Prabowo & Korsel Perkuat Tiga Pilar Masa Depan: Ekonomi, Pertahanan, AI

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae Myung menyepakati kemitraan strategis komprehensif khusus Indonesia-Korea Selatan. Kemitraan ini memperkuat hubungan bilateral, mencakup sektor ekonomi, industri pertahanan, dan budaya. Kesepakatan di Seoul ini juga fokus pada pengembangan kekuatan maritim global dan pemanfaatan AI untuk masalah kemanusiaan.

117
Prabowo-Korsel Perkuat Tiga Pilar: Ekonomi, Pertahanan, AI

Presiden Prabowo Subianto mengunci pakta “kemitraan strategis komprehensif khusus” dengan Korea Selatan, diklaim sebagai langkah pengukuh hubungan bilateral. Kesepakatan ini diteken setelah pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Blue House, Seoul, pada Rabu (1/4).

Validasi hubungan ini, menurut kedua pemimpin, menandai era baru kerja sama yang lebih erat, mencakup sektor ekonomi, pertahanan, hingga teknologi. Namun, rincian kesepakatan menunjukkan dominasi investasi dan teknologi Korea Selatan yang berpotensi menancapkan pengaruh kuat di sektor-sektor strategis Indonesia.

Investasi dan Industri Strategis

Dalam pertemuan itu, Presiden Lee Jae Myung merinci sejumlah kesepakatan yang mencakup ekonomi dan inovasi. Korea Selatan menegaskan komitmennya untuk menempatkan banyak perusahaannya di sektor industri strategis nasional Indonesia. Ini diklaim akan membantu Indonesia mencapai “visi Indonesia Emas”. Fokus utama investasi strategis juga diarahkan pada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang oleh Lee disebut telah “menjelma menjadi lembaga sovereign wealth fund kelas dunia.” Lee secara khusus menyampaikan “apresiasi mendalam kepada Presiden Prabowo yang telah memberikan kepedulian kepada perusahaan asal Korea Selatan”—sebuah pernyataan yang mengindikasikan adanya perlakuan khusus.

Penguatan Militer dan Teknologi

Di bidang industri pertahanan, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama galangan kapal. Tujuannya: menjadikan Indonesia dan Korea Selatan “kekuatan maritim global.” Langkah ini merupakan kelanjutan dari proyek pengembangan pesawat tempur bersama yang telah berjalan. Selain itu, pakta tersebut juga mencakup integrasi data besar (big data) Indonesia dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) Korea Selatan. Kerja sama ini disebut untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan melalui penguatan ekosistem AI.

Prabowo menyatakan diskusi dengan Lee “berlangsung produktif dan membuahkan hasil.” Ia menegaskan, “Validasi hubungan bilateral kita menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus, ditambah dengan penyelesaian beberapa kesepakatan utama, mencerminkan visi bersama yang mendalam dan mengikat kedua negara kita.”

Prabowo juga menggarisbawahi kesamaan sejarah kedua negara. “Sejarah menunjukkan bahwa kedua negara memiliki kesamaan dan kita pun memiliki kepentingan yang sama. Kedua negara harus berjuang keras untuk meraih kemerdekaan,” ujarnya.

Presiden Lee Jae Myung menambahkan, “Presiden Prabowo dan saya memiliki kesamaan pandangan bahwa kebahagiaan dan kemakmuran masyarakat adalah prioritas utama di masing-masing pemerintahan kami.”

Kesepakatan ini mengukuhkan rekam jejak kerja sama bilateral Indonesia-Korea Selatan yang telah terjalin, terutama dalam sektor pertahanan melalui proyek jet tempur KF-21 Boramae. Dengan pakta baru ini, Korea Selatan secara agresif memperluas jangkauan investasi dan teknologi militernya ke Indonesia, menempatkan Jakarta sebagai mitra kunci di Asia Tenggara.

More like this
WFH ASN Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi

WFH ASN Tiap Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi.

admin
Academics Urge ASEAN Centrality, UNCLOS as SCS Code of Conduct Foundation Amid Tensions

LCS Memanas, Akademisi Serukan Sentralitas ASEAN dan UNCLOS sebagai Fondasi Kode Etik

admin
Prabowo di Korsel: 21 Meriam Salvo, Kehormatan & Sinyal Diplomatik Kuat

Prabowo di Korsel: 21 Dentuman Meriam Salvo, Sinyal Diplomatik Kuat di Balik Kehormatan

admin