama. Mulai dari rumah masing-masing, dari kebiasaan sederhana untuk memilah sampah, mengurangi plastik, sampai ikut kerja bakti bersama,” tutur bupati.
Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan sejumlah aspirasi terkait penerangan jalan, perbaikan akses jalan, serta pembangunan irigasi di wilayah Desa Puguh.
Menanggapi hal tersebut, bupati memastikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, agar aspirasi masyarakat dapat segera ditindaklanjuti.
“Permasalahan terkait penerangan jalan, perbaikan jalan dan pembangunan irigasi di Desa Puguh, akan kami koordinasikan dengan OPD terkait, agar mencari solusinya dan ditindaklanjuti,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, dia juga mengajak masyarakat, untuk terus menjaga budaya gotong royong dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke saluran air yang dapat memicu banjir dan pencemaran lingkungan.
Kepala Desa Puguh, Ngamidjo menyampaikan terima kasih kepada Bupati Kendal yang terus memberikan perhatian terhadap masyarakat Desa Puguh, termasuk mengajak peduli terhadap lingkungan sekitar.
“Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi warga dan bentuk perhatian nyata dari pemerintah daerah, terhadap kondisi serta kebutuhan masyarakat desa,” ujar Ngamidjo.
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga
Sebagai bagian dari Generasi Sandwich, saya kuliah sambil bekerja full time. Saya melakukan itu sejak semester satu dan baru di tahun ketiga ini, berani resign.
Saya memberanikan diri mengambil keputusan heroik sekaligus paling naif. Motivasinya mulia: ingin punya waktu lebih banyak untuk belajar, berorganisasi, dan yang paling klise, ingin memahami diri sendiri.
Saya pikir, dengan beralih ngojol, saya bisa mengatur waktu. Pagi narik sampai jam kuliah, sore lanjut sampai malam. Fleksibel.
Namun, setelah menjalaninya, ternyata tidak ada yang benar-benar berubah. Hidup tetap terasa seperti milik orang lain. Bahkan, ada sesuatu yang hilang. Dan hilangnya itu justru membuat saya bingung.
Dua tahun sebelumnya, saya bekerja dengan bahan bakar yang meluap-luap, dendam masa lalu dan ambisi gila untuk kaya. Saya ingin berteriak pada diri sendiri di masa lalu bahwa saya bisa memperbaiki kemiskinan dengan kerja keras.
Setiap rupiah yang saya tabung adalah simbol perlawanan terhadap nasib menjadi bagian dari Generasi Sandwich. Tapi sekarang? Semuanya menguap. Kebencian, pemicu, bahkan ambisi untuk jadi “orang kaya” itu juga ikut hilang. Saya benar-benar lupa semuanya.
Menjadi bapak-bapak Generasi Sandwich di tubuh mahasiswa
Secara administratif, saya adalah mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya, saya sedang pusing memikirkan teori ekonomi pembangunan, magang, karier, atau sibuk ikut lomba esai. Tapi secara mental, saya seperti bapak-bapak Generasi Sandwich berusia 45 tahun yang resah karena memikirkan tiga anak.
Setiap kali aplikasi ojol saya berbunyi atau saldo tambahan masuk, pikiran saya tidak pernah lari ke “Bulan ini beli buku apa ya? ” atau “Ada event dengan guest star bagus, datang ah.”
Pikiran saya langsung tersedot ke lubang logistik yang tidak ada dasarnya bagi anggota Generasi Sandwich. Mulai dari adik sebentar lagi kuliah, membayar kos, memikirkan tiket, sampai dana emergency keluarga di kampung.
Aneh rasanya. Ketika teman-teman sebaya sedang sibuk mencari jati diri, saya justru kehilangan karena harus menjadi salah satu pilar hidup orang lain.
Eh, keluarga itu bisa disebut orang lain nggak ya? Melompat terlalu jauh itu nggak enak. Dilempar terlalu jauh lebih tepatnya. Menjadi anggota Generasi Sandwich itu rasanya seperti melewati masa muda dan langsung mendarat di fase pengabdian tanpa batas.
Kebaikan yang mekanis
Banyak orang bilang Generasi Sandwich yang bertahan itu karena landasan cinta dan kepedulian yang kuat pada keluarga. No ya adik-adik. BIG NO. Saya mengiyakan itu agar terlihat seperti anak berbakti, tapi jujur saja itu bohong.
Saya tetap mengusahakan keluarga, memastikan adik-adik bisa sekolah dengan layak, dan tetap membantu orang tua bukan karena dorongan cinta yang hangat. Saya melakukannya karena sudah lupa cara menjadi egois.
Merasa itu sudah jadi SOP tetap dalam hidup. Seperti robot yang diprogram untuk mengisi daya baterai perangkat lain sementara baterainya sendiri bocor.
Dulu, saya benci dan kesal setengah mati. Setiap pulang kerja tengah malam motoran sambil teriak-teriak nggak jelas di sepanjang jalan Ringroad. Bodo amat. Jalan sepi nggak ada orang juga.
Apa itu motivasi kerja keras dan kesuksesan buat Generasi Sandwich? Bullshit. Stop bicara takdir itu adil. Yang saya tahu hanya kuliah-kerja-tidur.
Tapi sekarang, semua luapan itu sudah hilang. Saking lelahnya fisik dan pikiran, saya sampai tidak punya energi lagi untuk merasa benci atau dendam. Saya sudah terlalu lelah untuk marah.
Hidup untuk apa?
Pertanyaan “Hidup sebenarnya untuk apa?” biasanya muncul di kelas filsafat atau saat sedang melamun. Bagi saya, pertanyaan itu muncul setiap kali melihat saldo rekening yang cuma mampir hitungan menit sebelum hilang untuk memenuhi takdir sebagai Generasi Sandwich yang kelelahan.
Saya kehilangan ambisi bukan karena sudah merasa cukup, tapi karena tujuan hidup sudah lama tertutup oleh pikiran-pikiran “keluarga nanti gimana”. Saya tidak lagi tahu apa yang saya inginkan.
Jika besok semua tanggungan ini hilang, saya rasa hanya akan berdiri mematung. Mungkin saya akan kebingungan ingin melangkah ke mana karena kedua kaki sudah terlalu lama berjalan untuk arah orang lain.
Mungkin ini adalah level tertinggi dari sebuah keletihan Generasi Sandwich. Ketika kita tidak lagi merasa menderita, tapi juga sudah tidak tahu caranya merasa bahagia. Saya tetap menjadi “anak baik” dan “kakak hebat”, bukan karena saya berbakti, tapi karena sudah terlalu lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.
“Banyak anak banyak rezeki” adalah penipuan logika, jebakan Generasi Sandwich
Sekarang, setiap mendengar kalimat banyak anak banyak rezeki dari pengajian di kampung, rasanya ingin diam-diam pergi ke belakang lalu mematikan saklar biar bubar. Mending kita jujur dan jadi truth bitter.
Narasi “banyak anak banyak rezeki” adalah scam terbesar bangsa ini. Karena ada redaksi hadisnya? Sori, Pak. Dulu ketika zaman perang, populasi itu kekuatan. Lah sekarang? Ekonomi sulit.
Rezeki itu memang ada jalannya. Tapi kalian lupa bilang kalau jalan itu seringnya harus dilewati oleh anak-anak yang lahir duluan dan badannya remuk redam menjadi anggota Generasi Sandwich.
Orang tua kita mungkin benar bahwa untuk sekadar makan, Tuhan pasti kasih jalan. Tapi mereka cuma itu doang. Mereka nggak menghitung variabel lain.
Misalnya, biaya pendidikan naik lebih cepat dari inflasi, biaya berobat yang mahal, biaya sosial di kampung, hingga dana darurat yang seringnya memaksa. Orang tua yang punya anak banyak tanpa kesiapan finansial, bukan sedang menjemput rezeki, itu mah outsourcing tanggungan pada Generasi Sandwich.
Saya teramat sangat benci narasi tersebut karena menjadi korban dari optimisme buta. Saya jadi punya beban pikiran untuk membiayai “rezeki-rezeki” yang lain sementara saya sendiri tidak punya waktu untuk mengurus rezeki diri sendiri.
Nyari uang itu capek, kawan. Sangat capek. Mengatakan rezeki sudah ada yang ngatur sambil terus meminta gendongan di punggung anak-anak Generasi Sandwich dan baru belajar jalan di dunia professional, adalah sebuah kezaliman yang dibungkus nasihat agama.
Memutus rantai derita Generasi Sandwich, bukan menyambung penderitaan
Untuk yang sudah menjadi bapak-bapak secara psikologis, bukan secara umur, yang hari ini merasa punggungnya hampir patah karena memikul beban dua generasi sekaligus, kamu tidak sendirian. Mari kita berani untuk jadi yang terakhir.
Kita perlu berhenti menelan mentah-mentah romantisme “bakti tanpa batas” korban Generasi Sandwich. Apalagi jika itu hanya jadi kedok untuk menormalisasi kegagalan finansial generasi sebelum kita.
Memutus rantai kemiskinan bukan sekadar soal bekerja lebih keras, tapi keberanian untuk berkata “cukup”. Khususnya kepada pola pikir boomer yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua.
Kita rapatkan barisan untuk tidak mewariskan trauma finansial ini. Kita harus menjadi generasi yang lebih logis daripada sekadar optimistis.
Punya anak bukan untuk menjemput rezeki yang tidak pasti, tapi untuk memastikan manusia baru itu, punya hidup yang lebih merdeka dari kita. Jika hari ini kita dipaksa menjadi martir, setidaknya jadilah martir yang menutup pintu menuju kondisi bajingan ini rapat-rapat.
Biar Generasi Sandwich kita saja yang babak belur, generasi di bawah kita tak perlu lagi mengenal apa itu hidup yang terasa milik orang lain. Biarkan penderitaan ini berhenti di kita. Semata supaya anak-anak kita nanti bisa benar-benar mengenal arti “hidup”, tanpa harus lebih dulu lupa caranya bernapas untuk diri sendiri. Kita adalah tembok terakhir.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Istri Nelayan Ikut Senang, KNMP Leato Selatan Bawa Perubahan Nyata untuk Keluarga di Pesisir
Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, disambut hangat oleh para istri nelayan. Mereka bersyukur karena Leato Selatan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian langsung dari pemerintah. Fatra Ismail, Marlena, Yusran Gaigo, Mardia Arif, dan Hartati Marjuk dengan kompak menyampaikan rasa bahagia atas perubahan yang mulai dirasakan sejak KNMP Leato Selatan berdiri. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Gorontalo, Idola 92.6 FM-Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, disambut hangat oleh para istri nelayan.
Mereka bersyukur karena Leato Selatan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian langsung dari pemerintah. Fatra Ismail, Marlena, Yusran Gaigo, Mardia Arif, dan Hartati Marjuk dengan kompak menyampaikan rasa bahagia atas perubahan yang mulai dirasakan sejak KNMP Leato Selatan berdiri.
“Alhamdulillah, ada perubahan. Alhamdulillah, ada perubahan,” kata mereka serentak.
Para istri nelayan itu menyebut program KNMP telah membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat pesisir. Berbagai fasilitas penunjang kini mulai tersedia demi meningkatkan kesejahteraan nelayan serta keluarga.
Mardia Arif, salah satu istri nelayan, menyebutkan sejumlah fasilitas yang sudah hadir antara lain bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang terintegrasi dengan KNMP, pabrik es, fasilitas kuliner, ruang genset, hingga perbengkelan yang mendukung aktivitas nelayan sehari-hari.
“Sudah ada bangunan Koperasi Merah Putih, KNMP. Ada fasilitas pabrik es, ada kuliner, ada ruang genset. Perbengkelan,” ucap Mardia.
Pada kesempatan itu, para ibu mengaku sangat tersentuh dengan perhatian Prabowo terhadap kehidupan nelayan. Mereka menyampaikan terima kasih, berharap program ini bisa terus berlanjut dan memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan warga.
Mereka berharap keberadaan KNMP dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan di kawasan pesisir untuk ikut berkembang dan memiliki aktivitas produktif.
“Harapan kami, ke depannya kami semua, ibu-ibu, punya fasilitas, punya partisipasi, punya peningkatan, ke depannya, ibu-ibu punya kegiatan,” kata Mardia dan ibu-ibu nelayan lainnya. (her/dav)
Prabowo Apresiasi Nelayan di Gorontalo: Bertaruh Nyawa di Laut demi Keluarga dan Masyarakat
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan hormat dan apresiasi kepada seluruh nelayan Indonesia saat meninjau meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan di Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Sabtu (9/5). Di hadapan para nelayan dan masyarakat umum, Prabowo mengamini beratnya perjuangan para nelayan yang setiap hari menghadapi risiko besar di laut demi menghidupi keluarga dan menyediakan pasokan pangan untuk masyarakat. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Gorontalo, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan hormat dan apresiasi kepada seluruh nelayan Indonesia saat meninjau meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan di Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Sabtu (9/5).
Di hadapan para nelayan dan masyarakat umum, Prabowo mengamini beratnya perjuangan para nelayan yang setiap hari menghadapi risiko besar di laut demi menghidupi keluarga dan menyediakan pasokan pangan untuk masyarakat.
“Saya mengerti, saya mantan tentara, saya mengerti nelayan itu menghadapi risiko yang besar. Di laut itu tidak main-main, cuaca bisa berubah, arus bisa berubah,” ujar Prabowo.
Prabowo menyebut nelayan merupakan sosok penting bagi bangsa karena berperan dalam menjaga ketahanan pangan melalui hasil perikanan yang menjadi sumber protein bagi masyarakat. Ia pun mengucapkan terima kasih.
“Saudara mempertaruhkan nyawa untuk mencari makan untuk keluargamu, untuk masyarakatmu, untuk bangsamu. Saya terima kasih untuk itu,” lanjutnya.
Prabowo menegaskan pemerintahan yang ia pimpin terus berkomitmen memperbaiki kesejahteraan nelayan di seluruh Indonesia melalui pembangunan KNMP, penyediaan fasilitas pendukung perikanan, hingga bantuan kapal bagi kelompok nelayan. Menurutnya, tak boleh ada lagi nelayan yang merasa diabaikan.
“Para nelayan sering dilupakan orang-orang pintar di Jakarta, tidak peduli dengan nasibnya. Sekarang berubah. Pemerintah sekarang akan memperhatikan semua nelayan dan semua petani di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Ia ingin kehidupan nelayan Indonesia semakin baik dan sejahtera. Prabowo berharap para nelayan bisa senantiasa tersenyum karena penghasilan membaik.
“Saya ingin nelayan-nelayan kita sejahtera. Saya ingin senyum tiap hari karena penghasilannya baik,” ucap Prabowo disambut tepuk tangan para nelayan. (her/dav)
Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon: Pemakaman Terhambat, Keluarga di Persimpangan Krusial
TNI menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL di Lebanon Selatan. Praka Rico Pramudia meninggal 24 April 2026 setelah luka berat pada 29 Maret 2026. Ia bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Proses pemulangan jenazah sedang dilaksanakan.
Dapur MBG: Bagaimana Santri Yatim Ini Berhasil Topang Ekonomi Keluarga?
Muhammad Zainuddin Alwi, santri yatim dari Purwodadi, merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bekerja di SPPG Klodran, ia kini menopang ekonomi keluarga dan mengembangkan keterampilan baru. Kisah Alwi menunjukkan MBG tidak hanya penuhi gizi, tetapi juga membuka peluang kerja serta memperkuat ekonomi keluarga di daerah.