Rustini Muhaimin, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, secara lugas menuntut peran sentral perempuan dalam mendorong literasi keuangan dan pemenuhan gizi anak sejak dini. Seruan ini mengemuka dalam Sosialisasi Keuangan dan Makan Sehat sebagai Investasi Pembangunan Bangsa di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Pernyataan Rustini menyoroti ambisi membangun “generasi unggul” demi Indonesia Emas 2045. Namun, di balik retorika idealis, tersimpan pertanyaan krusial mengenai implementasi nyata dan dukungan terhadap perempuan yang dibebani ekspektasi besar ini.
Seruan Kartini Masa Kini
Dalam acara yang diselenggarakan Perkumpulan Pergerakan Wanita Nasional (PERWANAS) tersebut, Rustini mengaitkan semangat R.A. Kartini yang telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berpikir maju, mandiri, dan berdaya.
Ironisnya, Kartini masa kini, menurut Rustini, adalah perempuan yang dituntut aktif berkontribusi dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat – sebuah beban ganda yang kerap diabaikan di tengah minimnya dukungan struktural.
Secara spesifik, Rustini menunjuk guru TK/PAUD dan kader perempuan sebagai garda terdepan pembentuk karakter dan masa depan anak-anak, pondasi krusial menuju Indonesia Emas 2045. Beban ini diletakkan tanpa penjelasan mendalam tentang dukungan sistemik atau alokasi anggaran yang memadai.
Urgensi literasi keuangan ditekankan sejak dini, melalui pengenalan konsep menabung serta pembedaan kebutuhan dan keinginan. Ini merupakan tantangan besar di tengah kondisi ekonomi keluarga yang beragam dan kurangnya akses pendidikan finansial yang merata.
Selain itu, literasi pangan juga menjadi sorotan utama. Kesehatan anak, yang sangat ditentukan pola konsumsi, menuntut penganekaragaman pangan berbasis sumber lokal – sebuah idealisme yang belum tentu mudah diwujudkan di setiap daerah dengan keterbatasan sumber daya dan informasi.
Beban di Pundak Perempuan
“Ketika kita berbicara tentang peran perempuan, saya selalu teringat semangat R.A. Kartini. Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berpikir maju, mandiri, dan berdaya,” ujar Rustini, seolah menggarisbawahi warisan yang kini menjadi tuntutan tanpa henti.
Ia menambahkan, “Guru TK/PAUD dan kader bukan hanya mengajar, tetapi membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa.” Pernyataan ini menegaskan tanggung jawab besar yang dipikul oleh para pendidik dan aktivis perempuan di tingkat akar rumput, seringkali dengan imbalan minim.
“Anak-anak yang sehat adalah investasi bangsa. Dari tubuh yang sehat akan lahir pikiran yang cerdas dan karakter yang kuat,” tegasnya, menyoroti korelasi langsung antara gizi dan kualitas sumber daya manusia, namun tanpa membahas akar masalah kemiskinan dan ketahanan pangan.
Realita Tanpa Solusi Konkret?
Pernyataan Rustini Muhaimin ini, meski sarat idealisme dan semangat, gagal menyajikan strategi konkret atau data pendukung mengenai bagaimana tantangan literasi keuangan dan gizi anak akan diatasi secara sistematis di seluruh lapisan masyarakat.
Seruan ini lebih terdengar sebagai penekanan pada “harapan” dan “tuntutan” terhadap perempuan, tanpa merinci langkah-langkah kebijakan atau alokasi sumber daya yang memadai untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang ambisius tersebut. Ini menyoroti jurang antara retorika dan realitas di lapangan.

Leave a Reply