Samuel Wattimena Tegaskan: Tradisi Merti Desa, Cerminan Jati Diri yang Wajib Dilestarikan
Anggota Komisi VII DPR Samuel Wattimena meminta warga Desa Karangjati, Kabupaten Semarang, menjaga tradisi merti desa. Ia mengapresiasi kebersamaan masyarakat dalam kirab budaya. Wattimena menekankan pentingnya melestarikan tradisi merti desa agar tidak hilang. Konsistensi menjaga nuansa budaya Jawa dan narasi yang menyertainya juga krusial bagi kelestarian tradisi ini.
Anggota Komisi VII DPR, Samuel Wattimena, mendesak warga Desa Karangjati, Kabupaten Semarang, mempertahankan tradisi merti desa yang kian terancam punah. Peringatan keras ini disampaikan Minggu (30/11/2025) saat Wattimena menghadiri kirab budaya yang ia nilai masih kuat dalam keguyuban, namun rapuh dalam konsistensi pelestarian. Tanpa penjagaan fundamental, ia memprediksi tradisi ini musnah dalam lima tahun.
Ancaman itu muncul di tengah keramaian perayaan yang melibatkan warga dari anak-anak hingga orang dewasa, mengenakan beragam kostum. Wattimena menilai, esensi bukan pada kesempurnaan penampilan, melainkan pada konsistensi tak tergoyahkan. Kehilangan identitas “rasa Jawa” juga menjadi sorotan tajamnya, mengingat tradisi ini berakar kuat di wilayah tersebut.
Kekhawatiran atas Akar Tradisi dan Tantangan Masa Depan
Detail kritik Wattimena menukik pada beberapa titik vital. Selain konsistensi, ia menyoroti minimnya literasi dan narasi kuat yang menyertai tradisi merti desa. Tanpa pemahaman mendalam tentang “merti desa ini mau apa,” daya tarik dan relevansinya, terutama bagi masyarakat di luar Jawa, akan meredup. Isu kebersihan lingkungan selama perhelatan juga tidak luput dari imbauan tegasnya, menunjukkan celah dalam penyelenggaraan yang terkesan abai.
Ia mengapresiasi semangat “keguyuban masyarakat, mulai dari yang anak-anak sampai bapak-bapak” di Desa Karangjati. Namun, apresiasi ini disusul oleh kekhawatiran besar. Wattimena mengatakan, “Kalau tradisi dan kebersamaan ini tidak dijaga, dikhawatirkan lima tahun ke depan merti desa akan hilang.”
“Hati-hati. Jangan sampai kemudian kehilangan rasa Jawa-nya. Orang datang karena ingin melihat rasa Jawa-nya,” tegas Wattimena, mengkritisi potensi pelunturan identitas budaya. Ia juga menekankan perlunya “literasi dan narasi” yang kuat: “Merti desa ini mau apa. Untuk masyarakat di luar Jawa cukup penting,” ujarnya.
Ardhi Kurnianto, Ketua Panitia Tradisi Merti Desa, menjelaskan bahwa tradisi ini adalah “wujud rasa syukur warga Desa Karangjati yang diisi dengan kirab budaya dan doa bersama.”
Tradisi merti desa di Desa Karangjati telah rutin diselenggarakan sejak 2019. Perhelatan ini digelar setiap tiga bulan menjelang ibadah puasa, melibatkan partisipasi aktif dari warga 17 RT di Desa Karangjati.