Terobosan Wagub Taj Yasin: Rumah Dinas Jadi Pusat Kegiatan Komunitas, Pererat Kebersamaan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut 93 peserta Susbanpim Angkatan VIII 2026 GP Ansor di rumah dinasnya, Semarang, Sabtu (16/5/2026). Peserta dari Sumatera, Jawa, Bali, dan NTB hadir. Wagub menegaskan rumah dinasnya adalah fasilitas untuk kegiatan kemasyarakatan. Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharuddin mengapresiasi sambutan ini.
Sagara Jadi Rumah Talenta Digital, GoBIG Dimulai di Sini!
Foto: EdScoop
Teknologi.id -Jakarta telah lama menjadi magnet bagi talenta digital terbaik Indonesia. Namun Sagara Technology memiliki visi yang jauh lebih besar dari sekadar membangun perusahaan teknologi sukses di Ibu Kota, menciptakan ekosistem yang menjangkau dan memberdayakan talenta digital dari seluruh penjuru Indonesia, tidak peduli dari mana mereka berasal.
Di balik gedung-gedung yang menjulang dan dinamika bisnis Jakarta yang tidak pernah tidur, Sagara membangun sesuatu yang jauh lebih berharga dari aset fisik, sebuah ekosistem kepercayaan, pertumbuhan, dan peluang yang terbuka bagi setiap talenta digital Indonesia yang siap bermain di panggung yang lebih besar.
Realita yang menyakitkan dari industri teknologi Indonesia adalah ketimpangan akses yang masih sangat terasa: talenta dari Jakarta dan kota-kota besar memiliki akses yang jauh lebih mudah ke peluang, jaringan, dan pengembangan karir dibandingkan rekan-rekan mereka dari daerah. Padahal, tidak ada bukti bahwa talenta dari Makassar, Medan, Manado, atau Kupang lebih lemah dari mereka yang lahir dan besar di Jakarta.
Ketimpangan ini tidak hanya merugikan individu yang kehilangan peluang, tetapi juga merugikan Indonesia secara keseluruhan yang kehilangan kontribusi dari sumber daya manusia terbaiknya. Sagara Technology mengambil posisi yang jelas: ketimpangan ini harus diperbaiki, dan Sagara berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusinya.
Membangun Ekosistem Inklusif
Indonesia sedang berada dalam momen transformasi digital yang paling krusial sepanjang sejarahnya. Keputusan yang diambil hari ini tentang bagaimana ekosistem digital dibangun akan menentukan apakah Indonesia akan menjadi pemain dominan di ekonomi digital Asia Tenggara, atau hanya menjadi pasar bagi produk digital negara lain.
Untuk memenangkan persaingan ini, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan talenta dari satu kota. Gerakan #GoBIGinDigital yang diperjuangkan Sagara adalah panggilan kepada seluruh talenta Indonesia untuk bangkit, mengembangkan diri, dan berkontribusi pada kemajuan digital bangsa dari manapun mereka berada.
Ekosistem Digital yang Tidak Mengenal Batas Geografis
Solusi untuk ketimpangan akses bukan memindahkan semua talenta ke Jakarta, melainkan membawa peluang Jakarta ke seluruh Indonesia. Ini membutuhkan infrastruktur digital yang kuat, program yang bisa diakses secara remote, dan komunitas yang menghubungkan talenta lintas daerah dalam satu jaringan profesional yang kohesif.
Sagara Technology membangun ekosistem yang tidak mengenal batas geografis. Berlokasi di Jakarta sebagai pusatnya, tetapi dengan jangkauan program dan komunitas yang mencakup seluruh Indonesia. Melalui model remote work dan distributed team, Sagara memastikan bahwa talenta dari Aceh hingga Papua memiliki akses yang sama ke proyek nyata dan peluang pengembangan karir.
Program Sagara Digital Talent dirancang dengan mempertimbangkan keberagaman latar belakang peserta. Modul pembelajaran tersedia secara online, sesi mentoring dilakukan secara virtual, dan proyek dikerjakan dalam tim yang terdistribusi secara geografis. Ini bukan hanya tentang akses, melainkan tentang mempersiapkan talenta Indonesia untuk bekerja dalam ekosistem kerja global yang memang sudah tidak mengenal batas geografis.
Komunitas Sagara yang aktif di berbagai platform digital menjadi ruang di mana talenta dari seluruh Indonesia bisa saling berbagi, belajar, dan berkolaborasi. Setiap anggota komunitas, tidak peduli dari kota mana, memiliki suara dan peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.
Manfaat Bergabung dalam Gerakan #GoBIGinDigital
Akses ke ekosistem profesional Jakarta tanpa harus meninggalkan kota asal
Bergabung dalam komunitas talenta digital Indonesia yang inklusif dan suportif
Peluang kerja remote dengan standar industri Jakarta
Program pengembangan yang bisa diikuti dari manapun di Indonesia
Jaringan profesional lintas daerah yang memperluas perspektif dan peluang
Kontribusi nyata pada gerakan transformasi digital Indonesia yang lebih merata
Perspektif dari Luar Jakarta
“Saya dari Surabaya dan selalu merasa bahwa peluang terbaik hanya ada di Jakarta. Bergabung dengan ekosistem Sagara mengubah perspektif saya secara total. Saya mengerjakan proyek untuk klien dari Jakarta, Singapura, dan bahkan Australia, semuanya dari kota saya sendiri. Sagara membuktikan bahwa di era digital, lokasi hanyalah koordinat GPS, bukan penentu kualitas atau peluang.” – Perspektif dari developer Sagara yang berbasis di luar Jakarta.
Bergabunglah dalam Gerakan Ini
Sagara Technology mengundang setiap talenta digital Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, untuk bergabung dalam gerakan #GoBIGinDigital. Karena membangun Indonesia digital yang maju tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kota. Ini adalah misi seluruh bangsa, dan Sagara hadir sebagai jembatannya.
Sisi Tersembunyi Properti Hijau: 5 Kelemahan Rumah Dekat Sawah yang Wajib Diketahui Orang Kota
Banyak yang meromantisasi rumah dekat sawah, menganggapnya nyaman dan tenang. Namun, realitanya, ada beberapa tantangan. Rumah sering didatangi hewan liar, bau pupuk dan pestisida menyengat. Wilayah ini rentan lembab, jamur, hingga banjir. Akses fasilitas publik terbatas dan area sepi berpotensi meningkatkan risiko kejahatan.
Pemerintah Perkuat Pengentasan Tuberkulosis: Keberhasilan Pengobatan Capai 80% hingga 8.000 Rumah Pasien Bakal Diperbaiki
Pemerintah terus mempercepat dan memperkuat pengentasan penyakit Tuberkulosis (TBC). Berbagai program strategis telah dilakukan pemerintah, salah satunya dengan menginisiasi pengobatan bagi pasien TBC. Hal itu dikatakan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah terus mempercepat dan memperkuat pengentasan penyakit Tuberkulosis (TBC). Berbagai program strategis telah dilakukan pemerintah, salah satunya dengan menginisiasi pengobatan bagi pasien TBC.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari menyebut hingga 3 Mei 2026, penemuan kasus TBC tercatat lebih dari 241.000 dengan inisiasi pengobatan mencapai 84 persen dari target nasional 95 persen. Keberhasilan pengobatan mencapai 80 persen dari target 90 persen.
“Penemuan kasus (TB) lebih dari 241.000 kasus. Inisiasi pengobatan 84% dari target 95 persen. Dan keberhasilan pengobatan 80 persen dari target 90 persen,” kata Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/5).
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menekan angka kasus TB, mengingat Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus TB tertinggi di dunia.
Qodari menjelaskan salah satu bentuk penguatan skrining penyakit TBC yaitu dengan mengintegrasikannya lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak awal 2025. Kemudian, pemerintah juga menyediakan alat Near Point of Care (nPOC) dan X-Ray di puskesmas-puskesmas sebagai wujud penguatan kapasitas.
Kemudian, untuk mempercepat peningkatan capaian program TB di tahun 2026, pemerintah melaksanakan perbaikan 8.000 rumah pasien TB di wilayah dengan beban kasus tinggi. Program ini bertujuan untuk memutus rantai penularan sekaligus menciptakan lingkungan hunian yang sehat guna mempercepat proses penyembuhan pasien.
“Pemerintah menargetkan perbaikan 8.000 rumah pasien TBC di wilayah prioritas beban kasus tinggi. Dan ini meningkat dari 300 rumah per tahun pada 2020 sampai 2023,” ujar Qodari.
“Sebanyak 5.453 rumah telah diusulkan (untuk perbaikan) melalui aplikasi SIBARU. Rumah layak huni adalah garis pertahanan pertama melawan penularan TBC,” tambahnya.
Upaya pencegahan dan penanganan TB turut diperkuat melalui pemberdayaan 6.484 desa dan kelurahan siaga TB yang tersebar di 23 provinsi. (her/dav)
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya "Menolak"
Bulan lalu, saya terpaksa harus menginap di rumah sakit demi menjaga istri yang sedang dirawat. Sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi ritual “panggilan alam” setiap pagi, saya tahu ini akan menjadi tantangan berat. Bukan karena saya takut kotor, sama sekali tidak. Justru sebaliknya, toilet rumah sakit tempat istri saya dirawat itu sangat bersih, wangi, dan terawat dengan standar kebersihan yang layak.
Namun, entah kenapa meski sudah bersih pun tubuh saya tetap saja melakukan aksi mogok kerja. Ada semacam dinding psikologis yang membuat aktivitas BAB—yang seharusnya menjadi momen paling rileks dalam hidup—berubah menjadi sebuah perjuangan yang canggung dan penuh keganjilan.
Secara fisik, tidak ada yang salah. Lantai toilet rumah sakit kering, tak ada hal-hal kotor karena sering dibersihkan. Pun pencahayaannya juga terang benderang. Tapi begitu saya duduk di sana, rasanya tidak bisa “plong”. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, seolah-olah tubuh ikut menahan diri karena suasana sekitar yang memang tidak mendukung untuk melakukan “tugasnya”.
Mengapa hal sesederhana ini bisa jadi begitu rumit? Saya rasa ini masalah psikologis yang mendalam. Rumah sakit adalah tempat di mana ketegangan, rasa sakit, dan suasana formal berkumpul jadi satu. Pikiran kita sedang dalam mode waspada atau sedih, sementara tubuh butuh kondisi rileks total untuk menyelesaikan urusan “pencernaan”.
Bagaimana mungkin kita bisa rileks kalau selalu terbayang dengan penyakit, rasa sakit, dan orang kesakitan?
Meskipun bilik toilet tertutup rapat, rasa privasinya tetap terasa semu. Sensitivitas terhadap rasa sakit itu mungkin saja membuat konsentrasi buyar. Padahal, di rumah sendiri, kita bisa duduk berlama-lama sambil baca ponsel tanpa beban dunia sedikit pun.
Di rumah, semuanya terasa familiar. Kita sudah hafal dengan ritmenya, posisi duduknya, bahkan suara tetesan airnya. Tubuh kita punya memori terhadap kenyamanan rumah yang tidak bisa diduplikasi oleh hotel bintang lima sekalipun, apalagi oleh sebuah rumah sakit. Di sana, toilet adalah fasilitas umum yang digunakan secara bergantian, meski dibersihkan berkali-kali pun, jejak “ketidaknyamanan” itu tetap menempel di dinding-dindingnya.
Tidak semua orang bisa adaptasi dengan cepat dengan toilet rumah sakit
Adaptasi seperti ini memang tidak mudah bagi semua orang. Ada tipe orang yang bisa buang air di mana saja asalkan bersih, tapi bagi saya, tubuh dan pikiran tidak bisa diajak kompromi begitu saja.
Akhirnya, saya lebih sering memilih untuk menahan atau menunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan, menunggu momen “darurat” yang benar-benar tidak bisa dinegosiasikan lagi.
BTW ketika menjaga istri, saya baru sadar kalau ini bukan cuma saya yang merasakan. Ibu mertua saya juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama melakukan “panggilan alam” itu ketika di rumah. Rasanya memang lebih lega.
Pun, istri saya yang pernah menjadi perawat juga mengiyakan perasaan ini. Saya ingat betul pada suatu kesempatan ketika mengunjungi rumah sakit (yang dulunya ia pernah bekerja di sana), ia memilih toilet karyawan untuk menuntaskan hajatnya. Iya, bahkan bagi perawat sekalipun, toilet rumah sakit tetap saja hal yang agak susah dihadapi.
Pada akhirnya, balada toilet rumah sakit ini mengajarkan kita bahwa kenyamanan itu bukan cuma soal kebersihan atau kemewahan fasilitas.
Yah, urusan panggilan alam memang tak bisa dihindari, tapi memilih tempat yang nyaman untuk menuntaskannya adalah pilihan bagi umat manusia. Dan sekali lagi, toilet rumah sakit boleh saja wangi dan kinclong, tapi selama ia berdiri di antara aroma obat dan suasana muram, ia akan tetap menjadi tempat yang paling ingin kita hindari.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
IHEX 2026 di Tangerang Dorong Sertifikasi Rumah Sakit Syariah yang Inklusif
loading…
MUKISI ke-6 International Islamic Healthcare & Expo (IHEX) 2026 yang digelar di Tangerang, Rabu (6/5/2026), menegaskan komitmen dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis nilai syariah yang inklusif. Foto: Ist
TANGERANG – MUKISI ke-6 International Islamic Healthcare & Expo (IHEX) 2026 yang digelar di Ballroom Novotel Tangerang, Rabu (6/5/2026), menegaskan komitmen dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis nilai syariah yang inklusif dan dapat diterapkan di berbagai jenis rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menuturkan pendekatan religius dalam pelayanan kesehatan selaras dengan nilai dasar bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Setiap sendi kehidupan bernegara, termasuk pelayanan kesehatan tidak boleh terlepas dari nilai religius. Karena itu, kami menyambut baik upaya sertifikasi rumah sakit syariah yang dilakukan MUKISI bersama MUI,” ujarnya.
Sertifikasi rumah sakit syariah bukanlah konsep eksklusif untuk rumah sakit berbasis Islam semata, melainkan terbuka bagi semua. Prinsip halalan thoyyiban dalam layanan kesehatan dinilai mampu meningkatkan kualitas pelayanan secara menyeluruh.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga terus mendorong penguatan ekosistem halal, termasuk melalui sertifikasi produk farmasi. Saat ini, sekitar 24 ribu produk farmasi telah tersertifikasi halal dan jumlah tersebut akan terus bertambah.
Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) Masyhudi mengungkapkan saat ini terdapat 40 rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah, termasuk empat di antaranya milik pemerintah. Selain itu, sekitar 77 rumah sakit lainnya tengah dalam proses sertifikasi.
Prabowo Janjikan Daycare dan 1 Juta Rumah: Visi Kesejahteraan Pekerja Terkuak
Presiden Prabowo Subianto menerima masukan pekerja saat Hari Buruh Internasional. Ia menjanjikan layanan penitipan anak (daycare) yang mudah diakses dan terjangkau bagi pekerja. Pemerintah juga akan menyediakan rumah terjangkau dekat kawasan industri. Prabowo berencana membangun kota-kota baru lengkap fasilitas publik dan transportasi.
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Jah, pejuang abrasi di Demak, aktif menanam dan merawat mangrove di Desa Bedono, Sayung. Bertahan di rumahnya meski dikelilingi laut, ia kini menerima bantuan rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ini solusi adaptif untuk mengatasi rob dan menjaga lingkungan pesisir. Total 20 rumah apung akan dibangun di Demak.
Dyson Robot Vakum AI: Inovasi Spot+Scrub Resmi Mendarat, Mengubah Paradigma Kebersihan Rumah di Indonesia
Dyson meluncurkan dua perangkat pembersih lantai cerdas di Indonesia: robot vakum Spot+Scrub Ai dan alat pel elektrik Clean+Wash Hygiene. Teknologi ini dirancang untuk mempermudah rutinitas kebersihan rumah tangga. Spot+Scrub Ai unggul dengan AI deteksi noda, sementara Clean+Wash Hygiene menawarkan desain tanpa filter. Keduanya kini tersedia.
RUU PPRT: Kado Hari Kartini & May Day, Terobosan Hak Pekerja Rumah Tangga?
loading…
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa pengesahan RUU PPRT yang akan disahkan dalam rapat paripurna pada Selasa (21/4/2026) akan menjadi kado peringatan Hari Kartini dan May Day. Foto: Felldy Utama
JAKARTA – Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) yang akan disahkan dalam rapat paripurna pada Selasa (21/4/2026) akan menjadi kado peringatan Hari Kartini dan Hari Buruh (May Day).
“Hadiah May Day, hadian Hari Kartini untuk besok,” kata Dasco usai memimpin rapat kerja antara Baleg DPR dengan pemerintah terkait RUU PPRT di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026) malam.
Dasco menyampaikan bahwa pengesahan RUU PPRT di DPR ini dalam rangka untuk menuntaskan janji kepada masyarakat setelah proses pembahasannya memakan waktu panjang, yakni 22 tahun.