Ekonom Global Sebut Program MBG Jadi Modal Investasi Jangka Panjang RI
Ekonom IQI Global, Shan Saeed, menilai fondasi ekonomi Indonesia solid di tengah ketidakpastian global. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang investasi jangka panjang untuk SDM dan ketahanan ekonomi. Kebijakan ini tidak instan, namun penting menjaga stabilitas pasokan dan kebutuhan dasar. Potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih tinggi.
Jumhur Resmi Pimpin KLHK: Tantangan Besar Wujudkan Pengelolaan Sampah RI Berstandar Global
Mohammad Jumhur Hidayat dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH) pada 27 April. Ia prioritaskan pengelolaan sampah sesuai standar global dan keterlibatan Indonesia dalam perjanjian internasional. Jumhur juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat untuk meningkatkan kepedulian lingkungan hidup sebagai kebiasaan. Targetnya menciptakan lingkungan berkelanjutan.
KLIC Fest 2026: Klaten Undang Pesepeda Dunia, Bidik Sorotan Global
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 akan berlangsung 17-24 Mei. Festival ini mengundang pesepeda nasional dan internasional. Soft launching digelar di Bundaran HI, Jakarta, 26 April 2026. KLIC Fest bertujuan mempromosikan potensi budaya, pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif Kabupaten Klaten kepada wisatawan.
Terapi Stroke Standar Global: Lompatan Besar Penanganan Pasien di Indonesia
Stroke penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi 8,3 per 1.000 penduduk (SKI 2023). PT Pyridam Farma Tbk menghadirkan Cytoflavin. Terapi neuroprotektor ini mendukung metabolisme dan respirasi seluler, meminimalkan kerusakan neurologis lanjutan pasca-serangan. Cytoflavin kini digunakan di 304 rumah sakit seluruh Indonesia.
Prabowo Telepon PM Australia: Kunci Kerja Sama Kokoh di Pusaran Dinamika Global
Presiden Prabowo Subianto dan PM Australia Anthony Albanese bertelepon. Albanese mengapresiasi persetujuan ekspor 250.000 ton pupuk urea Indonesia ke Australia. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan Indonesia juga akan mengekspor pupuk ke negara lain. Diskusi mencakup situasi global dan penguatan rantai pasokan kebutuhan pokok kedua negara.
AI “Mythos” dari Anthropic Picu Kekhawatiran Global di Sektor Keuangan
Foto: LinkedIn/UNmiss.com
Teknologi.id – Dunia finansial global kini tengah diliputi kekhawatiran besar seiring dengan kemunculan model kecerdasan buatan terbaru dari Anthropic yang dinamai Mythos. Bukan tanpa alasan, para menteri keuangan hingga petinggi perbankan internasional mulai menyuarakan kegelisahan mereka terhadap kemampuan luar biasa yang dimiliki teknologi ini. AI Mythos dinilai memiliki kapasitas analisis data ekonomi yang sangat dalam hingga mampu memprediksi fluktuasi pasar dengan akurasi yang melampaui kemampuan pakar manusia.
Kehadiran Mythos pada bulan April 2026 ini menandai babak baru dalam perlombaan teknologi AI. Berbeda dengan model bahasa sebelumnya, Mythos dirancang khusus untuk memahami struktur makroekonomi yang kompleks. Hal inilah yang memicu kekhawatiran para regulator karena pemanfaatan AI yang tidak terkendali di sektor keuangan dapat memicu ketidakstabilan pasar atau bahkan manipulasi ekonomi secara otomatis yang sulit dideteksi oleh sistem pengawasan konvensional.
Kemampuan Analisis Mythos Yang Mengguncang Perbankan
Foto: tekno.kompas.com
Pakar perbankan menyebut bahwa Mythos mampu mensimulasikan ribuan skenario ekonomi dalam hitungan detik. Bagi industri perbankan, hal ini seperti pedang bermata dua.
Di satu sisi, AI ini dapat membantu dalam penilaian risiko kredit yang sangat presisi, namun di sisi lain, jika digunakan oleh entitas yang tidak bertanggung jawab, Mythos dapat mengeksploitasi celah dalam sistem perdagangan global. Kemampuan “prediksi masa depan” ekonomi inilah yang membuat para bankir merasa posisi mereka terancam oleh dominasi algoritma.
Menteri Keuangan dari berbagai negara juga menyoroti risiko hilangnya kontrol manusia atas kebijakan fiskal jika terlalu bergantung pada saran AI.
Kekhawatiran akan terjadinya “flash crash“ atau keruntuhan pasar secara mendadak akibat reaksi berantai dari algoritma AI menjadi topik utama dalam pertemuan tingkat tinggi para pembuat kebijakan baru-baru ini. Mereka mendesak adanya regulasi ketat sebelum Mythos dan model serupa diintegrasikan lebih jauh ke dalam infrastruktur keuangan nasional.
Menanggapi kegaduhan ini, pihak Anthropic menyatakan bahwa Mythos dikembangkan dengan prinsip keamanan tingkat tinggi yang bertujuan untuk membantu kemanusiaan, bukan menghancurkan tatanan ekonomi.
Namun, penjelasan tersebut belum cukup untuk menenangkan para pemangku kepentingan. Banyak pihak menuntut adanya transparansi penuh mengenai cara kerja algoritma “kotak hitam” yang digunakan oleh Mythos agar dampaknya terhadap stabilitas moneter dapat dipetakan dengan jelas.
Tantangan terbesar di tahun 2026 ini adalah menciptakan kerangka hukum yang mampu mengimbangi laju inovasi AI yang sangat cepat. Para regulator kini dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyusun standar etika penggunaan AI di sektor keuangan.
Tanpa adanya pengawasan yang memadai, ketergantungan yang terlalu besar pada AI Mythos dikhawatirkan akan mengikis intuisi manusia dalam pengambilan keputusan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Bagi Indonesia, fenomena AI Mythos ini menjadi alarm penting untuk segera memperkuat infrastruktur keamanan siber dan literasi keuangan berbasis teknologi. Adaptasi terhadap AI dalam perbankan nasional memang diperlukan untuk efisiensi, namun tetap harus dalam pengawasan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan stabilitas sistem keuangan nasional menjadi kunci utama dalam menghadapi era disrupsi ini.
Hadirnya tantangan dari Anthropic Mythos merupakan bukti nyata bahwa kecerdasan buatan telah masuk ke jantung pertahanan ekonomi dunia. Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah, pakar teknologi, dan pelaku industri keuangan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi ini menjadi alat pendukung pertumbuhan, bukan pemicu krisis. Kesiapan mental dan regulasi yang matang akan menentukan bagaimana kita menavigasi arus kemajuan teknologi di Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompleks.
Analisis Tajam: Mengapa Ekonomi Indonesia Optimis Melesat di Atas 5% di Tengah Badai Global?
NEXT Indonesia Center, melalui Herry Gunawan, merilis “Sinyal Daya Tahan Ekonomi Indonesia”. Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 4,7%, sementara ADB 5,2%. Data OECD Composite Leading Indicator (CLI) menunjukkan ekonomi Indonesia masih di 100,52 (di atas 100), menandakan potensi pertumbuhan. Namun, penurunan tipis CLI menjadi peringatan. Pemerintah didesak perkuat investasi dan ekspor.
Ekonomi RI Dipuji IMF hingga Investor Global, Analis: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi
Apresiasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang ekonomi dunia menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian global. Menanggapi hal itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan, penilaian ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas melalui kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta sinergi yang kuat antara kebijakan moneter dan fiskal.(Foto Dok. Istimewa)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Apresiasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang ekonomi dunia menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian global.
Menanggapi hal itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan, penilaian ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas melalui kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta sinergi yang kuat antara kebijakan moneter dan fiskal.
Namun, capaian tersebut dinilai tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri. Stabilitas yang telah terjaga justru harus menjadi pijakan untuk langkah yang lebih strategis ke depan, terutama dalam memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
Fakhrul mengingatkan bahwa stabilitas bukanlah tujuan akhir. “Stabilitas adalah titik awal, bukan titik akhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mengubah stabilitas itu menjadi kekuatan—kekuatan untuk membiayai pertumbuhan, memperluas ruang kebijakan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi kita di dunia yang tidak lagi sederhana,” ucap Fakhrul, ditulis Jumat (17/4).
Menurut Fakhrul, pengakuan dari IMF dan investor global memang patut diapresiasi. Namun, ia menilai narasi ekonomi Indonesia perlu didorong lebih jauh, tidak hanya berhenti pada stabilitas, tetapi juga pada kemampuan membiayai pertumbuhan secara strategis dan berkelanjutan.
Ia menilai pendekatan Bank Indonesia yang menekankan kredibilitas kebijakan, adaptasi terhadap dinamika global, serta penguatan kemitraan internasional sudah berada di jalur yang tepat.
Meski demikian, ada dua aspek penting yang perlu diperkuat, yakni pengembangan sumber pendanaan baru dan komunikasi kebijakan fiskal yang lebih jelas.
Fakhrul menyoroti bahwa selama ini pemerintah cenderung mengandalkan narasi disiplin fiskal, seperti menjaga defisit di bawah 3% dan rasio utang yang terkendali. Meski penting, pendekatan tersebut dinilai belum cukup menjawab kebutuhan pasar saat ini.
“Selama ini, kita terlalu nyaman dengan narasi disiplin fiscal dengan defisit di bawah 3%, rasio utang terjaga. Itu penting, tapi belum cukup. Pasar hari ini ingin tahu lebih dari itu: what is the funding story? dan how credible is the path forward?,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya pergeseran komunikasi kebijakan fiskal dari sekadar berbasis aturan menuju strategi yang lebih komprehensif.
Pemerintah, kata dia, perlu secara terbuka menjelaskan arah pembiayaan jangka menengah hingga panjang, termasuk sumber dana, komposisi, dan pengelolaan risikonya.
“Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, pasar tidak hanya menghargai disiplin, tetapi juga kejelasan arah. Kita perlu mulai lebih eksplisit, dari mana sumber pembiayaan pertumbuhan akan datang, bagaimana komposisinya, dan bagaimana risiko-risikonya dikelola,” ujarnya.
Di tengah perubahan struktur ekonomi global, kebutuhan akan sumber pendanaan alternatif juga semakin mendesak. Fakhrul menilai ketergantungan pada pembiayaan berbasis mata uang kuat seperti dolar AS menimbulkan biaya yang tidak kecil.
“Ketergantungan pada sumber pendanaan global berbasis mata uang kuat seperti dolar menciptakan biaya yang tidak kecil. Di sinilah pentingnya Indonesia mulai lebih agresif membangun alternatif, termasuk melalui skema local currency settlement,” kata Fakhrul.
Ia melihat peluang dari pemanfaatan mata uang dengan imbal hasil rendah seperti offshore renminbi (CNH) sebagai sumber likuiditas yang lebih efisien, terutama untuk mendukung perdagangan dan investasi bilateral.
“Ke depan, kita harus mulai melihat bahwa tidak semua pembiayaan harus mahal. Likuiditas global itu tidak homogen. Ada kantong-kantong likuiditas dengan biaya lebih rendah, dan kita harus bisa mengaksesnya, baik melalui kerja sama bilateral maupun desain instrumen keuangan yang lebih inovatif,” tambahnya.
Lebih jauh, Fakhrul menekankan pentingnya penguatan kemitraan internasional yang tidak hanya berhenti pada pembangunan kepercayaan, tetapi juga mampu membuka akses pembiayaan yang nyata.
Ia menilai, di tengah fragmentasi ekonomi global yang semakin nyata, negara yang mampu mengamankan sumber pendanaan alternatif sekaligus mengkomunikasikan strateginya dengan jelas akan memiliki keunggulan kompetitif.
“Kita sedang masuk ke era di mana capital access saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah capital strategy. Dan strategi itu harus terlihat, harus terkomunikasikan dengan jelas, dan harus dipercaya pasar,” pungkas Fakhrul.(her/dav)
Fiskal Indonesia Diakui Dunia: IMF, Bank Dunia, dan Investor Global Apresiasi Kebijakan Strategis
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kebijakan fiskal Indonesia era Presiden Prabowo Subianto dinilai positif. IMF, Bank Dunia, dan investor global mengapresiasi kemampuan Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi cepat dengan kehati-hatian. Penilaian ini disampaikan usai pertemuan di Washington, DC.
Fundamental Ekonomi Kuat, Indonesia Jadi ‘Cahaya’ di Mata Investor Global
Indonesia menjadi sorotan positif investor global berkat fundamental ekonomi kuat dan kebijakan kredibel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu investor di AS, menegaskan minat investasi tinggi. IMF mengapresiasi stabilitas makroekonomi Indonesia sebagai titik terang ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi solid, inflasi terkendali, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi pendorong utama.