Ekonomi Indonesia Sehat: Modal Kuat Dorong Pertumbuhan 6%

Ekonom Global: Ekonomi Indonesia Sehat, Jadi Modal Kuat Genjot Pertumbuhan hingga 6%

Seorang ekonom global melontarkan klaim optimistis terhadap fondasi ekonomi Indonesia. Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menegaskan kondisi fundamental Indonesia solid di tengah ketidakpastian global, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5-6 persen. Penilaian ini disampaikan di Jakarta, Selasa, 28 April.

Klaim Saeed berlandaskan pada stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, dan konsistensi pertumbuhan yang diklaim Indonesia miliki. Indikator seperti rasio utang terhadap PDB yang rendah, defisit anggaran terkendali, dan inflasi terjaga menjadi pilar utama optimisme ini.

Ancaman Global dan Daya Tahan

Saeed memperingatkan, dunia tidak berada dalam kondisi normal. Gejolak geopolitik dan dinamika pasar keuangan menciptakan tekanan masif. Hanya negara dengan fondasi kokoh yang mampu bertahan dan maju. Dalam konteks ini, ia menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berdaya tahan.

Indonesia disebut memiliki demografi kuat, stabilitas makroekonomi, pertumbuhan konsisten, dan disiplin kebijakan. Rasio utang terhadap PDB Indonesia di bawah 40 persen, defisit anggaran di bawah 3 persen, dan inflasi terkendali di bawah 3,5 persen – jauh di bawah banyak negara maju yang inflasinya melampaui 5-6 persen.

Empat Pilar Kredibilitas

Kombinasi indikator tersebut, menurut Saeed, mencerminkan kesehatan ekonomi Indonesia. Stabilitas ini krusial untuk mendorong kepercayaan pasar dan membuka ruang pertumbuhan lebih tinggi. Empat pilar utama menopang optimisme terhadap Indonesia: stabilitas makroekonomi, konsistensi pertumbuhan, disiplin fiskal, dan kemampuan eksekusi kebijakan.

Saeed juga menyoroti peran krusial kredibilitas dalam kebijakan ekonomi. Di tengah ketidakpastian global, kredibilitas menjadi “modal baru” yang menentukan kepercayaan investor dan pelaku pasar.

Kondisi global saat ini, lanjut Saeed, memiliki kemiripan dengan krisis era 1970-an, ditandai lonjakan harga minyak dan tekanan geopolitik. Pembelajaran dari sejarah ekonomi menjadi vital dalam merumuskan kebijakan yang tepat.

“Saya ingin mulai dengan satu hal: kita tidak hidup di masa yang normal. Di tengah kondisi global yang penuh tekanan seperti sekarang, negara yang punya demografi kuat, stabilitas makroekonomi, pertumbuhan yang konsisten, dan disiplin kebijakan-mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan ini,” ujar Shan Saeed.

Ia menambahkan, perbandingan dengan negara lain menunjukkan posisi Indonesia yang kuat. “Kalau bicara Indonesia, rasio utang terhadap PDB masih di bawah 40%, defisit anggaran di bawah 3%, inflasi juga terkendali. Bank Indonesia juga melakukan pekerjaan yang bagus menjaga inflasi di bawah 3,5%. Di banyak negara maju, inflasi sudah tembus 5–6%,” terangnya.

Saeed menekankan pentingnya eksekusi dan kepercayaan. “Sekarang ini, kredibilitas itu ibarat ‘modal baru’. Kalau kebijakan dijalankan dengan disiplin, kepercayaan akan terbentuk. Yang penting bukan cuma visi yang jelas, tapi juga keyakinan dan cara eksekusi yang cerdas,” katanya.

Kendati demikian, Saeed tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5-6 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar yang melihat potensi di atas 5,4 persen. Kesehatan ekonomi Indonesia, baginya, tercermin dari keseimbangan PDB sekitar 5 persen, suku bunga 4,75 persen, inflasi 3,5 persen, dan defisit 2,9 persen.

Angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan yang melampaui biaya hidup, biaya usaha, dan defisit pemerintah. Dengan kondisi ini, klaimnya, Indonesia bukan sekadar tumbuh, tetapi mampu menjaga konsistensi pertumbuhan yang berkelanjutan.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *