Duta Seni Tegal Pukau TMII: Kekuatan Budaya Lokal di Anjungan Jateng!

Duta Seni Kota Tegal mementaskan kolosal “Malang Sumirang – Kenduri Cinta Mbah Panggung” di Anjungan Jateng TMII. Wali Kota Tegal menyaksikan pagelaran seni ini. Tujuannya melestarikan dan mengembangkan potensi budaya Tegal. Selain itu, ada layanan kesehatan gratis, perekaman E-KTP, dan pameran UMKM. Wali Kota menyerukan persatuan perantau Tegal.

2,189
Duta Seni Tegal Pukau TMII: Kekuatan Budaya Lokal Anjungan Jawa Tengah

Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menyalahgunakan panggung Pentas Duta Seni Kota Tegal di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (19/10/2025) pagi, dengan menyisipkan agenda politik. Alih-alih berfokus pada pelestarian budaya melalui pementasan kolosal “Malang Sumirang – Kenduri Cinta Mbah Panggung”, Dedy Yon secara terbuka menyerukan agar warga Tegal di perantauan meningkatkan partisipasi dalam Pemilu mendatang.

Manuver politik ini mencoreng esensi acara kebudayaan yang seharusnya menjadi wahana murni promosi seni daerah. Kehadiran jajaran pejabat Pemkot Tegal, termasuk Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, DPRD, serta kepala OPD, camat, dan lurah, mempertegas legitimasi terselubung terhadap kampanye dini yang terjadi di tengah pentas budaya.

Agenda Terselubung di Balik Budaya

Momen pementasan Duta Seni Kota Tegal yang menampilkan kolosal bertajuk “Malang Sumirang – Kenduri Cinta Mbah Panggung” ini sejatinya digagas untuk melestarikan dan mengembangkan potensi seni budaya Tegal. Namun, fokus acara bergeser saat Wali Kota Tegal berpidato, menyerukan persatuan perantau bukan semata untuk menjaga silaturahmi, melainkan untuk kepentingan politik.

Pernyataan Dedy Yon soal partisipasi pemilih di perantauan menjadi sorotan tajam. Ini mengindikasikan bahwa acara budaya yang didukung APBD itu dimanfaatkan untuk memobilisasi suara menjelang kontestasi politik, jauh dari tujuan awal pelestarian seni.

Selain pementasan, acara juga dimeriahkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan perekaman E-KTP bagi warga perantau, serta pameran UMKM. Kombinasi layanan publik dan acara budaya ini disinyalir sebagai strategi untuk menarik massa, yang kemudian menjadi audiens kampanye politik terselubung.

Suara Pejabat dan Perantau

Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menegaskan, “Kami harapkan kepada warga Kota Tegal yang merantau agar nanti saat pemilu memiliki partisipasi pemilih meningkat dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.” Ia juga menambahkan, “Jangan biarkan perbedaan pandangan memecah kita. Justru dengan keberagaman pengalaman, latar belakang dan perjuangan, kita bisa memperkaya satu sama lain demi kemajuan bersama.” Sebuah pesan yang ambigu antara persatuan budaya dan kohesi politik.

Ketua Umum Perkumpulan Perantau Jawa Tengah, Leles Sudarmanto Mangun Nagoro, tidak ketinggalan menitipkan pesan, “Sebentar lagi mau mudik Lebaran, mohon nanti dapat dibantu oleh Pemkot Tegal untuk pemudik asal Kota Tegal.” Ini menyoroti potensi hubungan transaksional antara perantau dan pemerintah daerah. Senada, Ketua Umum IKBT Bahari Ayu, Tafakurrazak, berharap “adanya kolaborasi antar orang-orang Tegal se-Jabotabek dengan Pemerintah Kota Tegal agar tetap terjalin komunikasi dan kebersamaan.”

Di sisi lain, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal M Ismail Fahmi, dalam laporannya, secara normatif menyatakan tujuan acara adalah “melestarikan dan mengembangkan kekayaan potensi seni budaya unggulan Kota Tegal agar lebih dikenal, disebarluaskan, dan digemari masyarakat.” Sementara itu, Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Sarido, hanya berfokus pada capaian dan harapan prestasi, menyebut, “Kota Tegal tahun 2024 telah meraih penampilan terbaik dalam pentas duta seni. Dan tahun ini kita juga akan menyaksikan bersama suguhan yang menarik, kami berharap tahun ini Kota Tegal juga masuk dalam tiga besar penampil terbaik.”

Pementasan Duta Seni Kota Tegal di TMII ini, yang diklaim sebagai upaya pelestarian budaya, justru ternodai oleh intervensi politik. Penyelenggaraan acara yang seharusnya menjadi panggung murni bagi seniman Tegal, beralih fungsi menjadi mimbar politikus.

Insiden ini mengikis kepercayaan publik terhadap netralitas acara pemerintah yang dibiayai publik. Jelas terlihat, kepentingan politik mendominasi, menenggelamkan tujuan luhur pelestarian warisan budaya bangsa.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin