Ribuan Pekerja Rokok Tembakau Tolak Rancangan Aturan Kemasan Kemenkes
loading…
Sedikitnya 6 ribu pekerja padat karya di sektor pertembakauan telah mengirimkan suara penolakan atas rancangan aturan standarisasi kemasan melalui kanal masukan publik yang disediakan Kemenkes. Foto: Dok Sindonews
JAKARTA – Sedikitnya 6 ribu pekerja padat karya di sektor pertembakauan telah mengirimkan suara penolakan mereka atas rancangan aturan standarisasi kemasan melalui kanal masukan publik yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Penolakan para pekerja di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan respons terhadap aturan peringatan kesehatan yang diperluas Kemenkes menjadi penyeragaman kemasan rokok polos.
Mereka khawatir usulan pasal penyeragaman kemasan atau kemasan polos akan mendorong pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dapat meningkatkan angka pengangguran dan menimbulkan gejolak sosial.
“Ada sekitar 6.000-an pekerja yang sudah upload suara penolakan mereka. Mereka juga kompak, saling share link survey masukan. Ini demi keberlangsungan sawah ladang pekerja,” ujar Waljid Budi Lestarianto, Ketua Pimpinan Daerah DIY Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD DIY FSP RTMM-SPSI), Kamis (4/6/2026).
Penolakan telah konsisten disuarakan oleh serikat pekerja sejak pertama Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan muncul pada September 2024.
ASPEK Indonesia Bersama Pimpinan UNI Global Union di Jenewa: Dorong Agenda Pekerja Global
loading…
Konfederasi ASPEK Indonesia memperkuat jejaring gerakan pekerja internasional dengan mengunjungi kantor pusat UNI Global Union di Jenewa, Swiss, Rabu (3/6/2026). Foto/Ist
JENEWA – Konfederasi ASPEK Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat jejaring gerakan pekerja internasional melalui kunjungan resmi ke kantor pusat UNI Global Union di Jenewa, Swiss, pada 3 Juni 2026. Kunjungan dilakukan Presiden dan Sekretaris Jenderal ASPEK Indonesia di sela pelaksanaan International Labour Conference ke-114.
Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus memperluas kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan yang tengah mengubah lanskap ketenagakerjaan global.
Delegasi ASPEK Indonesia diterima langsung oleh Sekretaris Jenderal UNI Global Union, Christy Hoffman didampingi Michalla Lafferty dan Joanna Katsoulas. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif, dengan fokus pada penguatan solidaritas pekerja lintas negara.
Berbagai isu strategis menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut, mulai dari dampak transformasi digital terhadap hubungan kerja, perkembangan ekonomi platform, tantangan pengorganisasian pekerja di era digital, perlindungan sosial, hingga perkembangan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dan sejumlah negara lainnya.
Karyawan Indomaret: Pekerja Paling Underrated di Indonesia
Saya baru sadar bahwa selama ini saya memperlakukan karyawan Indomaret sebatas karakter pendukung. Datang, ambil barang, bayar, pulang. Begitu terus. Bertahun-tahun.
Saya hafal letak mie instan favorit, minuman dingin, suara mesin kasir, dan suara otomatis yang menyambut pelanggan. Namun anehnya, saya hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang yang bekerja di sana. Padahal, kalau saya pikir lagi, saya lebih sering bertemu karyawan Indomaret daripada ketua RT.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Gamping, Sleman, saya termasuk pelanggan setia minimarket. Entah untuk membeli kopi sachet tengah malam, air mineral setelah bersepeda, atau sekadar mencari camilan ketika ide tulisan macet di kepala.
Selama beberapa waktu terakhir, saya menyadari ada satu hal yang menarik dari para karyawan Indomaret. Mereka selalu terlihat sibuk.
Awalnya saya mengira itu hal biasa. Namanya juga bekerja. Namun, setelah beberapa kali memperhatikan lebih saksama, saya mulai merasa bahwa pekerjaan mereka jauh lebih rumit daripada yang selama ini saya bayangkan.
Kita sering menyebut mereka “kasir”. Padahal, menyebut karyawan Indomaret sebagai kasir rasanya seperti menyebut seorang pemain sepak bola hanya sebagai tukang lari. Terlalu menyederhanakan kenyataan.
Suatu sore di sebuah Indomaret kawasan Gamping, saya melihat seorang karyawan Indomaret melayani antrean pembayaran listrik. Lima belas menit kemudian, orang yang sama sedang menata rak makanan ringan.
Tidak lama setelah itu, dia membantu seorang ibu mencari susu anak yang entah mereknya apa. Beberapa menit kemudian lagi, si karyawan Indomaret kembali ke kasir karena antrean mulai memanjang.
Besoknya, saya datang lagi. Orang yang sama sedang mengangkat kardus-kardus besar dari mobil pengiriman. Saya mulai bertanya-tanya. Sebenarnya pekerjaan mereka ini apa?
Sepertinya, hampir semua urusan masyarakat modern sekarang bisa berakhir di Indomaret. Mau beli sabun? Bayar listrik? Top up e-wallet? Transfer uang? Ambil paket? Bayar BPJS? Beli kopi? Bahkan ketika hujan deras dan kita butuh tempat berteduh, yang kita cari ya Indomaret.
Beratnya pekerjaan mereka
Masalahnya, semua layanan itu tidak berjalan sendiri. Di balik kemudahan yang kita nikmati, ada orang-orang yang harus melayani seluruh kebutuhan tersebut dengan wajah tetap ramah. Meskipun mungkin mereka sudah berdiri berjam-jam sejak pagi.
Saya pernah berada di belakang seorang pelanggan yang marah karena transaksi pembayaran gagal. Padahal masalahnya ternyata berasal dari sistem yang sedang gangguan. Yang menerima omelan tetap pegawai Indomaret.
Saya juga pernah melihat pelanggan yang bertanya panjang lebar tentang promo. Yang menjelaskan dengan sabar tetap pegawai Indomaret. Bahkan pernah ada pelanggan yang datang hanya untuk menanyakan arah jalan. Yang menjawab dengan ramah, ya karyawan Indomaret. Mereka seperti pusat informasi berjalan mengenakan seragam merah, biru, dan kuning.
Kita sering lupa kalau karyawan Indomaret juga manusia
Lucunya, karena terlalu sering melihat karyawan Indomaret, kita justru lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Mungkin inilah nasib pekerjaan yang benar-benar underrated.
Bukan karena tidak penting, tetapi karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanya, keberadaannya kita pandang biasa saja. Saya jadi teringat bagaimana banyak orang bisa dengan mudah menyebut pekerjaan impian mereka.
Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, arsitek, atau pengusaha. Namun saya hampir tidak pernah mendengar anak kecil bercita-cita menjadi karyawan Indomaret. Padahal, kalau melihat kompleksitas pekerjaannya, profesi ini jauh lebih berat daripada yang sering kamu bayangkan.
Yang lebih menarik lagi, karyawan Indomaret harus menghadapi berbagai macam karakter manusia setiap hari. Di Jogja, terutama kawasan yang dekat kampus, satu toko bisa didatangi mahasiswa rantau, warga kampung, pekerja kantoran, wisatawan, pengemudi ojek online, pesepeda, hingga rombongan pelancong yang kebingungan mencari arah.
Masing-masing datang dengan kebutuhan dan suasana hati yang berbeda. Dan semuanya mengharapkan pelayanan terbaik dari karyawan Indomaret.
Saya membayangkan betapa melelahkannya menghadapi puluhan, bahkan ratusan orang setiap hari, sambil tetap menjaga sikap profesional. Belum lagi ada ekspektasi yang sering tidak masuk akal dari pelanggan.
Barang habis, salah pegawai. Sistem error, pegawai kena marah. Harga berubah, karyawan Indomaret lagi yang kena. Mesin pembayaran bermasalah, yang kena semprot pegawai. Padahal mereka tidak memiliki kendali atas semua itu.
Ada satu hal yang menurut saya cukup ironis. Semakin modern Indonesia, semakin banyak pekerjaan yang ditumpuk ke satu orang. Dulu, urusan masyarakat tersebar di banyak tempat. Sekarang semuanya terpusat dalam satu minimarket yang buka hampir sepanjang hari.
Sebagai pelanggan, kita menikmati efisiensinya. Namun jarang terpikir bahwa efisiensi itu tidak muncul begitu saja. Ada karyawan Indomaret yang harus berpindah dari kasir ke gudang, dari gudang ke rak, dari rak ke pelanggan, lalu kembali lagi ke kasir dalam waktu yang sama.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang minimarket dengan cara yang berbeda. Sekarang, ketika masuk Indomaret, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada rak makanan atau kulkas minuman dingin.
Saya justru sering memperhatikan para pegawainya bekerja. Dan jujur saja, saya tidak yakin bisa melakukan hal yang sama setiap hari.
Mungkin saya berlebihan ketika menyebut karyawan Indomaret sebagai pekerja paling underrated di Indonesia. Saya tahu masih banyak profesi lain yang juga bekerja keras dan kurang mendapat apresiasi.
Namun setidaknya, saya yakin pada satu hal. Mereka adalah salah satu kelompok pekerja yang paling sering kita jumpai, tetapi paling jarang kita sadari perannya. Kita mengenal logo Indomaret. Fafal tata letak tokonya. Kita tahu promo-promonya. Tetapi sering lupa mengingat bahwa ada orang-orang yang membuat seluruh sistem itu berjalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Program MBG Serap 1,28 Juta Pekerja, Gerakkan Ekonomi Nasional dengan Keterlibatan Pemasok Lokal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam statistik terbaru yang dirilis Jumat (22/5). Dalam laporan tersebut, BGN menyebut program MBG telah menyerap 1,28 juta tenaga kerja yang terlibat langsung di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam statistik terbaru yang dirilis Jumat (22/5).
Dalam laporan tersebut, BGN menyebut program MBG telah menyerap 1,28 juta tenaga kerja yang terlibat langsung di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
Para pekerja tersebut bertugas menyiapkan makanan bergizi bagi 62,45 juta penerima manfaat yang terdiri dari peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan santri.
Namun, dampak ekonomi program MBG tidak hanya berasal dari penyerapan tenaga kerja. Program tersebut juga mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal melalui rantai pasok bahan pangan dan distribusi makanan.
BGN mencatat, hingga 22 Mei 2026, terdapat 142.387 pemasok yang terlibat dalam program tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 59.921 berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 13.306 dari koperasi, 690 dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), 1.410 dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan 157 dari Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).
Sementara itu, 66.903 pemasok lainnya berasal dari berbagai kategori penyedia bahan pangan dan jasa pendukung lainnya.
BGN menambahkan program MBG turut menggerakkan ekonomi rakyat dari hulu hingga hilir dengan menciptakan permintaan bahan pangan dalam jumlah besar secara berkelanjutan.
Sebagai contoh, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kilogram (kg) beras per hari atau setara 4,8 ton per bulan untuk memenuhi 3.000 porsi MBG.
Selain itu, satu SPPG juga membutuhkan sekitar 2.800 ekor ayam per bulan, dengan asumsi menu ayam disajikan dua kali dalam sepekan.
BGN juga mencatat bahwa setiap SPPG membutuhkan sekitar 450 liter susu per hari untuk memenuhi 3.000 porsi MBG, dengan masing-masing penerima memperoleh 150 mililiter susu per sajian.
Data tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026, Rabu (20/5).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengatakan program MBG telah membuka sekitar 1,2 juta lapangan kerja baru melalui operasional dapur SPPG.
“Dari MBG saja kita sudah buka 1,2 juta lapangan kerja baru di dapur-dapur. Dan kita pastikan pasar terjamin, offtake terjamin untuk puluhan juta petani kita, peternak kita, dan nelayan kita,” ungkap Prabowo dalam kesempatan tersebut. (her/dav)
Superindo Rp15 Ribuan: Penyelamat Kantong Pekerja di Tengah Gempuran Harga Warteg Mahal
Belum lama ini netizen ramai membicarakan soal makanan siap santap yang ada di jaringan supermarket Superindo. Sebenarnya “MBG” Superindo, begitu biasa netizen menyebutnya, bukanlah hal baru. Makanan Superindo sudah ada sejak lama dan kerap jadi pilihan pembeli yang tidak sempat memasak.
Akan tetapi, dalam beberapa waktu terakhir, produk ini menyita perhatian karena kerap dibanding-bandingkan dengan program pemerintahMBG. Sebab, harga makanan siap santap Superindo tidak jauh berbeda dengan budget satu porsi MBG.
Tulisan ini tidak akan ikut membanding-bandingkan MBG dengan makanan siap santap Superindo. Tulisan ini ingin menyoroti makanan Superindo yang bisa jadi alternatif di tengah kondisi ekonomi sekarang ini.
Percayalah, walau Superindo identik dengan tempat belanja kelas menengah ke atas, produk makanan siap santapnya benar-benar ramah di kantong. Bahkan, bisa bersaing dengan makanan warteg kebangaan pekerja atau kaum mendang-mending itu. Ya di mana lagi sih dapat makanan siap santap yang layak dengan harga Rp15.000-an.
“Rupa” makanan yang meyakinkan
Setelah melihat foto-foto makanan Superindo yang beredar di media sosial, saya jadi paham kenapa orang-orang membicarakan hal ini. Secara tampilan, produk ini memang tampak meyakinkan. Kalau kalian pernah menonton film soal makan siang prasmanan di sekolah-sekolah luar negeri, kurang lebih seperti itulah wujudnya.
Salah satu menu yang menyita perhatian adalah chicken steak seharga Rp14.900. Di dalam satu tempat makan yang mirip ompreng MBG (hanya saja berbahan plastik), pembeli mendapatkan chicken steak tepung berukuran cukup besar plus sausnya. Lauk utama itu disertai makanan pendamping salad berupa wortel dan buncis, jagung, kentang, dan saus saset.
Sungguh sangat layak, kelewat layak malah, untuk makanan seharga sekitar Rp15.000. Apalagi, kalau dihitung-hitung, di tempat lain kita belum tentu boleh atau bisa makanan selengkap itu, ada daging, sayur, hingga karbo.
Selain chicken steak, menu lain juga tersedia, seperti chicken katsu, ayam bakar hinggaayam geprek. Walau beragam, tiap menu punya komposisi yang mirip, pasti ada dagingnya, karbo, dan sayur. Dan, menariknya, semua makanan itu harganya terjangkau, tidak ada yang lebih dari Rp20.000.
Di tengah kondisi ekonomi yang lagi mending-mending, makanan Superindo ini amat layak untuk dilirik.
Tidak hanya paket makanan siap santap, di Superindo ada banyak pilihan lain
Selain paket siap santap dalam bentuk paket per porsi, Superindo juga punya banyak pilihan makanan siap santap lain. Misal, lauk ayam bakar hingga ikan goreng atau bakar. Saking populernya, salah satu tulisan Mojok pernah membahasnya dalam10 Rekomendasi Makanan Siap Santap di Superindo.
Mengutip dari akun InstagramBig Alpha, makanan siap santap ini sebenarnya tidak ditujukan untuk cari untung. Makanan Superindo lebih pas disebut sebagai umpan sehingga banyak orang datang ke dalam toko dan memancing mereka berbelanja.
Tidak heran kalau produk-produk ini berada di bagian belakang toko. Orang-orang harus melewati lorong panjang dengan berbagai produk terlebih dahulu sebelum mencapainya. Di sisi lain, Superindo memang punya daya tawar yang kuat terhadap para pemasok sehingga memungkinkan memproduksi makanan siap santap yang ramah di kantong.
Terlepas dari strategi penjualan atau tidak, jujur saja, makanan siap santap Superindo bak angin segar di tengah harga bahan yang rasa-rasanya tambah mahal dari waktu ke waktu.
Kalau tidak percaya, coba saja kalian ke warteg atau tempat makan andalan pekerja lain, duit Rp15.000 itu akan habis dalam sekali makan. Terlebih di kota-kota besar, duit belasan ribu bak tidak ada harganya.
Kini tinggal berharap saja, semoga Superindo tidak menaikkan harga jual makanan siap santapnya secara siginifikan, apalagi setelah produknya viral di media sosial. Semoga makanan ini tetap bisa jadi alternatif bagi kaum mendang-mending yang sehari-hari terhimpit kenaikan harga-harga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat caraini ya.
Digantikan AI, Pekerja Terancam Turun Gaji Hingga 10 Tahun
Foto: EpicFlow
Teknologi.id– Kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan membawa disrupsi nyata bagi pasar tenaga kerja global. Analisis terbaru dari perusahaan perbankan terkemuka asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, mengungkapkan bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat tergantikan oleh teknologi AI berpotensi menghadapi krisis karier dan finansial jangka panjang.
Berdasarkan riset tersebut, pekerja yang terdampak otomatisasi tidak hanya kesulitan mencari posisi baru, tetapi juga berisiko mengalami penurunan penghasilan yang efeknya bisa terasa hingga satu dekade lamanya.
Dampak Penurunan Gaji Jangka Panjang
Kesimpulan ini ditarik oleh Goldman Sachs setelah mengkaji data pasar tenaga kerja selama 40 tahun terakhir, yang melibatkan survei terhadap 20.000 pekerja sejak tahun 1980.
Dari data historis tersebut, analis menemukan bahwa pekerja yang tergantikan oleh teknologi rata-rata mengalami penurunan pendapatan riil sebesar 3 persen ketika mereka berhasil kembali masuk ke dunia kerja, dibandingkan dengan mereka yang di-PHK dari sektor yang stabil. Penurunan ini berdampak panjang dengan rincian sebagai berikut:
Dalam 10 tahun pascakehilangan pekerjaan, pertumbuhan pendapatan riil mereka rata-rata 10 poin persentase lebih rendah dibandingkan pekerja yang tidak pernah di-PHK.
Jika dibandingkan dengan pekerja yang di-PHK karena alasan selain teknologi, pertumbuhan pendapatan mereka masih 5 poin persentase lebih rendah.
“Analisis kami menunjukkan bahwa, mirip dengan gelombang perubahan teknologi sebelumnya, penggantian oleh AI dapat menimbulkan biaya jangka panjang bagi pekerja yang terdampak, memperburuk hasil pasar tenaga kerja selama beberapa tahun. Dampak ini bisa jauh lebih besar ketika penggantian itu bertepatan dengan resesi,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporannya.
Kesulitan Mencari Kerja dan Penurunan Kualitas Karier
Foto: INTOO
Selain pemotongan gaji, pekerja yang tersingkir oleh disrupsi teknologi membutuhkan waktu rata-rata satu bulan lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan baru. Risiko ini berlanjut pada ancaman masa pengangguran yang lebih panjang dalam 10 tahun berikutnya, serta laju pertumbuhan kekayaan yang melambat.
Goldman Sachs juga menyoroti adanya fenomena penurunan kualitas pekerjaan (job degradation). Pekerja terdampak cenderung terpaksa beralih ke jenis pekerjaan dengan tuntutan keahlian analitis maupun interpersonal yang lebih rendah, mengingat keterampilan inti mereka telah diambil alih oleh mesin.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang didorong oleh efisiensi AI kini mulai dirasakan di berbagai sektor industri. Banyak perusahaan mengadopsi AI untuk mendongkrak produktivitas sekaligus memangkas biaya operasional.
Dampak makro dari tren ini cukup signifikan:
Adopsi AI diperkirakan telah memperlambat pertumbuhan lapangan kerja baru hingga sekitar 16.000 posisi per bulan dalam satu tahun terakhir.
Khusus di pasar kerja Amerika Serikat, Goldman Sachs memproyeksikan bahwa AI berpotensi menggantikan hingga 7 persen dari total tenaga kerja AS dalam 10 tahun mendatang.
Meski proyeksi pasar kerja terlihat menantang, laporan tersebut juga menawarkan solusi konkret berbasis data untuk meminimalkan dampak negatif. Pekerja diimbau untuk tidak menyerah dan segera beradaptasi melalui program pelatihan ulang (retraining atau reskilling).
Menurut catatan Goldman Sachs, pekerja yang mengikuti pelatihan keahlian baru setelah di-PHK akibat teknologi mendapatkan keuntungan signifikan, yakni:
Peningkatan rata-rata 2 poin persentase dalam pertumbuhan upah riil kumulatif selama 10 tahun berikutnya.
Pengurangan risiko pengangguran jangka panjang hingga sekitar 10 poin persentase.
Dukungan Serikat Pekerja untuk Restrukturisasi BUMN: Harga Mati Tanpa PHK!
Federasi Serikat Pekerja BUMN Indonesia Raya (FSP BUMN-IRA) merayakan Hari Buruh Internasional di Monas (1/5/2026). Mereka mendukung restrukturisasi BUMN dari 1.077 menjadi 200-300 entitas. FSP BUMN-IRA berharap restrukturisasi tidak memunculkan PHK, menjaga kesejahteraan pegawai, dan mendukung pemberantasan korupsi di BUMN.
May Day: Bedah Tuntas Kado Prabowo bagi Pekerja, dari Perlindungan Ojol hingga Dorongan UU Ketenagakerjaan
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan sejumlah kebijakan ketenagakerjaan baru pada Hari Buruh Internasional. Ini mencakup Perpres perlindungan awak kapal perikanan dan pekerja transportasi online. Pemerintah juga menargetkan 1 juta hunian terjangkau bagi pekerja serta percepatan penyelesaian RUU Ketenagakerjaan tahun ini. Langkah ini untuk memperkuat kesejahteraan dan perlindungan pekerja.
Prabowo Janjikan Daycare dan 1 Juta Rumah: Visi Kesejahteraan Pekerja Terkuak
Presiden Prabowo Subianto menerima masukan pekerja saat Hari Buruh Internasional. Ia menjanjikan layanan penitipan anak (daycare) yang mudah diakses dan terjangkau bagi pekerja. Pemerintah juga akan menyediakan rumah terjangkau dekat kawasan industri. Prabowo berencana membangun kota-kota baru lengkap fasilitas publik dan transportasi.
Kesenjangan AI: Pekerja Siap Berinovasi, Perusahaan Terancam Stagnasi?
Mayoritas pekerja profesional Indonesia siap adopsi kecerdasan buatan (AI) dan agentic AI. Namun, dukungan perusahaan minim, hanya 33% menerima pelatihan AI. Ini memicu risiko shadow AI dan potensi kebocoran data sensitif. Survei Salesforce mendesak perusahaan segera perbarui infrastruktur dan pelatihan AI.