Oppo resmi meluncurkan A6c di Indonesia, sebuah ponsel yang mengklaim menyasar pasar entry-level hingga menengah. Dengan banderol mulai Rp2,499 juta, perangkat ini menggadang-gadang baterai 7.000 mAh dan layar 120Hz, namun pilihan chipset Unisoc T7250 serta kamera utama 13MP mengundang keraguan tajam atas daya saingnya di tengah gempuran ponsel sekelas yang menawarkan spesifikasi lebih kuat. Oppo mencoba menarik perhatian konsumen dengan janji daya tahan dan desain premium, meski di balik itu tersembunyi kompromi spesifikasi yang patut dipertanyakan.
Baterai Jumbo dengan Pengisian Lambat
Oppo A6c memang menonjolkan baterai raksasa 7.000 mAh, menjadikannya salah satu yang terbesar di kelasnya. Klaim daya tahan hingga 28 hari dalam mode siaga atau 11,67 jam bermain Mobile Legends: Bang Bang menjadi daya pikat utama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi. Perangkat ini bahkan dibekali fitur 5W Reverse Wired Charging, memungkinkannya berfungsi sebagai power bank darurat. Namun, daya baterai sebesar itu hanya didukung pengisian cepat 15W—sebuah angka yang terbilang lambat. Mengisi daya dari 1 persen ke 21 persen membutuhkan 30 menit, dan pengisian penuh memakan waktu hampir tiga jam, jelas bukan solusi efisien bagi pengguna yang terburu-buru.
Desain “Flagship”, Performa Chipset Diragukan
Dari segi tampilan, Oppo A6c mengadopsi desain modern dengan sudut melengkung dan Feather Textured Finish yang diklaim terinspirasi ponsel flagship. Tersedia dalam tiga warna—ungu, putih, dan coklat—dengan efek 3D Dynamic Glow, Oppo jelas berupaya menyuguhkan estetika premium. Namun, di balik kemasan menarik itu, chipset Unisoc T7250 octa-core yang dipadukan dengan RAM 4GB dan penyimpanan hingga 128GB menjadi titik lemah. Klaim bahwa smartphone ini mampu menjaga performa lancar untuk multitasking dan bermain game, bahkan Mobile Legends: Bang Bang stabil di 60fps hingga tiga jam, sulit diterima mengingat reputasi chipset Unisoc yang kerap tertinggal dari kompetitor di segmen harga serupa.
Layar ultra cerah 120Hz memang menjanjikan pengalaman visual yang mulus, namun pertanyaan tetap muncul: apakah chipset tersebut mampu secara konsisten mendorong performa visual tersebut tanpa lag yang mengganggu? Oppo juga mengklaim sertifikasi Fluency Protection empat tahun untuk menjaga performa stabil jangka panjang, sebuah janji yang harus dibuktikan di lapangan, bukan sekadar di atas kertas.
Klaim Ketahanan dan Responsivitas
Untuk mendukung aktivitas harian, Oppo A6c mengantongi sertifikasi IP64 yang berarti tahan debu dan percikan air ringan. Fitur Splash Touch dan Oily-Hand Touch diklaim menjaga responsivitas layar meski tangan basah atau berminyak, menambah nilai fungsionalitas. Di sektor fotografi, kamera utama 13MP Ultra-Clear dengan mode 50MP Hi-Res (yang seringkali hanya upscaling perangkat lunak) serta kamera selfie 5MP terasa minim untuk ponsel di kisaran harga Rp2,5 juta ke atas. Fitur-fitur AI seperti AI Smart Image Matting 2.0 dan AI Eraser memang ada, namun tidak cukup menutupi keterbatasan hardware kamera.
Jiang Linlin, Chief Marketing Officer Oppo Indonesia, menegaskan, “Oppo A6c dirancang untuk pengguna aktif yang ingin tetap tampil modern tanpa mengorbankan kenyamanan penggunaan sehari-hari.” Pernyataan ini kontras dengan pilihan chipset yang berpotensi menghambat kenyamanan tersebut, terutama bagi “pengguna aktif” yang mengharapkan performa gaming atau multitasking berat.
Harga yang Menguji Pasar
Oppo A6c tersedia dalam varian 4GB/64GB seharga Rp2.499.000 dan 4GB/128GB seharga Rp2.999.000. Dengan harga demikian, ponsel ini berhadapan langsung dengan pesaing yang menawarkan chipset lebih bertenaga dari Qualcomm atau MediaTek, kamera beresolusi lebih tinggi, dan teknologi pengisian daya yang jauh lebih cepat. Oppo A6c memang membawa baterai besar dan layar refresh rate tinggi, tetapi kombinasi spesifikasi lain, terutama chipset dan kamera, menempatkannya pada posisi yang sulit untuk bersaing di pasar smartphone Indonesia yang sangat kompetitif. Konsumen akan jeli membandingkan nilai yang ditawarkan dengan harga yang harus dibayar.

Leave a Reply