Perang Iran: Diplomasi, Benarkah Hanya Jeda Kematian?

Perang Iran memasuki hari ke-83. Negosiasi diplomatik AS dan Iran di Islamabad serta Doha alami kebuntuan, diwarnai saling curiga. AS melunak karena dampak ekonomi global dan harga minyak. Iran membuka dialog karena khawatir perang panjang menguras negara. Belum ada pihak yang menang, menciptakan kebuntuan di Timur Tengah.

471
Iran Diplomacy: A True Peace or Just a Dangerous Interlude?

Negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, memasuki hari ke-83 perang Iran, terombang-ambing di Islamabad dan Doha bak kapal tua di Selat Hormuz – tetap terapung namun nyaris karam. Dunia menanti cemas, tetapi yang bergema bukan bahasa damai, melainkan suara saling curiga yang terbungkus protokol diplomatik.

Diplomasi ini tidak lahir dari keinginan menghentikan penderitaan manusia. Sebaliknya, ia dipicu rasa takut terhadap kerugian ekonomi global dan kelelahan militer, bukan keprihatinan atas kehancuran di Teheran, Beirut, atau Basra.

Motif di Balik Meja Perundingan

Amerika Serikat melunak bukan karena menyadari skala kehancuran brutal di Timur Tengah, melainkan karena harga minyak mengguncang pasar global dan blokade Selat Hormuz mulai mencekik ekonomi dunia. Tekanan publik AS yang lelah perang juga mendesak. Washington bergerak karena pragmatisme, bukan kemanusiaan.

Di sisi lain, Iran membuka ruang dialog bukan karena percaya pada itikad Washington. Teheran tahu betul perang panjang akan menguras republiknya hingga ke sumsum sosial, mengancam stabilitas internalnya. Ini adalah langkah bertahan, bukan tanda rekonsiliasi tulus.

Perang Iran selama 83 hari ini telah membuktikan tidak ada pihak yang benar-benar memenangkan apa pun. Washington gagal memaksakan “perdamaian melalui tekanan.” Serangan militer dan blokade laut tidak mampu melumpuhkan Iran secara total, meski dampaknya nyata.

Sebaliknya, Teheran juga gagal memaksa AS mundur dari kawasan. Yang terjadi justru kebuntuan akut, mengubah wajah Timur Tengah menjadi ruang luka kolektif yang terus menganga.

Negosiasi saat ini hanyalah jeda, sebuah hembusan napas sejenak sebelum kemungkinan dentuman dan ledakan berikutnya kembali mengguncang.

Kecurigaan yang Membayangi

“Dunia sedang menyaksikan dan menantikan dengan cemas hasil perundingan yang tengah berlangsung di Islamabad dan Doha,” ungkap Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE). “Tetapi yang terdengar bukan bahasa damai, melainkan suara saling curiga, yang dibungkus protokol negosiasi diplomatik.”

Al-Makassary menyoroti kontradiksi brutal di meja perundingan. “Di atas meja negosiasi, kedua negara dengan mediator Pakistan saling berbicara tentang perdamaian. Tetapi, di balik meja, keduanya masih mempersiapkan perang,” tegasnya.

Ia menyimpulkan, “Negosiasi menjadi semacam jeda untuk menghela napas sebelum kemungkinan terbit dentuman dan ledakan nuklir berikutnya.” Ini bukan solusi, melainkan penundaan kehancuran yang tak terhindarkan.

Analisis tajam ini disampaikan oleh Ridwan al-Makassary, seorang akademisi terkemuka yang fokus pada dinamika politik Muslim dan masyarakat dunia, menyoroti kegagalan diplomasi untuk mengatasi akar konflik di Timur Tengah.

More like this
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan

Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan

admin
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti

Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti

admin
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia

Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia

admin