Telegram Sempat Hilang dari App Store Global, Kini Sudah Kembali, Ada Apa?
Teknologi.id – Aplikasi pesan instan Telegram sempat menghilang dari Apple App Store secara global sehingga pengguna baru tidak dapat mengunduh aplikasi tersebut di iPhone maupun iPad.
Beberapa jam setelah insiden tersebut ramai diberitakan, Telegram mengonfirmasi bahwa aplikasinya telah dipulihkan. Kini, Telegram sudah kembali muncul di App Store dan dapat diunduh seperti biasa.
Meski begitu, hingga saat ini penyebab hilangnya aplikasi tersebut masih belum dijelaskan secara resmi.
Insiden ini pertama kali diketahui ketika halaman Telegram di App Store tidak lagi dapat diakses. Saat pengguna mencoba mencari aplikasi tersebut, halaman Telegram tidak ditemukan sehingga proses unduhan untuk pengguna baru tidak dapat dilakukan.
Meski aplikasi sempat menghilang dari App Store, layanan Telegram tetap berjalan normal. Pengguna yang telah menginstal aplikasi sebelumnya masih dapat mengirim pesan, melakukan panggilan suara maupun video, serta mengakses grup dan channel tanpa kendala.
Telegram Konfirmasi Aplikasi Sudah Dipulihkan
Menanggapi insiden tersebut, Telegram memberikan pernyataan kepada media Anadolu.
Perusahaan menyatakan bahwa aplikasi Telegram telah dipulihkan di App Store dan akan segera tersedia kembali bagi seluruh pengguna.
Kini, Telegram sudah kembali muncul di hasil pencarian App Store sehingga pengguna iPhone dan iPad dapat mengunduh aplikasi tersebut seperti biasa.
Penyebabnya Masih Menjadi Misteri
Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab Telegram sempat menghilang dari App Store.
Belum diketahui apakah insiden tersebut disebabkan oleh gangguan teknis, proses peninjauan aplikasi oleh Apple, atau faktor lainnya.
Apple juga belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian tersebut. Sementara itu, pendiri Telegram, Pavel Durov, juga belum memberikan komentar kepada publik.
Pengguna Android Tidak Terdampak
Selama insiden berlangsung, Telegram tetap tersedia di Google Play Store sehingga pengguna Android tidak mengalami kendala untuk mengunduh aplikasi.
Gangguan hanya terjadi pada App Store milik Apple.
Ini bukan pertama kalinya Telegram menghilang dari App Store.
Pada 2018, Apple juga sempat menghapus Telegram dan Telegram X dari App Store. Saat itu, Pavel Durov menjelaskan bahwa penghapusan dilakukan setelah Apple menemukan konten yang dianggap tidak pantas di platform.
Setelah Telegram menerapkan perlindungan tambahan terhadap moderasi konten, kedua aplikasi tersebut akhirnya kembali tersedia di App Store.
Belum diketahui apakah insiden terbaru memiliki kaitan dengan peristiwa tersebut.
Kesimpulan
Telegram sempat menghilang dari Apple App Store secara global sehingga pengguna baru tidak dapat mengunduh aplikasi tersebut. Beberapa jam kemudian, Telegram mengonfirmasi aplikasinya telah dipulihkan dan kini kembali tersedia di App Store. Hingga saat ini, Apple maupun Telegram masih belum mengungkap penyebab pasti di balik insiden tersebut.
Bayangkan andai QRIS tidak ada, belanja pasti ribet pake banget
Bayangkan andai QRIS tidak ada. Bayangkan dulu betapa ngerinya
Lagi dan lagi, petinggi lembaga negara di bidang ekonomi ada yang mundur. Terbaru adalah Perry Warjiyo yang mundur dari Jabatan Gubernur Bank Indonesia setelah menjabat dari tahun 2018. Tidak ada yang tahu alasan spesifik beliau mundur. Cuma disebutkan alasannya bersifat pribadi.
Mundurnya Perry tentu punya efek kejut dari banyak sisi, mulai dari soal rupiah, suku bunga, inflasi, sampai soal independensi bank Indonesia. Bahkan bisa sangat mungkin merambat ke sektor pasar modal.
Tapi rasanya terlalu rumit kalau membicarakan hal-hal itu. Saya justru teringat pada salah satu legasinya yang nyaris setiap hari kita gunakan, yaitu QRIS.
QRIS adalah salah satu inovasi keuangan yang dia inisiasi bersama dengan industri sistem pembayaran dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia. Standardisasi pembayaran ini kemudian resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2018 dan mulai diberlakukan secara nasional pada permulaan 2020.
QRIS memang dihadirkan dengan satu tujuan, yaitu menyatukan seluruh QR pembayaran yang saat itu masih terfragmentasi. Ya lihat saja pada masa itu, setiap layanan dompet digital seperti OVO, dana, Gopay, linkAja, dan layanan keuangan lainnya punya barcodenya sendiri.
Ibaratnya, seluruh penyedia layanan yang mulanya punya ekosistemnya sendiri dengan bahasanya masing-masing, disatukan dalam satu bahasa yang sama yaitu QRIS.
Sekarang, QRIS sudah begitu masif digunakan dan mengisi keseharian kita dalam bertransaksi. Hingga April 2026, pengguna QRIS sudah mencapai 63 juta dengan lebih dari 45 juta merchant menjadi bagian dari ekosistemnya.
Tapi pernah nggak kalian mikir, bagaimana jadinya kalau QRIS tidak pernah ada hingga saat ini?
Andai QRIS tidak ada
Bayangkan betapa repotnya kita dalam bertransaksi. Pertama, kita harus dihadapkan dengan kondisi yang mengharuskan kita memaklumi penggunaan QR yang berbeda mulai dari GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, mobile banking, kartu debit, dan segala kecanggihan pembayaran digital lainnya.
Jadi, dunia tanpa QRIS tidak berarti kita tidak mengenal pembayaran digital, tapi membuat kita harus berusaha mencari titik temu saat bertransaksi. Pedagang harus menentukan apa saja QR yang ia sediakan. Sementara kita sebagai pelanggan harus menyesuaikan QR yang cocok sesuai dengan yang disediakan oleh pedagang.
Atau bisa jadi sebaliknya, kita sebagai pelanggan memilih QR mana yang fiturnya cocok dan nyaman. Kemudian pedagang akan menyesuaikan QR mana yang ramai dipakai oleh pelanggan.
Kalau tidak cocok, alternatifnya ya kembali menggunakan uang tunai. Tapi kalau mau tetap cashless opsi lainnya adalah transfer yang hampir pasti akan merugikan kita sebagai pelanggan karena adanya biaya admin.
Kedua, efek dari QR yang terfragmentasi itu membuat kita sebagai pelanggan bisa jadi menggunakan banyak layanan digital. Saldo kita akhirnya terpecah dalam bentuk recehan ke banyak layanan digital. Misalnya Rp11 ribu di OVO, Rp23 ribu di DANA, Rp17 ribu di GoPay. Uangnya tersedia, namun seluruhnya terpencar ke dalam beberapa layanan dompet digital sekaligus. Mengapa harus begitu?
Seperti yang saya bilang, meskipun kita mencari QR mana yang paling cocok dan nyaman, tapi tetap harus punya QR dari penyedia layanan yang lain untuk antisipasi apabila QR yang kita gunakan jarang ditemukan di lapangan. Apalagi di daerah pedesaan atau perkampungan.
Kondisi itu bisa jadi sangat menyebalkan terutama bagi orang yang punya disiplin tinggi terhadap arus kas keuangan pribadi. Sebab pos pengeluarannya jadi terpecah-pecah.
Persoalan uang recehan
Ketiga, tanpa adanya QRIS kita akan dihadapkan pada persoalan uang recehan untuk kembalian. Misalnya permintaan uang pas atau uang kecil dari pedagang. Sebab mereka bisa jadi lebih sering menolak pembayaran tunai dengan nominal besar.
Apalagi untuk pembelian recehan dengan nominal Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Bisa jadi, permen mungkin tetap diposisikan sebagai alternatif umum untuk mengganti kembalian uang recehan.
Keempat, kita sebagai konsumen akan sangat bergantung dengan dompet alih-alih handphone. Saat ini, selama saldo ada uang dan handphone ada di tangan, mau beli apa pun masih mudah karena adanya QRIS.
Tapi, tanpa QRIS, kita mungkin akan sering menemukan pedagang yang tidak menerima kartu ATM, tidak punya rekening dan layanan e-wallet yang sama dengan kita, sehingga yang diterima hanya pembayaran tunai. Maka dari itu, dompet dengan jumlah uang yang cukup adalah sebuah kewajiban.
Keempat, bagi sektor informal atau pedagang kecil, ketidakhadiran pembayaran satu pintu juga sudah pasti memiliki dampak. Mungkin pelaku usaha besar yang ada di mal, hotel, atau restoran, tetap bisa punya Electronic Data Capture (mesin pembayaran elektronik).
Tapi bagaimana dengan tukang cukur, pedagang kaki lima, warung madura, kantin, pedagang pasar, atau penjual makanan di bazar? Mereka tidak selalu bersedia menyediakan semua QR dari layanan digital yang sudah ada. Berbeda dengan sekarang. Saat melihat warung kecil ada logo QRIS yang tertempel di etalase jualannya, rasanya sudah lega karena artinya kita bisa berbelanja.
Masih bisa sih, tapi, ribet
Kelima, perilaku untuk berdonasi secara spontan pun lebih sulit. Sebab tidak ada QR di kotak amal, penggalangan dana, bazar kampus, dan platform sedekah subuh yang sering melintas di Instagram. Sebab kalau ingin berdonasi secara digital, kita masih akan disibukan dengan nomor rekening dan memilih bank tujuan. Dan itu tentu menelan biaya admin. Kemudahan dalam aspek sosial dan kemanusiaan tidak akan semudah sekarang.
Itu adalah beberapa kerepotan yang menurut saya akan dialami ketika QRIS benar-benar tidak ada di masa sekarang. Seluruh kerepotan itu mungkin hanya memakan waktu semenit hingga dua menit, tapi bagaimana jadinya kalau itu terjadi hingga jutaan kali? Transaksi dalam kehidupan sehari-hari jadi amat sangat tidak efisien.
Jadi, membayangkan Indonesia tanpa QRIS tidak berarti membayangkan kehidupan masyarakat yang gaptek soal layanan pembayaran digital, melainkan lebih kepada soal transaksi sehari-hari yang bisa jadi jauh lebih ribet. Ya, meski ribet, mungkin kita tetap akan baik-baik saja. Tapi memangnya, kita pernah mau ribet?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Daftar 10 HP Xiaomi yang Resmi Tak Lagi Dapat Update, Ada Xiaomi 12 dan Poco X5
Foto: TechTablets
Teknologi.id – Xiaomi kembali memperbarui daftar perangkat yang telah memasuki masa End-of-Life (EOL) atau akhir dukungan perangkat lunak. Artinya, sejumlah smartphone dan tablet Xiaomi tidak akan lagi menerima pembaruan sistem operasi, HyperOS, patch keamanan, maupun perbaikan bug dari perusahaan.
Dalam daftar terbaru yang dipublikasikan Xiaomi, terdapat 10 perangkat yang kini resmi masuk status EOL, termasuk Xiaomi 12, Xiaomi 12 Pro, hingga Poco X5.
Lantas, perangkat apa saja yang terdampak dan apa risikonya bagi pengguna?
Berikut daftar perangkat Xiaomi yang kini tidak lagi mendapatkan pembaruan software resmi:
Xiaomi 12
Xiaomi 12 Pro
Xiaomi 12S Ultra
Poco X5
Poco X5 Pro 5G
Redmi K60E
Redmi 10 5G
Xiaomi Pad 6
Xiaomi Pad 6 Pro
Xiaomi Pad 6 Max
Seluruh perangkat di atas telah masuk daftar End-of-Life (EOL) berdasarkan pembaruan terbaru dari Xiaomi.
Apa Arti Status EOL?
Status End-of-Life (EOL) menandakan perangkat telah mencapai akhir masa dukungan perangkat lunak dari produsen.
Dengan status tersebut, perangkat tidak lagi memperoleh:
Pembaruan antarmuka HyperOS
Update sistem operasi Android
Patch keamanan bulanan
Perbaikan bug
Peningkatan performa
Hal ini merupakan bagian dari siklus dukungan perangkat yang memang telah ditetapkan Xiaomi sejak awal peluncuran produk.
Apakah HP Masih Bisa Digunakan?
Ya. Masuknya sebuah perangkat ke daftar EOL bukan berarti ponsel tidak bisa digunakan.
Pengguna tetap dapat memakai perangkat seperti biasa untuk menjalankan aplikasi, melakukan panggilan, mengakses internet, hingga aktivitas sehari-hari lainnya.
Namun, seiring waktu perangkat berpotensi menghadapi beberapa konsekuensi, seperti:
Lebih rentan terhadap celah keamanan karena tidak lagi menerima patch keamanan.
Beberapa aplikasi baru mungkin tidak lagi kompatibel dengan versi Android yang digunakan.
Performa perangkat dapat menurun seiring bertambahnya usia penggunaan.
Mengapa Xiaomi Menghentikan Update?
Penghentian pembaruan merupakan hal yang umum dilakukan oleh produsen smartphone setelah masa dukungan perangkat berakhir.
Sebagai contoh, Xiaomi 12 dan Xiaomi 12 Pro yang dirilis pada 2022 memang dijanjikan memperoleh:
3 tahun pembaruan sistem operasi Android
4 tahun pembaruan keamanan
Setelah periode tersebut berakhir, Xiaomi menghentikan dukungan software sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
Xiaomi menyarankan pengguna yang masih mengandalkan perangkat lama untuk aktivitas penting, seperti:
Mobile banking
Pekerjaan
Penyimpanan data pribadi
Transaksi digital
agar mulai mempertimbangkan menggunakan perangkat yang masih berada dalam masa dukungan resmi.
Dengan begitu, pengguna tetap mendapatkan pembaruan keamanan, fitur baru, pembaruan HyperOS, versi Android terbaru, serta berbagai peningkatan, termasuk fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirilis Xiaomi pada perangkat yang masih didukung.
Kesimpulan
Sebanyak 10 perangkat Xiaomi, termasuk Xiaomi 12, Xiaomi 12 Pro, Poco X5, dan Xiaomi Pad 6, kini resmi memasuki masa End-of-Life (EOL). Meski masih dapat digunakan seperti biasa, perangkat tersebut tidak lagi memperoleh pembaruan software maupun patch keamanan. Bagi pengguna yang mengandalkan ponsel untuk aktivitas penting, mempertimbangkan perangkat yang masih mendapatkan dukungan resmi dapat menjadi pilihan untuk menjaga keamanan dan kompatibilitas aplikasi.
Beli makanan lewat ojol berujung repot karena tak ada kembalian
Beberapa waktu terakhir, hari-hari menjelang sidang tesis, saya sering memesan makanan melalui layanan pesan antar ojek online (ojol). Alasannya sederhana saja, saya sedang pengin praktis dan efisien. Sebab, energi dan waktu hendak saya dedikasikan untuk persiapan sidang tesis.
Akan tetapi, ada satu titik saya jadi kerepotan sendiri menggunakan layanan pesanan antar makanan ini. Perkaranya sederhana saja, ojol tidak punya uang tunai untuk kembalian.
Jadi begini, supaya pengeluaran tetap terkendali, saya punya kebiasaan hanya menggunakan uang berdasarkan jatah tunai yang ada di dompet. Jadi, beli apapun pake uang itu dulu.
Ketika kondisi seperti itu, saya harus menghadapi driver Ojol yang tidak punya uang kembalian dan menuntut pelanggan dengan kalimat, “uang pas ya, Mas”.
Persoalannya, makanan yang saya beli punya nominal yang tidak selalu genap atau ada recehannya. Ditambah lagi, saya juga tidak selalu punya uang yang pas.
Kondisi itu membuat saya harus membongkar dompet, meraba-raba saku celana, sampai harus mencari uang pecahan ke warung terdekat. Niat hati biar lebih efisien, jatuhnya malah terjebak dalam situasi menyebalkan dan merepotkan.
Saya yang memesan, saya yang membayar, dan saya juga yang harus berkeliling mencari uang pas. Kan gatheli, waktu dan tenaga saya jadi terenggut. Selain itu, ada 3 aspek lain yang dilanggar oleh driver ojol dalam hal ini.
Driver ojol yang memberikan jasa semestinya lebih siap
Pertama, driver ojol adalah pihak pemberi jasa. Namanya pemberi jasa, harusnya menyediakan segala kemungkinan, termasuk perkara skema pembayaran. Jadi saat menerima pesanan makanan dengan pembayaran tunai, harusnya mereka siap dengan uang kembalian ketika uang yang diberikan pelanggan nominalnya besar.
Menurut saya, menyediakan uang pecahan kecil untuk kembalian adalah prinsip paling dasar soal kesiapan melayani pelanggan.
Kedua, sering saya temui driver Ojol yang menuntut pembayaran tunai dengan uang pas ketika tiba di lokasi. Dan, mereka dengan polosnya tidak mau tahu. Sehingga saya sebagai pelanggan harus mencari keliling warung untuk nyari uang yang pas. Kalau sudah begitu, pelanggan seperti saya jadi tidak punya banyak pilihan selain menerima.
Paling-paling setelah itu saya kasih bintang 3. Bahkan, bintang 2 kalau driver ojolnya bermuka masam atau terkesan tak peduli. Padahal, seharusnya, kalau memang tidak punya kembalian, paling tidak langsung kasih tahu melalui pesan chat sesaat setelah menerima orderan. Meski tetap saja, cara ini pun tidak bisa dibenarkan.
Ketiga, kalau memang tidak memiliki uang kembalian dan tidak siap menerima pembayaran tunai. Mengapa memaksa mengambil pesanan tersebut?
Sepengetahuan saya, metode pembayaran sudah terlihat sejak awal. Sehingga driver sudah mempertimbangkan apakah siap mengambil orderan tersebut atau tidak. Kalau memang tidak punya uang pecahan sama sekali, bukankah pesanan itu ditolak dan diberikan ke driver lain yang lebih siap?
Pemberi jasa tak bisa memaksa pelanggan menyesuaikan diri
Sangat aneh, bagaimana bisa pemberi jasa justru meminta pelanggan yang menyesuaikan. Seolah kesalahan ada pada pelanggan yang meminta pembayaran tunai, padahal fitur itu memang tersedia di aplikasi dan uang yang dipakai pun uang legal yang sah secara hukum.
Jadi, pesan saya bagi driver ojol, sebaiknya lebih persiapan terutama soal uang kembalian. Itu adalah tanggung jawab pemberi jasa, jangan bebankan itu pada pelanggan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Sebagai warga desa yang tinggal di lingkungan religius, saya sangat terkesan dengan kehidupan masyarakat yang sangat guyub. Dalam setiap hal, setiap orang seperti akan spontan menawarkan bantuan. Kami memang melakukan semua hal bersama-sama. Tak boleh ada yang tertinggal. Termasuk ketika ada yang meninggal.
Tapi, ada satu hal yang menurut saya makin berlebihan ketika ada orang meninggal. Betul bahwa muslim lainnya ibarat saudara. Dan salah satu keutamaannya, kami wajib ikut mensholatkan hingga memakamkan saat ada orang yang meninggal.
Sayangnya, kini kewajiban tersebut malah kebablasan. Seringnya malah ketambahan budaya yang tak baik. Nah, berikut saya jelaskan!
#1 Semua orang bebas melihat orang meninggal dimandikan
Di desa saya, saat ada orang meninggal, informasinya bisa tersebar dalam hitungan detik. Itu sangat baik, sebab masyarakat langsung berbondong-bondong membantu proses pemakaman.
Ada yang menggali kubur, menebang pohon, mencari bambu sebagai keranda, mengambil terop, dan lain sebagainya. Tapi, ada satu hal yang menurut saya akhirnya berlebihan, yakni saat proses memandikan jenazah.
Saya rasa, semua paham batasan-batasan aurat. Baik laki-laki maupun perempuan. Tapi, saat memandikan jenazah di desa, kadang banyaknya tamu membuat mereka tak sungkan untuk melihat proses pemandian yang meninggal. Padahal, mereka bukan siapa-siapanya.
Saya tidak masalah jika dia memiliki kepentingan. Misalnya orang yang paham cara memandikan jenazah. Tapi kadang banyak yang hanya berdiri untuk menonton saja.
Ketidaksetujuan saya ini, selain masalah aurat, kadang juga malah jadi bahan gunjingan. Entah bentuk tubuhnya, atau apa saja tentang orang yang meninggal. Menyedihkan sekali.
#2 Ada ritual agar hantu tidak gentayangan
Cerita hantu di desa saya itu sangat populer. Makanya, banyak yang mengenal desa saya sebagai desa yang angker.
Saya tak menyangkal tentang adanya jin/setan. Sebagai orang beragama saya tetap percaya pada hal gaib. Tapi, kalau orang meninggal bakal hidup lagi dan jadi hantu, saya tidak percaya, sih.
Namun, dalam konteks desa saya, kepercayaan pada hal demikian kadang sampai membuat masyarakat berlebihan. Kadang, agar si arwah yang meninggal tidak bergentayangan, mereka sering melakukan ritual tertentu. Saya tidak tahu lebih tepatnya, sebab beda orang maka kepercayaan pada teknik ritualnya berbeda-beda.
Ada tetangga saya menanam telur di pojok pekarangan rumah supaya si arwah betah di rumahnya sendiri. Haduh, jadi si tuan rumah dong yang dihantui.
#3 Tuan rumah harus jadi story teller padahal lagi sedih ditinggal meninggal
Selanjutnya, setelah memakamkan yang meninggal, ada kebiasaan buruk yang menurut saya tidak pantas. Kebiasaan itu adalah kebiasaan tamu yang menuntut si tuan rumah menjadi story teller.
Tamu model gini akan akan mengulik secara detail detik-detik sebelum yang bersangkutan meninggal. Kan tuan rumah lagi sedih itu.
Biasanya, mereka akan memulai dengan pertanyaan “sakit apa”. Oke, ini masih biasa. Namun, pertanyaan basa-basi itu akan merembet. Diobati ke mana saja, sejak kapan sakitnya, gimana kondisi anak/orang tua yang ditinggal, apa ada firasat tertentu.
Pokoknya detail kayak wartawan infotainmet. Kalau si tuan rumah tidak menceritakan, si tamu akan terus mengejar kisah orang meninggal.
Masalahnya lagi, karena budaya yang berlebihan ini, si tuan rumah akhirnya harus bercerita berkali-kali sampai tujuh hari dengan cerita yang sama. Nggak kasihan?
#4 Niat menyumbang orang meninggal malah berubah jadi utang
Saya tahu, sudah banyak sebetulnya yang membahas masalah ini. Tapi, saya ingin menambahkan betapa tidak idealnya gaya orang bertamu pada orang yang sedang berduka di desa saya.
Sejatinya, niat berkunjung ke rumah orang meninggal itu berbela sungkawa. Jika punya rezeki lebih, bagus ikut bersedekah.
Tapi di desa, hal demikian seakan-akan sudah berubah total. Orang yang berbela sungkawa, sumbangannya sudah tidak lagi untuk bersedekah, tetapi sebagai “utang” bahkan secara terang-terangan.
Sudah biasa di desa saya, warga mencantumkan nama ke beras sumbangan untuk orang meninggal. Kebiasaan ini kayak jadi “peringatan” bahwa tuan rumah juga harus menyumbang dengan nilai yang sama ketika si penyumbang berduka.
#5 Tahlil itu sedekah, tapi kini malah bikin tuan rumah susah
Ingat, SAYA TIDAK MENOLAK TAHLIL. Sebaliknya, saya sangat menyetujui budaya ini, sebab filosofinya kuat sekali.
Terlepas dari doa-doa yang oleh beberapa golongan dianggap tidak akan sampai (saya percaya itu sampai), ada hal lain yang menurut saya tetap masuk akal. Maksud saya adalah amal jariyah.
Misalnya, saat saya mengundang orang untuk mendoakan nenek saya yang meninggal, saya melihat hidangan yang saya suguhkan sebagai sedekah. Apa yang saya sedekahkan adalah bentuk terima kasih saya pada nenek yang telah mendidik saya sehingga saya punya rasa ikhlas.
Yakni, ikhlas memberikan suguhan pada para undangan. Mudah, kan. Apakah itu tidak disebut amal baik?
Ya tapi saya akui, beberapa tahlilan akhir-akhir ini memang malah kelewat batas. Orang-orang kadang sampai harus utang hanya untuk mengadakan tahlilan orang meninggal.
Padahal, sedekah itu ya semampu kita, tak perlu sampai utang. Akhirnya hanya membuat kita sendiri susah. Nah, baru ini tidak baik. Maka dari itu, ini perlu diubah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
WhatsApp Diam-Diam Punya Cara Baru Cek Kontak Online, Kini Ada Titik Hijau
Foto: WABetaInfo
Teknologi.id –WhatsApp kembali menyiapkan fitur baru yang memudahkan pengguna mengetahui apakah seseorang sedang aktif di aplikasi. Kali ini, platform perpesanan milik Meta tersebut mulai menghadirkan indikator berupa titik hijau yang muncul pada kontak yang sedang online.
Fitur ini mulai ditemukan pada WhatsApp versi beta untuk iPhone setelah sebelumnya lebih dulu hadir di versi beta Android. Kehadiran titik hijau ini menjadi cara baru untuk melihat status online tanpa harus mencari tulisan “online” seperti sebelumnya.
Selama ini, pengguna WhatsApp dapat mengetahui seseorang sedang aktif dengan melihat label “online” yang muncul di bawah nama kontak saat membuka ruang obrolan.
Namun, WhatsApp kini menambahkan indikator visual berupa titik hijau yang muncul di dekat foto profil kontak. Dengan begitu, pengguna bisa lebih cepat mengetahui apakah seseorang sedang menggunakan WhatsApp atau tidak.
Meski terlihat sederhana, fitur ini dinilai membuat pengalaman pengguna menjadi lebih praktis karena status online dapat dikenali hanya dengan melihat ikon kecil tanpa harus membaca keterangan teks.
Tidak Muncul di Semua Tempat
Menariknya, WhatsApp tidak menampilkan titik hijau tersebut secara mencolok di halaman utama aplikasi.
Indikator ini hanya muncul ketika pengguna membuka menu Info Obrolan (Chat Info). Langkah ini dianggap sebagai upaya WhatsApp untuk tetap menjaga privasi pengguna sekaligus memperkenalkan fitur baru secara bertahap.
Dengan pendekatan tersebut, pengguna yang ingin melihat status online seseorang tetap harus membuka detail kontak terlebih dahulu.
Tetap Mengutamakan Privasi Pengguna
WhatsApp juga memastikan fitur ini tidak menghilangkan kontrol privasi yang selama ini tersedia.
Apabila seseorang memilih menyembunyikan status “Terakhir Dilihat” dan “Sedang Online” melalui pengaturan privasi, maka titik hijau tidak akan muncul pada profilnya.
Artinya, pengguna tetap bisa menentukan apakah orang lain boleh mengetahui aktivitas mereka di WhatsApp atau tidak.
Kebijakan ini sejalan dengan fokus WhatsApp yang selama beberapa tahun terakhir terus memperkuat perlindungan privasi pengguna.
Mirip Facebook dan Instagram
Jika nantinya dirilis secara luas, fitur titik hijau WhatsApp akan mengikuti konsep yang sudah lama digunakan oleh Facebook dan Instagram.
Di kedua platform tersebut, indikator hijau digunakan sebagai penanda bahwa akun sedang aktif atau baru saja online. Dengan cara serupa, WhatsApp ingin membuat informasi status online lebih mudah dikenali tanpa mengubah sistem privasi yang sudah ada.
Saat ini, indikator titik hijau masih tersedia untuk sebagian pengguna versi beta di Android dan iPhone. WhatsApp belum mengumumkan jadwal resmi peluncuran global untuk seluruh pengguna.
Namun, jika proses pengujian berjalan lancar, fitur ini berpotensi hadir dalam pembaruan WhatsApp mendatang dan bisa digunakan oleh miliaran pengguna di seluruh dunia.
Kesimpulan
WhatsApp sedang menguji fitur baru berupa titik hijau sebagai indikator kontak online. Fitur ini memudahkan pengguna mengetahui apakah seseorang sedang aktif tanpa harus mencari label teks “online”. Meski begitu, WhatsApp tetap mempertahankan pengaturan privasi sehingga pengguna bisa memilih untuk menyembunyikan status aktivitas mereka.
Lenovo Bikin HP AI untuk Anak, Tak Ada Game tapi Bisa Dilacak Orang Tua
Foto: Lenovo
Teknologi.id – Lenovo resmi meluncurkan AI Student Phone, ponsel pintar yang dirancang khusus untuk anak sekolah. Berbeda dengan smartphone pada umumnya, perangkat ini sengaja dibuat tanpa game, browser internet, maupun media sosial agar anak bisa lebih fokus belajar sekaligus tetap aman saat menggunakan ponsel.
Tak hanya itu, Lenovo juga melengkapi perangkat ini dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), fitur kontrol orang tua (parental control), hingga pelacakan lokasi secara real-time. Dengan harga yang cukup terjangkau, AI Student Phone menjadi alternatif menarik bagi orang tua yang ingin memberikan ponsel kepada anak tanpa khawatir terhadap distraksi digital.
Sekilas, Lenovo AI Student Phone lebih mirip feature phone dibanding smartphone modern. Perangkat ini hadir dengan layar sentuh berukuran 1,83 inci yang sudah dilindungi Panda Glass, sehingga lebih tahan terhadap benturan ringan.
Layarnya juga mendukung input tulisan tangan (handwriting) sehingga anak dapat menulis langsung di layar saat belajar.
Untuk kebutuhan sehari-hari, ponsel ini dibekali:
Layar sentuh 1,83 inci
Baterai 1.850 mAh
Dukungan jaringan 4G
Bisa digunakan untuk panggilan suara dan video HD
Tidak memerlukan kartu SIM IoT khusus
Dilengkapi AI yang Bisa Membantu Belajar
Nilai jual utama Lenovo AI Student Phone terletak pada fitur AI Assistant.
Melalui tombol AI khusus di sisi perangkat, anak dapat langsung berbicara dengan asisten virtual untuk:
Menanyakan berbagai pengetahuan umum
Membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR)
Menjelaskan materi pelajaran
Memberikan jawaban secara interaktif melalui suara
Selain AI, Lenovo juga telah menanamkan berbagai materi pembelajaran bawaan, seperti:
Rumus-rumus matematika
Kosakata bahasa Inggris
Materi edukasi dasar
Karena tidak memiliki browser internet, anak tidak dapat mengakses situs web secara bebas sehingga penggunaan ponsel tetap terfokus pada aktivitas belajar.
Tidak Ada Game, Browser, maupun Media Sosial
Salah satu hal yang paling membedakan AI Student Phone dari smartphone biasa adalah absennya berbagai aplikasi yang sering mengganggu konsentrasi anak.
Perangkat ini tidak menyediakan:
Game
Browser internet
Media sosial
Aplikasi hiburan lainnya
Dengan konsep tersebut, Lenovo ingin menciptakan perangkat digital yang mendukung pendidikan tanpa menghadirkan distraksi berlebihan.
Orang Tua Bisa Pantau Lokasi Anak Secara Real-Time
Lenovo juga memberikan perhatian besar terhadap keamanan anak melalui berbagai fitur parental control.
Ponsel ini mendukung pelacakan GPS secara real-time, sehingga orang tua dapat mengetahui posisi anak kapan saja melalui aplikasi pendamping.
Tak hanya itu, tersedia pula fitur geofencing yang memungkinkan orang tua membuat zona aman, misalnya:
Apabila anak keluar atau masuk ke area tersebut, sistem akan langsung mengirimkan notifikasi ke ponsel orang tua.
Bisa Dikelola Jarak Jauh
Seluruh pengaturan perangkat dapat dilakukan melalui aplikasi companion yang terhubung ke ponsel orang tua.
Beberapa fitur yang tersedia antara lain:
Memblokir panggilan dari nomor tidak dikenal
Mengatur jadwal ponsel aktif dan mati otomatis
Memantau penggunaan perangkat
Mengaktifkan Classroom Mode
Saat Classroom Mode diaktifkan selama jam pelajaran, ponsel hanya akan menampilkan jam dan tetap memungkinkan anak melakukan panggilan darurat SOS apabila diperlukan.
Meski ditujukan untuk anak-anak, Lenovo tetap menghadirkan fitur pembayaran digital melalui kode QR.
Orang tua dapat:
Menentukan batas pengeluaran harian
Memantau seluruh transaksi
Mengontrol penggunaan uang saku anak melalui aplikasi
Fitur ini memungkinkan anak melakukan pembayaran secara mandiri namun tetap dalam pengawasan.
Warna dan Harga Lenovo AI Student Phone
Foto: Lenovo
Lenovo AI Student Phone hadir dengan tali gantung (lanyard) yang dapat dilepas-pasang agar lebih praktis dibawa bepergian.
Di pasar China, perangkat ini tersedia dalam tiga pilihan warna:
Harga resminya dibanderol 299 yuan, atau sekitar Rp670 ribu hingga Rp790 ribuan, tergantung kurs yang digunakan.
Cocok untuk Orang Tua yang Ingin Anak Fokus Belajar
Melalui AI Student Phone, Lenovo menawarkan konsep smartphone yang berbeda dari kebanyakan perangkat saat ini. Alih-alih mengejar spesifikasi tinggi atau hiburan, ponsel ini justru difokuskan untuk mendukung aktivitas belajar anak sekaligus memberikan rasa aman bagi orang tua.
Kombinasi fitur AI, kontrol orang tua, pelacakan lokasi real-time, hingga absennya game dan media sosial menjadikan Lenovo AI Student Phone sebagai solusi menarik bagi keluarga yang ingin memperkenalkan teknologi kepada anak secara lebih bijak dan terarah.
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Dianggap Kemewahan
“Mahal banget sih” begitulah isi kolom komentar medsos layanan kesehatan gigi. Ada banyak komentar semacam itu, tidak hanya satu atau dua saja. Latar belakang pengirimnya pun beragam, dari berbagai usia dan daerah.
Mendapati hal ini, saya berhenti sejenak sambil bertanya-tanya, apakah ini sekadar persepsi? Atau sebenarnya komentar-komentar ini hanyalah pucuk dari gunung es. Ternyata, data yang saya temukan menjawabnya dengan sangat jelas.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan mencatat, sekitar 96% orang Indonesia tidak mengunjungi dokter gigi dalam satu tahun terakhir. Artinya, hampir semua orang tidak ke dokter. Catatan lain menunjukkan, dari 57,6% penduduk yang sudah jelas punya masalah gigi, hanya 10,2% yang akhirnya memilih ke dokter.
Sisanya? Menunggu. Menahan. Atau minum obat warung sampai reda sendiri.
Ini bukan soal masyarakat yang tidak peduli kesehatan. Ini soal sistem yang belum benar-benar menjawab kebutuhan mereka.
Iya, betul. BPJS Kesehatan memang ada dan menanggung beberapa perawatan gigi dasar. Namun, itu di atas kertas, di lapangan lain cerita.
Scaling hanya ditanggung kalau dokter menyatakan ada indikasi medis. Perawatan saluran akar? Tidak masuk cakupan penuh. Gigi palsu? Hanya sebagian. Behel? Jangan harap.
Bagi jutaan orang yang tinggal di daerah tanpa fasilitas kesehatan yang punya dokter gigi, kartu BPJS tidak banyak gunanya karena memang tidak ada fasilitas kesehatan yang dituju.
Sistem jaminan kesehatan memang sudah melangkah maju, tapi untuk kesehatan gigi, jalannya masih panjang.
Ironi yang jarang dibicarakan
Sekarang saya mau cerita sesuatu yang mungkin belum diketahui banyak orang.
Pendidikan untuk menjadi dokter gigi di universitas negeri UKT-nya tergolong mahal dibanding fakultas lain, bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu jalur yang biasa, belum mereka yang masuk lewat jalur mandiri, ada tambahan biaya pengembangan institusi yang angkanya fantastis. Selain itu, masih ada biaya untuk alat, bahan praktik, dan koas yang tidak sedikit.
Artinya, orang-orang yang sedang dididik untuk membuat layanan gigi lebih baik di negeri ini, harus berjuang keras secara finansial hanya untuk bisa lulus.
Dan setelah lulus? Banyak yang akhirnya membuka praktik di kota besar karena di situlah daya belinya hadir. Bukan karena tidak mau ke daerah, tapi karena sistemnya belum cukup mendukung untuk mereka dapat bertahan di sana.
Akibatnya, distribusi dokter gigi di Indonesia masih sangat timpang. Menumpuk di Jawa dan kota-kota besar. Di daerah terpencil, distribusinya masih jauh dari merata. Ini isu yang sudah hadir bertahun-tahun, tapi anehnya ini bukan isu yang sering muncul dalam diskusi kebijakan kesehatan.
Periksa ke dokter gigi di Indonesia butuh keberanian sekaligus keberuntungan
Ketika orang membicarakan krisis layanan kesehatan, yang muncul biasanya soal dokter umum, rumah sakit, atau obat-obatan. Kesehatan gigi hampir selalu ada di urutan belakang, dianggap sekunder, bisa ditunda, dan hanya sekadar estetika.
Padahal infeksi gigi bisa menyebar ke jantung. Bisa bikin kehilangan fokus dalam menjalani rutinitas. Bisa memperburuk kondisi kesehatan lain. Ini bukan soal penampilan, ini soal kesehatan yang sungguh-sungguh.
Kita tidak bisa mengubah sistem dalam semalam. Tapi kita bisa mulai dari yang kecil, manfaatkan BPJS untuk perawatan dasar. Jangan tunggu sampai sakit baru ke dokter gigi. Satu hal lain yang tak kalah penting, terus suarakan bahwa kesehatan gigi bukan kemewahan, ini hak dasar seperti akses kesehatan pada umumnya.
Ingat, kesehatan gigi adalah hak dasar, bukan kemewahan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP Baru, Jaksa Agung Sebut Masih Ada Ketidakseragaman di Lapangan
loading…
Acara diskusi bertajuk Refleksi 6 Bulan Implementasi KUHP dan KUHAP: Membangun Sistem Peradilan Pidana yang Efektif, Akuntabel, dan Berkeadilan di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Rabu (24/6/2026). Foto: Yuwantoro Winduajie
JAKARTA – Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkap sejumlah catatan dalam enam bulan pertama penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mulai berlaku pada 2 Januari 2026 silam. Meski menilai implementasi awal berjalan cukup baik, Burhanuddin menyebut masih terdapat sejumlah kendala yang perlu segera dibenahi.
Hal itu disampaikan Burhanuddin saat membuka diskusi bertajuk Refleksi 6 Bulan Implementasi KUHP dan KUHAP: Membangun Sistem Peradilan Pidana yang Efektif, Akuntabel, dan Berkeadilan di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurut Burhanuddin, capaian selama enam bulan pertama penerapan aturan baru patut diapresiasi. Namun, ia menyatakan masih terdapat sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian. Ia menyebut tantangan pertama adalah belum tersedianya sejumlah peraturan pelaksana yang dibutuhkan untuk menjalankan ketentuan dalam KUHAP baru.
“Evaluasi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menunjukkan implementasi KUHAP baru masih terkendala karena sejumlah ketentuan seperti mekanisme keadilan restoratif, sistem peradilan pidana terpadu berbasis IT, memerlukan suatu pengaturan lebih lanjut melalui peraturan pemerintah,” ujarnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Kejaksaan telah menyusun petunjuk teknis internal sembari mendorong percepatan penerbitan regulasi turunan yang diamanatkan undang-undang.
Ungkap Penyebab Gaji Guru Tidak Naik, Prabowo: Uangnya Nggak Ada
loading…
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan penyebab gaji guru hingga PNS tidak naik saat Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama & Konferensi Besar NU 2026 di Bangkalan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Foto: Sindonews
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan penyebab gaji guru hingga pegawai negeri sipil (PNS) tidak naik. Menurut dia, anggaran tidak memadai karena ada kebocoran penerimaan negara yang diperkirakan mencapai Rp2.500 triliun setiap tahun.
Hal ini disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama & Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Prabowo membeberkan masalah kekayaan Indonesia yang bertahun-tahun mengalir keluar. “Saya ingin sampaikan dalam forum ini, karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat harus mengerti, kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang, karena uangnya nggak ada, diambil terus,” ungkapnya.
Dia kembali menyebut soal praktik under invoicing atau kecurangan pelaporan nilai transaksi yang kerap dilakukan para pengusaha selama bertahun-tahun. Hal ini turut menyebabkan kerugian negara secara masif.