Media Monitoring: Kunci Selamat dari Badai Krisis Siber di Tengah Pusaran Geopolitik Digital.

Serangan siber dalam geopolitik digital memicu krisis keamanan dan komunikasi, berdampak pada kepercayaan publik. Media monitoring menjadi deteksi dini penting. Ini membantu lembaga mengidentifikasi sinyal ancaman siber dari percakapan digital, krusial untuk perlindungan data dan menjaga reputasi institusi.

6
Media Monitoring: Kunci Selamat dari Krisis Siber di Era Geopolitik Digital

Krisis keamanan siber di Indonesia telah melampaui batas teknis, menjelma menjadi krisis komunikasi akut yang mengikis kepercayaan publik dan mengancam legitimasi institusi negara. Ardi Arupa Kewangga, Pranata Humas BSSN sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, memperingatkan bahwa ancaman hybrid warfare menjadikan serangan siber sebagai instrumen strategis untuk melumpuhkan negara, menargetkan infrastruktur digital, data publik, hingga persepsi masyarakat.

Ironisnya, di tengah eskalasi ancaman ini, media monitoring—sistem deteksi dini krusial—masih belum dimaksimalkan. Institusi kerap gagal mengelola narasi pasca-serangan, membiarkan publik menggeser atribusi tanggung jawab dari pelaku eksternal menjadi kelalaian internal, memicu persepsi negatif yang mendalam.

Kegagalan Mengelola Narasi Publik

Dunia kini berhadapan dengan hybrid warfare, di mana kekuatan militer konvensional tak lagi jadi satu-satunya medan tempur. Serangan siber menjadi senjata ampuh untuk melemahkan negara tanpa konfrontasi fisik. Indonesia, dengan infrastruktur digitalnya yang masif, menjadi target empuk.

Krisis siber bukan lagi sekadar kerusakan sistem; ia adalah krisis komunikasi yang secara langsung memengaruhi kepercayaan publik. Ketika data bocor atau layanan digital terganggu, yang hancur bukan hanya teknologi, melainkan juga legitimasi institusi di mata masyarakat.

Situational Crisis Communication Theory (SCCT) W. Timothy Coombs dengan gamblang menjelaskan dinamika ini. Krisis yang semula dapat dipersepsikan sebagai victim crisis—karena serangan datang dari luar—cepat bergeser menjadi preventable crisis saat publik mencium adanya kelemahan sistem atau ketidakmampuan respons.

Kasus kebocoran data BPJS Kesehatan pada 2021 menjadi bukti telak. Narasi publik tidak berhenti pada fakta serangan, melainkan berkembang menjadi kritik tajam terhadap lemahnya perlindungan data pribadi. Pergeseran atribusi ini memperbesar dampak reputasi dan menurunkan kepercayaan publik secara drastis.

Hal serupa terulang pada serangan ransomware terhadap Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 2023. Minimnya informasi jelas dan kurangnya transparansi memicu spekulasi liar dan keresahan nasabah, merusak citra dan reputasi BSI. Krisis teknis bermetamorfosis menjadi krisis komunikasi yang memperkuat persepsi negatif publik.

Suara Kritis dari Pakar

“Krisis yang awalnya dapat dipersepsikan sebagai victim crisis—karena serangan berasal dari aktor eksternal—dapat dengan cepat bergeser menjadi preventable crisis ketika publik menilai adanya kelemahan sistem atau ketidakmampuan dalam merespons insiden,” tegas Ardi Arupa Kewangga, menyoroti bahaya pergeseran persepsi publik.

Ardi menunjuk kasus BPJS Kesehatan sebagai contoh nyata. “Pergeseran atribusi ini memperbesar dampak reputasi dan menurunkan kepercayaan publik,” ujarnya, menegaskan bahwa kegagalan komunikasi pasca-serangan jauh lebih merusak daripada serangan itu sendiri.

Ia juga mengkritisi penanganan krisis BSI. “Minimnya informasi yang jelas serta dan kurangnya transparansi memicu spekulasi dan keresahan nasabah yang berdampak terhadap citra dan reputasi Bank BSI,” papar Ardi, menekankan bahwa krisis teknis tersebut berkembang menjadi krisis komunikasi yang memperkuat persepsi negatif.

Deteksi Dini yang Terabaikan

Dalam kerangka Crisis Lifecycle Model Steven Fink, setiap krisis memiliki fase awal (prodromal stage) yang ditandai sinyal peringatan. Di era digital, sinyal ini kerap muncul di media sosial atau komunitas siber tertutup sebelum meledak menjadi isu besar. Media monitoring menjadi kunci untuk menangkap sinyal-sinyal ini secara dini. Namun, institusi di Indonesia tampak abai, membiarkan ancaman siber dan krisis komunikasi berkembang tanpa terkendali.

More like this
KPK Buru Asrul Azis Taba di Arab Saudi: Bisakah Ekstradisi Tersangka Korupsi Kuota Haji?

KPK Lacak Asrul Azis Taba di Arab Saudi: Mampukah Tersangka Korupsi Kuota Haji Diekstradisi?

admin