Roy Suryo Dituding Politisasi Rismon di Kasus Ijazah Jokowi, Razman Bongkar Motif?
Razman Nasution mengungkap Rismon Sianipar, tersangka tudingan ijazah palsu Jokowi, merasa dipolitisasi dan dieksploitasi Roy Suryo. Rismon menyebut Roy Suryo dan dokter Tifa juga tersangka. Rismon mengaku menulis 480 halaman buku “Jokowi’s White Paper”, sementara Roy Suryo hanya 49 halaman. Ini menunjukkan eksploitasi dalam kasus ijazah Jokowi.
Tersangka tudingan ijazah palsu Presiden Joko Widodo, Rismon Sianipar, kini berbalik arah menyerang rekan sejawatnya, Roy Suryo. Rismon merasa dipolitisasi dan dieksploitasi oleh Roy dalam pusaran isu ijazah palsu Jokowi. Pengakuan mengejutkan ini diungkapkan Ketua Umum Kami Jokowi-Gibran, Razman Nasution, di Jakarta, baru-baru ini.
Klaim eksploitasi ini mencuat dari proses penulisan buku “Jokowi’s White Paper” yang digarap bersama Rismon, Roy Suryo, dan dokter Tifa. Rismon menuding kontribusinya sebesar 480 halaman, jauh melampaui Roy Suryo yang hanya menyumbang 49 halaman, itupun hanya berupa percakapan WhatsApp. Ini menyoroti konflik internal di antara kubu penuding ijazah Jokowi.
Pengakuan Rismon kepada Razman Nasution, yang kini menjadi kuasa hukumnya, membuka tabir baru di balik manuver tudingan ijazah palsu Jokowi. Sebelumnya, Rismon bersama Roy Suryo dan dokter Tifa secara agresif menyuarakan keraguan atas keabsahan dokumen akademik mantan presiden tersebut. Kini, Rismon justru merasa menjadi korban dari rekan seperjuangannya sendiri.
Razman menegaskan, Rismon merasa namanya hanya dimanfaatkan. “Dia merasa dipolitisasi terutama oleh Roy Suryo. Ini bahasa dia ke saya. Dia merasa saya bukan hanya dipolitisasi, tapi dieksploitasi juga,” ujar Razman dalam program Interupsi iNews. Pernyataan ini secara telanjang menunjukkan adanya praktik saling sikut di kubu penuding.
Eksploitasi itu, menurut Rismon via Razman, paling kentara dalam proyek buku “Jokowi’s White Paper”. Buku yang seharusnya menjadi landasan argumentasi mereka justru dijadikan ajang pamer dominasi. Rismon mengaku menulis 480 halaman, sebuah porsi masif yang dipertanyakan perbandingannya dengan kontribusi Roy.
Kontribusi Roy Suryo, yang hanya 49 halaman dan disebut hanya berisi tangkapan layar percakapan WhatsApp, memicu pertanyaan serius tentang substansi dan integritas buku tersebut. Jika klaim Rismon benar, maka buku itu lebih condong menjadi karya tunggal Rismon yang diboncengi nama-nama lain demi kepentingan politis.
Situasi ini menciptakan preseden buruk. Pihak-pihak yang gencar menuduh ijazah Jokowi palsu, kini justru terpecah belah dan saling menuding eksploitasi. Ini bukan hanya masalah personal, melainkan indikasi kuat bahwa gerakan tudingan ijazah palsu ini sejak awal dilandasi motif yang lebih kompleks, melampaui sekadar pencarian kebenaran.
Klaim Eksploitasi
“Dia (Rismon) merasa dipolitisasi terutama oleh Roy Suryo. Ini bahasa dia ke saya,” tegas Razman tanpa tedeng aling-aling.
“Dia merasa saya bukan hanya dipolitisasi, tapi dieksploitasi juga,” lanjut Razman, mengutip langsung keluhan Rismon yang kini berstatus tersangka.
Razman juga membeberkan detail kontribusi dalam buku tersebut: “Bayangkan dalam buku Jokowi’s White Paper itu yang buat 480 halaman saya (Rismon), mas Roy itu hanya 50 halaman, itu pun hanya chat WA, 49 halaman itu via chat WA.” Pernyataan ini menguatkan klaim Rismon tentang eksploitasi intelektual.
Latar Belakang
Tuduhan ijazah palsu terhadap Joko Widodo telah menjadi polemik panjang di ranah publik dan hukum. Roy Suryo, dokter Tifa, dan Rismon Sianipar sendiri berstatus tersangka dalam kasus ini.
Perpecahan internal di antara mereka yang menuding ini, dengan Rismon merasa dieksploitasi, mempertanyakan kembali motif dan validitas seluruh narasi ijazah palsu yang selama ini mereka bangun. Ini bukan sekadar drama personal, melainkan sinyal keroposnya fondasi tudingan yang pernah mengguncang legitimasi seorang mantan presiden.