ISI Solo Mendunia: Tiga Mahasiswa Sukses Tuntaskan Program AIMS di UiTM Malaysia
Tiga mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menyelesaikan program Asian International Mobility for Students (AIMS) di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Resha Ron Sae, Gilbert Gohnarso, dan Firah Aniq Imtinansyah meraih prestasi akademik internasional. Program AIMS ini mendukung visi ISI Surakarta Mendunia.
Solo-Tiga mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyelesaikan program Asian International Mobility for Students (AIMS) di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, pada Jumat, 16 Januari 2026. Prestasi ini, yang diklaim sebagai bukti “ISI Surakarta Mendunia,” sejatinya mengungkap pekerjaan rumah besar bagi institusi untuk melampaui slogan dan memastikan dampak global yang substansial, bukan sekadar keberhasilan individual.
Klaim “Mendunia” Diuji
Resha Ron Sae dari Prodi Film dan Televisi, serta Gilbert Gohnarso dan Firah Aniq Imtinansyah dari Prodi Desain Komunikasi Visual, merampungkan Inbound Exchange Program Semester October 2025. Ini menjadi sorotan karena ISI Surakarta secara agresif menggunakan keberhasilan ini sebagai penegasan komitmen mahasiswa terhadap jargon “ISI Surakarta Mendunia.”
Mahasiswa-mahasiswa tersebut ditempatkan di kampus dan fakultas berbeda sesuai konsentrasi keilmuan mereka di UiTM Cawangan Selangor. Resha menempuh studi di Faculty of Film, Theatre and Animation (FiTA) Kampus Puncak Perdana, sementara Gilbert dan Firah memperdalam ilmu di Faculty of Art & Design Kampus Puncak Alam.
Upacara penyerahan Certificate of Completion berlangsung di Seminar Hall, UiTM Global, Kompleks Antarabangsa, UiTM Shah Alam pada 16 Januari 2026. Asisten Wakil Rektor (Internasional) UiTM, Assoc. Prof. Datin Dr. Norazida Mohamed, menyerahkan sertifikat tersebut. Ketiganya masih berada di Malaysia untuk urusan administrasi, dengan rencana kepulangan akhir Februari atau awal Maret 2026.
Adaptasi Tanpa Terobosan Jelas
“Pengalaman belajar di UiTM memberikan perspektif baru bagi kami dalam berkarya. Ini adalah langkah kami untuk membuktikan bahwa mahasiswa ISI Surakarta siap bersaing secara global, sesuai semangat waktu kami PKKMB ISI Surakarta Mendunia,” ujar Resha Ron Sae usai menerima sertifikat.
Pernyataan tersebut menyoroti ambisi pribadi dan semangat mahasiswa, namun menuntut institusi untuk menunjukkan lebih dari sekadar “semangat.” Keberhasilan adaptasi dan berbaur dengan mahasiswa internasional, meski positif, belum cukup membuktikan terobosan substantif atau kontribusi signifikan dalam diplomasi budaya yang diklaim.
Desakan Bukti Nyata
Program AIMS sendiri merupakan inisiatif pertukaran mahasiswa di Asia Tenggara, Jepang, dan Korea Selatan. Keberhasilan tiga individu ini, meski patut diapresiasi, harus menjadi pemicu evaluasi mendalam bagi ISI Surakarta. Institusi wajib mengukur dampak nyata dari klaim “mendunia” dalam skala yang lebih masif, bukan hanya mengandalkan pencapaian sporadis yang minim detail substansial.