Prabowo di Perancis: Gerindra Tegaskan Politik Bebas
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Perancis bertujuan mengamankan investasi hilirisasi sumber daya, khususnya untuk kendaraan listrik, serta akses teknologi militer. Jubir Gerindra menyebutnya bukti politik bebas-aktif berwibawa Indonesia. Langkah ini mengunci peluang sebelum pergeseran teknologi baterai non-nikel, serta membangun keseimbangan geopolitik.
Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah melakukan serangkaian kunjungan ke Prancis, dengan juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengklaim langkah ini sebagai manifestasi politik bebas-aktif yang berwibawa. Kunjungan maraton ini, menurut Sugiat, secara fundamental bertujuan mengunci investasi hilirisasi sumber daya domestik dan mengamankan akses teknologi militer esensial bagi Indonesia.
Pernyataan Sugiat pada Jumat (29/5/2026) di Jakarta menyoroti urgensi waktu yang sempit untuk hilirisasi nikel di tengah transisi global menuju kendaraan listrik. Pada saat yang sama, ia menegaskan pentingnya penguatan militer agar Indonesia mampu mendikte posisinya di kancah global, bukan sekadar mengekor kekuatan besar.
Urgensi Hilirisasi dan Jendela Peluang
Fokus utama kunjungan Prabowo ke Paris adalah percepatan hilirisasi. Sugiat berpendapat, dunia sedang berlomba menuju kendaraan listrik, namun teknologi baterai berbasis nikel menghadapi ancaman pergeseran. Jendela peluang investasi, katanya, akan segera tertutup, memaksa Presiden bergerak “secara maraton dalam satu bulan” untuk mengamankan komitmen finansial vital. Klaim urgensi ini, bagaimanapun, memicu pertanyaan tentang sejauh mana peluang investasi nikel benar-benar terancam penutupan, ataukah sekadar taktik untuk mempercepat kesepakatan.
Akses Teknologi Militer Eksklusif
Aspek lain yang mendesak adalah penguatan militer. Sugiat secara blak-blakan menyatakan, “sebuah negara tidak bisa mendikte dunia jika militernya lemah.” Kunjungan berulang Prabowo ke Paris diinterpretasikan sebagai upaya membangun tingkat kepercayaan tinggi dengan Presiden Emmanuel Macron. Tujuannya: mendapatkan akses teknologi militer yang tidak sembarang negara bisa beli, sebuah langkah yang disebut krusial untuk menopang posisi tawar Indonesia di panggung internasional.
Politik Bebas-Aktif yang Dipertanyakan
Klaim “politik bebas-aktif yang berwibawa” menjadi inti argumen Sugiat. Ia menggambarkan Indonesia tidak tunduk pada Amerika Serikat, tidak mengekor China, dan tidak takut tekanan NATO saat bernegosiasi dengan Rusia. Narasi ini bertujuan mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat, menempatkan kepentingan nasional di atas dikte kekuatan global.
Strategi Keseimbangan Geopolitik
Sugiat lebih lanjut menyinggung “hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi” yang dipraktikkan Prabowo. Strategi ini, menurutnya, memastikan Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun. Namun, strategi “hedging” ini juga dapat dilihat sebagai upaya menyeimbangkan kepentingan domestik dengan dinamika geopolitik yang kompleks, di mana keberpihakan terselubung selalu menjadi risiko.
Implikasi Klaim Partisan
Pernyataan Sugiat, sebagai juru bicara partai penguasa, jelas merupakan upaya pembelaan dan pembenaran atas kebijakan luar negeri Presiden. Klaim-klaim ambisius ini perlu diverifikasi dengan data konkret dan dampak nyata di lapangan, bukan sekadar retorika politik.
“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat,” tegas Sugiat, Jumat (29/5/2026).
Ia melanjutkan, “Pak Prabowo sedang mempraktikkan hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun.”
Kutipan tersebut mencerminkan narasi resmi Partai Gerindra yang berupaya menampilkan Prabowo sebagai pemimpin berani yang menavigasi kompleksitas geopolitik global demi kepentingan strategis Indonesia.
Kunjungan ini menambah daftar panjang aktivitas diplomatik intensif yang dilakukan Prabowo Subianto sejak menjabat sebagai Presiden. Prioritasnya jelas: memperkuat ekonomi melalui investasi dan memodernisasi pertahanan.
Namun, implementasi dari “politik bebas-aktif” dan “hedging” yang diusung Prabowo akan menjadi ujian sesungguhnya bagi posisi Indonesia di kancah global, di tengah tarik-menarik kepentingan adidaya yang kian memanas.