Menteri Yandri Susanto Panen Melon Di Tuntang

KABUPATEN SEMARANG – Pengelolaan dana desa untuk ketahanan pangan, harus memberikan dampak positif bagi kesejahteraan warga. Berbagai komoditas pertanian dan peternakan dapat dikembangkan menjadi usaha ekonomi produktif, bekerja sama dengan masyarakat setempat.
Hal itu ditegaskan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) RI Yandri Susanto, usai menghadiri panen buah melon milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tuntang Sejahtera Desa/Kecamatan Tuntang, Minggu (24/5/2026) siang. Menurutnya, alokasi 20 persen dana desa untuk penguatan ketahanan pangan harus menjadi alat ekonomi yang menguntungkan.
“Budidaya melon di Tuntang ini menjadi contoh bagus dan bisa direplikasi di desa-desa lain,” ujarnya.
Usaha ekonomi tematik semacam ini, lanjutnya, akan terus dikembangkan. Tujuannya, untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan komoditas tertentu. Bahkan, Kemendes PDT telah menyiapkan pasar ekspor untuk komoditas unggulan tiap desa.
“Sebanyak 59 negara telah siap membeli aneka komoditas seperti jahe, serai, pisang, dan kentang. Kita siapkan program Desa Tematik menuju Desa Ekspor,” tuturnya.
Selain melon, Menteri Yandri melihat langsung budidaya ikan lele, yang juga dikelola Bumdes setempat.
Pengelola Green House melon Bumdes Tuntang Sejahtera, Mas Akin Andriastomo menjelaskan, modal awal pembangunan green house berukuran 10×30 meter sekitar Rp160 juta. Ada dua jenis melon yang ditanam, yakni Sweet Lavender Dan Sweet Hami. Sejak tanam di awal tahun ini, telah dua kali panen. Hasilnya sekitar 1 ton melon segar dengan tingkat kemanisan (brix) di angka 15, di atas standar normal 12 brix, sehingga banyak diminati pembeli lokal.
“Keuntungan sekali panen sekitar Rp17 juta dari pendapatan kotor Rp25 juta, dikurangi biaya operasional Rp7-8 juta,” terangnya.
Bupati Semarang, melalui Kepala Dispermasdes Budi Rahardjo menyampaikan, ada 208 Bumdes yang mengelola usaha ketahanan pangan. Di antaranya, peternakan kambing, sapi, domba dan ayam. Selain itu, juga ada usaha budidaya kentang, kedelai, sayuran, dan singkong.
Penulis: Junaedi, Diskominfo Ungaran
Editor: Di, Diskomdigi Jateng
KABUPATEN SEMARANG – Pengelolaan dana desa untuk ketahanan pangan, harus memberikan dampak positif bagi kesejahteraan warga. Berbagai komoditas pertanian dan peternakan dapat dikembangkan menjadi usaha ekonomi produktif, bekerja sama dengan masyarakat setempat.
Hal itu ditegaskan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) RI Yandri Susanto, usai menghadiri panen buah melon milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tuntang Sejahtera Desa/Kecamatan Tuntang, Minggu (24/5/2026) siang. Menurutnya, alokasi 20 persen dana desa untuk penguatan ketahanan pangan harus menjadi alat ekonomi yang menguntungkan.
“Budidaya melon di Tuntang ini menjadi contoh bagus dan bisa direplikasi di desa-desa lain,” ujarnya.
Usaha ekonomi tematik semacam ini, lanjutnya, akan terus dikembangkan. Tujuannya, untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan komoditas tertentu. Bahkan, Kemendes PDT telah menyiapkan pasar ekspor untuk komoditas unggulan tiap desa.
“Sebanyak 59 negara telah siap membeli aneka komoditas seperti jahe, serai, pisang, dan kentang. Kita siapkan program Desa Tematik menuju Desa Ekspor,” tuturnya.
Selain melon, Menteri Yandri melihat langsung budidaya ikan lele, yang juga dikelola Bumdes setempat.
Pengelola Green House melon Bumdes Tuntang Sejahtera, Mas Akin Andriastomo menjelaskan, modal awal pembangunan green house berukuran 10×30 meter sekitar Rp160 juta. Ada dua jenis melon yang ditanam, yakni Sweet Lavender Dan Sweet Hami. Sejak tanam di awal tahun ini, telah dua kali panen. Hasilnya sekitar 1 ton melon segar dengan tingkat kemanisan (brix) di angka 15, di atas standar normal 12 brix, sehingga banyak diminati pembeli lokal.
“Keuntungan sekali panen sekitar Rp17 juta dari pendapatan kotor Rp25 juta, dikurangi biaya operasional Rp7-8 juta,” terangnya.
Bupati Semarang, melalui Kepala Dispermasdes Budi Rahardjo menyampaikan, ada 208 Bumdes yang mengelola usaha ketahanan pangan. Di antaranya, peternakan kambing, sapi, domba dan ayam. Selain itu, juga ada usaha budidaya kentang, kedelai, sayuran, dan singkong.
Penulis: Junaedi, Diskominfo Ungaran
Editor: Di, Diskomdigi Jateng
