Jagra Budaya: Mengungkap Upaya Gigih Menjaga Denyut Nadi Kesenian Daerah

SMK Bhumi Phala Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, menyelenggarakan “Jagra Budaya”. Acara ini bertujuan melestarikan kesenian daerah serta menumbuhkan empati sosial. Siswa berpartisipasi aktif dalam pentas seni dan penggalangan donasi. Sebanyak 21 kelompok kesenian turut memeriahkan acara.

1,687
Jagra Budaya: Mengungkap Upaya Gigih Melestarikan Kesenian Daerah

SMK Bhumi Phala Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, pada Sabtu, 13 Desember 2025, menggelar ajang “Jagra Budaya III” yang sarat sorotan. Acara ini bukan hanya pentas kesenian daerah seperti tari warok, idakep, dolalak, dan soreng dari 21 kelompok siswa, namun juga dibarengi penggalangan donasi “Gerakan dari MIPA untuk Sumatera” bagi korban bencana. Ironisnya, inisiatif pelestarian budaya dan empati sosial yang digadang-gadang penting ini justru membebankan biaya mandiri kepada para siswa, mengungkap celah dukungan nyata di tengah derasnya arus budaya modern.

Kegiatan yang berlangsung di tengah derasnya penetrasi budaya asing ini secara eksplisit bertujuan membangkitkan kesadaran generasi muda terhadap identitas lokal. Namun, fakta bahwa penyelenggaraan acara mengandalkan “biaya mandiri” dari siswa mempertanyakan komitmen institusi atau pemerintah daerah dalam mengalirkan anggaran untuk konservasi budaya—program yang seharusnya menjadi prioritas nasional. Donasi kemanusiaan yang dikumpulkan pun menggarisbawahi kegagalan sistematis dalam penanganan bencana, mendorong sekolah dan siswa menambal kekurangan tersebut.

Beban Ganda Siswa

Lomba pentas kesenian ini disebut sebagai wadah kreativitas siswa, mendorong mereka terlibat aktif dalam menjaga warisan budaya. Para siswa bahkan berkeliling membawa boks donasi, secara langsung meminta partisipasi penonton dan warga sekolah untuk membantu korban bencana di Sumatera. Tindakan ini, meski mulia, sekaligus menjadi gambaran nyata bagaimana siswa secara sukarela memikul dua beban sekaligus: melestarikan budaya yang terancam dan mengisi kekosongan respons kemanusiaan.

Pengawas SMK Cabang Dinas Wilayah VIII, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Heny Taslimah, mengapresiasi tinggi, menyebut “kesadaran siswa dalam menjaga budaya sangat tinggi karena kegiatan ini lahir dari inisiatif dan partisipasi aktif siswa.” Ia menambahkan, siswa terlibat “bahkan dengan biaya mandiri. Ini menunjukkan rasa kepemilikan dan kepedulian yang nyata.”

Senada, Ketua Panitia Jagra Budaya III, Catra Andika Ramadani, menyatakan, “Jagra Budaya III ini salah satunya untuk melestarikan budaya. Selain itu, kami mengajak seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk menumbuhkan empati melalui gerakan dari MIPA untuk Sumatera.” Catra juga berjanji akan terus mengembangkan Jagra Budaya dengan penekanan lebih kuat pada kegiatan sosial ke depan.

Inisiatif siswa ini sejalan dengan profil lulusan SMK yang menekankan nilai kewargaan, kepedulian, dan empati. Namun, retorika ini kontras dengan minimnya sokongan finansial yang memaksa siswa berkorban lebih. Program ini, yang seharusnya menjadi garda depan pelestarian budaya, kini justru menampilkan gambaran tentang inisiatif akar rumput yang berjuang sendiri melawan hegemoni budaya global dan celah bantuan kemanusiaan.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin