Petani Boyolali Panen Untung: Berkat Program MBG, 40 Kg Selada Kini Tersalurkan

Surono (46), petani di Boyolali, menyalurkan hingga 40 kg selada untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pesanan sayuran seperti brokoli dan kol putih ini meningkat signifikan. Program MBG memberikan kepastian pasar serta harga jual lebih baik, meningkatkan pendapatan petani di Desa Senden, Boyolali, secara positif.

76
Program MBG Bawa Untung Petani Boyolali: 40 Kg Selada Sukses Terdistribusi

Petani sayur asal Boyolali, Surono (46), meraup keuntungan berlipat ganda setelah kebunnya menjadi pemasok utama program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun lonjakan permintaan masif ini turut mengungkap celah kapasitas pasokan lokal yang belum memadai. Sejak beberapa waktu terakhir, Surono di Desa Selo, Kabupaten Boyolali, rutin menyalurkan puluhan kilogram selada dan sayuran lain untuk kebutuhan dapur MBG, dengan harga jual lebih menguntungkan dibanding pasar tradisional.

Meski pendapatan melonjak, Surono jujur mengaku kewalahan. Permintaan sayur-mayur untuk program MBG sempat mencapai 3 kuintal sekaligus, jumlah yang jauh melampaui kemampuan produksinya. Kondisi ini memicu pertanyaan serius tentang kesiapan infrastruktur pertanian lokal dalam menopang kebutuhan program skala nasional.

Peningkatan Pesanan dan Tantangan Pasokan

Surono, yang telah berkebun sejak kecil, kini membersihkan dan mengemas brokoli, kol putih, bawang merah, kubis, daun bawang, hingga selada bukan lagi semata untuk Pasar Cepogo. Pesanan dari MBG telah mengubah lanskap bisnisnya. Ia kini menjadi penyuplai tetap, meskipun dengan volume terbatas.

Peningkatan signifikan terlihat jelas. Pada satu kesempatan, Surono mengirimkan hingga 40 kilogram selada besar dan satu pikulan selada keriting. Angka ini jauh melampaui volume penjualan hariannya ke pasar.

Namun, kemampuan Surono hanya terbatas pada sebagian kecil permintaan MBG. Pengakuannya bahwa ia “belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut karena jumlahnya cukup besar” menyoroti potensi kesenjangan antara ambisi program dan realitas produksi petani mikro.

Harga jual yang diterima Surono juga disebut “lebih baik” dari sebelumnya, memberikan “kepastian pasar” dan pendapatan lebih besar untuk kebutuhan keluarganya. Ini menunjukkan program MBG berpotensi menjadi penyelamat ekonomi bagi petani, asalkan tantangan pasokan dapat diatasi.

Pertanyaan mendasar muncul: Apakah program MBG dirancang untuk secara berkelanjutan mendukung petani lokal dalam skala besar, ataukah hanya menciptakan lonjakan permintaan yang tak semua petani sanggup penuhi?

Apresiasi dan Ketergantungan

Surono secara terang-terangan menyatakan kebahagiaannya atas program ini. “Saya dari kecil sudah berkebun. Menanam macam-macam, ada brokoli, kol putih, bawang merah, kubis, daun bawang, hingga selada yang biasanya dijual di pasar,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Jadi saya paling mengirim selada, paling sekitar 40 kilogram (kg). Kalau selada keriting paling tidak (dikirim) sebanyak satu pikulan.”

Apresiasi Surono tak berhenti di situ. Ia bahkan secara spesifik mengucapkan terima kasih kepada pimpinan negara. “Pak Presiden Prabowo Subianto, saya mengucapkan terima kasih atas program MBG. Saya mengucapkan terima kasih sebab membantu sekali bagi petani,” pungkasnya.

Program Makan Bergizi Gratis, yang digagas sebagai salah satu janji kampanye, kini mulai menyentuh langsung kehidupan petani seperti Surono di kaki Gunung Merbabu. Namun, keberlanjutan dan dampak luas program ini masih harus diuji, terutama dalam menghadapi tantangan pasokan dan potensi ketergantungan yang diciptakannya. Apakah model ini akan merata mengangkat kesejahteraan petani atau sekadar menciptakan ceruk pasar baru yang sulit diisi?

More like this
9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian Pengadilan

9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian di Pengadilan

admin
WFH ASN Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi

WFH ASN Tiap Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi.

admin
Academics Urge ASEAN Centrality, UNCLOS as SCS Code of Conduct Foundation Amid Tensions

LCS Memanas, Akademisi Serukan Sentralitas ASEAN dan UNCLOS sebagai Fondasi Kode Etik

admin