PBB Disentak Indonesia: Duka dan Amarah 285 Juta WNI Menggema atas Gugurnya TNI di Lebanon
Indonesia menyatakan duka cita dan amarah atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian di Lebanon dalam misi UNIFIL. Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menyampaikan hal ini di rapat darurat DK PBB, New York, Selasa (31/1). Indonesia mengutuk serangan dan menuntut pertanggungjawaban.
Indonesia meledakkan amarah di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) New York, Selasa (31/1), atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaiannya dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Jakarta secara tegas menyatakan insiden ini bukan kecelakaan, melainkan tindakan disengaja yang bertujuan melemahkan mandat perdamaian, sekaligus mengecam agresi militer Israel sebagai pemicu utama ketegangan di Lebanon selatan.
Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, dengan lantang menyebut nama Kapten Infanteri Zulfi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon yang gugur dalam dua hari berturut-turut. Insiden tragis ini, menurut Indonesia, berakar pada serangan berulang militer Israel yang secara serius melanggar kedaulatan Lebanon.
Ketiga prajurit gugur saat menjalankan tugas mulia: Kapten Zulfi (33) dan Sertu Ichwan (25) tewas kala mengantar logistik di Bani Hayyan, sementara Praka Farizal (27) gugur di dekat Adchit Al Qusayr. Mereka diserang saat mengemban mandat yang justru diberikan oleh Dewan Keamanan itu sendiri.
Lima prajurit perdamaian Indonesia lainnya juga menderita luka-luka, yaitu Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arif Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Deni Rianto. Indonesia menuntut pemulangan jenazah yang gugur secara cepat dan bermartabat, serta perawatan medis terbaik bagi mereka yang terluka.
Mandat UNIFIL Digagalkan
Serangan beruntun terhadap personel UNIFIL ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Lebanon selatan. Indonesia membaca pola serangan ini bukan sekadar insiden terpisah, melainkan manuver sistematis untuk menggagalkan dan melemahkan mandat UNIFIL, sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701 – perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Peningkatan ketegangan, tegas Indonesia, bermula dari serangkaian serangan militer Israel ke wilayah Lebanon. Jakarta mengutuk keras tindakan Israel yang secara terang-terangan melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.
Umar Hadi menyampaikan, “Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan rasa duka, amarah, dan frustrasi 285 juta penduduk Indonesia. Kami yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh seluruh warga dunia yang memandang pasukan perdamaian sebagai simbol harapan dan perdamaian.”
“Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua,” tambahnya, dengan nada menuntut.
Ia melanjutkan, “Serangan-serangan ini mencerminkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan mungkin merupakan bentuk kejahatan perang menurut hukum internasional.”
Indonesia secara tegas menyatakan solidaritas penuhnya dengan pemerintah dan rakyat Lebanon. Situasi ini menyoroti kegagalan DK PBB sendiri dalam melindungi pasukannya, yang mandatnya kini secara nyata digagalkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dengan Israel sebagai aktor utama.