Iduladha 2026: Menguak Urgensi Kemanusiaan di Tengah Badai Global
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, mengungkapkan Iduladha 1447 H hadir di tengah ketegangan dunia akibat perang, krisis kemanusiaan, dan tekanan ekonomi global. Konflik AS, Israel, Iran memicu kenaikan harga pokok. Iduladha menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai kesabaran dan ketaatan.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, secara tajam menyoroti perayaan Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh di tengah krisis multidimensional global. Pernyataannya pada Minggu (24/5/2026) di Jakarta, menelanjangi realitas dunia yang dilanda perang, krisis kemanusiaan, dan tekanan ekonomi, dengan konflik Amerika Serikat-Israel-Iran sebagai pemicu utama ketidakpastian yang menghantam kehidupan masyarakat, menaikkan harga kebutuhan pokok, dan mengikis rasa aman sosial.
Refleksi Iduladha ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan keras untuk menghidupkan kembali nilai kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan. Faqih menegaskan, nilai-nilai fundamental ini mendesak di tengah masyarakat yang kian individualistis, terjerat ambisi kekuasaan, dan kehilangan arah moral.
Ketegangan Global Mencekik Masyarakat
Konflik geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan gelombang ketidakpastian global yang dampaknya terasa langsung di setiap lini kehidupan. Harga kebutuhan pokok melonjak tak terkendali, menghimpit daya beli rakyat, sementara rasa aman sosial terus terkikis oleh berita-berita perang dan kekerasan yang tak henti. Situasi ini menuntut refleksi mendalam, bukan sekadar perayaan ritual.
Faqih, yang juga berasal dari Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, secara tegas memposisikan Iduladha sebagai momentum fundamental, jauh melampaui sekadar perayaan tahunan atau ritual penyembelihan kurban. Ini adalah seruan untuk kembali pada esensi kemanusiaan di tengah kegaduhan dunia.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, menurutnya, menawarkan pesan universal tentang ketahanan manusia menghadapi ujian hidup terberat. Ini bukan tentang menyerah, melainkan tentang kemampuan menjaga arah dan prinsip ketika badai menghantam.
Tekanan hidup modern telah menciptakan masyarakat yang mudah marah, putus asa, dan kehilangan ketenangan. Media sosial, alih-alih menjadi jembatan, justru seringkali menjadi medan pertengkaran yang memperparah kondisi emosional kolektif.
Lebih jauh, Iduladha juga mendesak pentingnya ketaatan di tengah budaya instan yang mengagungkan keuntungan pribadi tanpa mengindahkan kejujuran dan amanah. Ini adalah kritik terhadap sistem yang memungkinkan ambisi kekuasaan dan perebutan kepentingan merusak tatanan sosial.
Suara Kritis dari PBNU
“Di saat gema takbir berkumandang, dunia justru sedang dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda,” ujar KH. Macshoem Faqih, menggambarkan ironi perayaan spiritual di tengah realitas brutal.
Ia menambahkan, “Kesabaran yang diajarkan Iduladha bukan menyerah tanpa usaha, tetapi kemampuan menjaga arah hidup ketika keadaan terasa berat.” Faqih melihat kesabaran sebagai kekuatan vital: “Padahal kesabaran adalah kekuatan. Ia menjaga manusia tetap berpikir jernih ketika emosi sedang penuh.”
Kritiknya menukik tajam pada elite dan sistem: “Kita melihat bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh. Yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil.”
Pernyataan Faqih ini menggarisbawahi urgensi Iduladha sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur di tengah hiruk-pikuk global dan erosi moral. Ini adalah seruan untuk bertindak, bukan hanya merayakan, untuk membangun kembali kemanusiaan yang terkoyak.