Dari Gunungkidul, DW Studio: Kisah UMKM Binaan PLN yang Taklukkan Pasar Dunia
DW Studio, UMKM fashion asal Gunungkidul binaan PLN, berhasil tampil di Jogja Fashion Week 2025. Perusahaan Didik Warsito ini memadukan kearifan lokal dengan gaya modern, bersaing dengan desainer nasional. Program Rumah BUMN PLN memberdayakan UMKM seperti DW Studio, meningkatkan kapasitas bisnis, dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Yogyakarta- Kamis, 16 Oktober 2025, panggung Jogja Fashion Week 2025 menampilkan koleksi DW Studio, label fashion asal Gunungkidul, dengan Didik Warsito sebagai figur utama. Namun, sorotan segera beralih pada narasi keberhasilan pembinaan PT PLN (Persero) yang gencar dikampanyekan, menggembar-gemborkan UMKM ini “mendunia” setelah bergabung dengan Rumah BUMN Gunungkidul. Kisah Didik, dari penjahit rumahan menjadi desainer yang tampil di ranah nasional, disajikan sebagai bukti gemilang program, yang secara strategis dimanfaatkan PLN untuk mengukuhkan citra pemberdayaan. Klaim keberhasilan ini, meliputi peningkatan kapasitas bisnis, jaringan kolaborasi, dan akses pasar bagi 1.759 UMKM binaan di daerah, memunculkan pertanyaan tentang skala dampak nyata dan keberlanjutan program besar BUMN tersebut.
Didik Warsito, sebelumnya hanya seorang penjahit rumahan, mengubah arah bisnisnya setelah bergabung. Rumah BUMN Gunungkidul, inisiatif PLN, membekalinya dengan manajemen usaha, pemasaran, pengembangan desain, branding, hingga strategi ekspansi pasar. Hasilnya, DW Studio memadukan kearifan lokal Gunungkidul dengan gaya modern dan kini tampil di panggung nasional. Namun, narasi ini cenderung menonjolkan satu kisah sukses di tengah ribuan UMKM binaan. PLN mengklaim 1.759 UMKM telah bergabung, tetapi rincian capaian konkret dan keberlanjutan bagi mayoritas masih gelap. Apakah kesuksesan DW Studio mencerminkan dampak menyeluruh program atau sekadar pengecualian yang diangkat untuk keperluan citra? Program seperti ini, walau menciptakan satu kisah inspiratif, juga berfungsi ganda sebagai alat promosi efektif. PLN secara konsisten menggambarkan dirinya sebagai pendorong “energi untuk tumbuh dan berdaya,” mengasosiasikan penyediaan listrik dengan pemberdayaan ekonomi. Ini menciptakan ketergantungan naratif, di mana keberhasilan UMKM tertentu menjadi barometer kesuksesan program BUMN.
Narasi Pemberdayaan dan Pujian
Didik Warsito, sang empunya DW Studio, tidak menampik peran tersebut. “Dulu saya hanya tahu bagaimana menjahit. Tapi lewat pendampingan di Rumah BUMN PLN, saya belajar bagaimana menjahit mimpi. Saya belajar bagaimana mengubah karya menjadi produk yang punya nilai dan bisa bersaing,” ujarnya, mengakui transformasi personalnya. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, tanpa ragu melontarkan pujian. “Saya mengucapkan apresiasi kepada PLN karena telah menghadirkan program inkubasi bisnis… Pendampingan, pelatihan, dan coaching bisnis yang diberikan terbukti mampu mengubah pelaku usaha rumahan menjadi desainer yang tampil di tingkat nasional,” tandasnya, turut memperkuat narasi dampak positif. Dari pihak PLN, Sigit Hari Wibowo, Manager PLN UP3 Yogyakarta, menegaskan visi korporat. “PLN bukan hanya menyediakan energi listrik, tapi juga energi untuk tumbuh dan berdaya. Kami ingin Rumah BUMN menjadi tempat di mana ide sederhana bisa berkembang menjadi usaha yang besar,” jelasnya, menempatkan program ini dalam kerangka misi BUMN. Bramantyo Anggun Pambudi, General Manager PLN UID Jawa Tengah dan DIY, menutup dengan penegasan misi, “Melalui Rumah BUMN, PLN berupaya menghadirkan energi yang tidak hanya menerangi rumah-rumah masyarakat, tetapi juga memberdayakan mereka. Kami ingin memastikan setiap tetes energi PLN memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang nyata.” Ia menambahkan, DW Studio adalah “simbol dari semangat lokal yang berdaya” dan “sinergi” adalah kuncinya.
Kisah DW Studio menjadi simbol perubahan, namun ia tetap satu dari ribuan UMKM yang masih mencari jalan. Program PLN, kendati menghasilkan bintang seperti Didik Warsito, masih harus menghadapi ujian nyata: apakah sistem pemberdayaan ini mampu menciptakan dampak merata atau hanya menelurkan segelintir kisah sukses untuk etalase korporat? Dengan 1.759 UMKM dalam naungan, PLN wajib membuktikan bahwa DW Studio bukan anomali, melainkan representasi dari program yang kokoh dan berkelanjutan. Klaim “energi untuk tumbuh dan berdaya” menuntut lebih dari sekadar peragaan busana; ia menuntut bukti konkret bagi setiap “jahitan yang punya cerita” di Gunungkidul.