Karhutla: Mengapa Fokus Pencegahan Hotspot Kini Jadi Kunci Utama?

Penelitian Dr. Ir. Aswin Usup, Guru Besar Universitas Palangka Raya, menyoroti kebakaran gambut di Kalimantan. Bencana 2015 dan 2019 menunjukkan api merambat di bawah tanah. Drainase lahan pertanian memperparah risiko. Stabilitas muka air tanah esensial untuk pencegahan. Menjaga ekosistem gambut tetap basah adalah kunci utama mitigasi kebakaran lahan serta dampaknya.

267
Karhutla: Pencegahan Hotspot Kini Jadi Prioritas Utama Penanganan

Kabut tipis yang menyelimuti rawa gambut di Kalimantan Tengah pagi ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sinyal peringatan bahaya api yang kembali mengancam, bergerak senyap di bawah permukaan tanah. Dr. Ir. Aswin Usup, Guru Besar Universitas Palangka Raya, menegaskan ancaman kebakaran lahan gambut berulang ini bukan takdir alam, melainkan konsekuensi langsung dari aktivitas manusia yang mengeringkan ekosistem vital ini.

Kebakaran gambut di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, telah menjadi bencana tahunan. Pemicunya jelas: drainase lahan masif untuk pertanian dan perkebunan menurunkan muka air tanah, menjadikan gambut kering dan sangat mudah terbakar.

Bencana Berulang dan Dampak Regional

Pada musim panas 2015, bencana kebakaran hutan mencapai puncaknya. Tiga provinsi terkepung asap pekat, menjebak lebih dari 28 juta orang dan memicu ratusan ribu kasus gangguan pernapasan. Asap bahkan “memutihkan” langit Malaysia dan Singapura, memicu kecaman internasional dan menempatkan kebakaran ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern Indonesia.

Empat tahun berselang, Juni 2019, api kembali melahap Kalimantan Tengah dan beberapa provinsi lain. Ribuan titik api muncul dalam sehari, memaksa penutupan sekolah dan menunda penerbangan, menegaskan pola bencana yang terus terulang tanpa solusi fundamental.

Api Bawah Tanah yang Mematikan

Tantangan terbesar kebakaran gambut adalah karakternya yang unik dan mematikan: api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat perlahan di bawah tanah. Ia seperti ular hidup, menghanguskan lapisan gambut yang telah terbentuk ribuan tahun. Ancaman ini kerap tidak kasat mata, namun begitu muncul, spot api sangat sulit dipadamkan dan dapat bertahan hingga berbulan-bulan.

Penelitian Hooijer (2010) berjudul “Current and future CO₂ Emissions from Drained Peatlands in Southeast Asia” telah lama mengungkap fakta krusial: kebakaran lahan gambut bukan sekadar fenomena alam. Ini adalah hasil interaksi kompleks antara faktor ekologis dan aktivitas manusia. Drainase lahan untuk pertanian dan perkebunan telah menurunkan muka air tanah gambut, mempercepat pengeringan dan memudahkannya terbakar.

Menyederhanakan masalah ini hanya sebagai akibat dari pembukaan lahan adalah pendekatan yang tidak memadai. Gambut harus dilihat sebagai sistem hidrologi utuh. Ketika keseimbangan air terganggu, seluruh ekosistem menjadi sangat rentan terhadap kehancuran.

Kunci Pencegahan: Muka Air Tanah

“Dalam sejumlah penelitian yang penulis lakukan di Universitas Palangka Raya, ditemukan fakta menarik bahwa stabilitas muka air tanah merupakan kunci utama dalam pencegahan kebakaran,” tegas Dr. Aswin Usup.

“Dengan kata lain,” lanjutnya, “gambut yang tetap basah hampir mustahil terbakar.” Pernyataan ini menusuk inti masalah, menyoroti kegagalan sistemik dalam menjaga ekosistem gambut.

Ia menambahkan, “Kita harus melihat gambut sebagai sistem hidrologi yang utuh. Ketika keseimbangan air terganggu, seluruh ekosistem menjadi rentan.” Ini adalah kritik keras terhadap strategi pencegahan yang tidak menyentuh akar permasalahan hidrologis.

Ancaman kabut tipis pagi ini adalah cerminan kegagalan berkelanjutan. Gambut, yang terbentuk selama ribuan tahun, kini terus rentan dihancurkan oleh api yang dipicu oleh intervensi manusia.

More like this
9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian Pengadilan

9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian di Pengadilan

admin
WFH ASN Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi

WFH ASN Tiap Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi.

admin
Academics Urge ASEAN Centrality, UNCLOS as SCS Code of Conduct Foundation Amid Tensions

LCS Memanas, Akademisi Serukan Sentralitas ASEAN dan UNCLOS sebagai Fondasi Kode Etik

admin