Rp 600 Miliar Tiap Hari: Dana MBG Hidupkan Roda Ekonomi Petani
Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menguntungkan petani, peternak, dan pembudidaya ikan. Perputaran uang dari MBG mencapai Rp 600 miliar per hari bagi mereka, menggerakkan ekonomi pedesaan. Kebutuhan komoditas pertanian meningkat, berdampak positif pada kesejahteraan petani, serta mendukung penurunan kemiskinan dan kesenjangan di desa.
MBG Ciptakan Ekosistem Pemberdayaan: Pelaku Usaha Tumbuh, Investasi Capai Rp40 T
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden RI Prabowo telah menciptakan ekosistem pemberdayaan. Kehadiran MBG menumbuhkan pelaku usaha lokal di berbagai daerah. Hal itu dikatakan Cak Imin dalam konferensi pers ‘1 Tahun Perjalanan Makan Bergizi Gratis’ di Jakarta, Kamis (16/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden RI Prabowo telah menciptakan ekosistem pemberdayaan. Kehadiran MBG menumbuhkan pelaku usaha lokal di berbagai daerah.
“Setiap rupiah anggaran negara harus betul-betul memiliki dampak dan menghasilkan ekosistem pemberdayaan, sehingga tidak hanya memberikan gizi, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas,” ujar Cak Imin dalam konferensi pers ‘1 Tahun Perjalanan Makan Bergizi Gratis’ di Jakarta, Kamis (16/4).
Menurut Cak Imin, dampak nyata pertumbuhan ekonomi karena program MBG sudah mulai terlihat. Dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG, pelaku UMKM sekitar dilibatkan. Selain itu, banyak warga lokal yang terserap sebagai tenaga kerja di SPPG.
“Kini kita menyaksikan program MPG berjalan mulai efektif. Melibatkan banyak UMKM, tenaga kerja terus-menerus bertambah di dalam pelaksanaan SPPG, sehingga kita melihat dampak nyata pertumbuhan ekonomi dan akan terus kita dorong dari program ini,” kata dia.
Ia pun menyebut berbagai penyempurnaan terhadap program MBG terus dilakukan pemerintah. Cak Imin pun mengatakan saat ini tercatat investasi swasta pada program MBG mencapai Rp40 triliun.
“Tidak kurang investasi swasta atau publik atau masyarakat, investasi dalam program ini tidak kurang dari Rp40 triliun. Besar sekali,” ucapnya.
Karena itu, lanjut Cak Imin, pemerintah terus mendorong keterlibatan pelaku UMKM serta BUMDes untuk jadi pemasok untuk SPPG agar siklus ekonomi lokal terus berjalan. Ia menilai SPPG kini jadi kekuatan baru dalam proses ekonomi di daerah.
“Ekosistem SPPG dari hilir ke hulu harus menghasilkan peluang ekonomi masyarakat lokal. Dan tentu tidak hanya bergantung kepada BGN, tetapi bergantung kepada pemerintah dan kepala daerah,” kata Cak Imin.
“Pedagang, petani, dan peternak lokal harus terus diberdayakan. Kita punya kepentingan agar tumbuh kembangnya para pedagang, petani, dan peternak ini sebagai bagian dari keinginan kita secara ekonomi berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya. (her/dav)
Program MBG 15 Bulan: Ciptakan 1,18 Juta Lapangan Kerja, Sentuh 62,35 Juta Penerima Manfaat
Program Makan Bergizi (MBG) berusia 1 tahun 3 bulan, menunjukkan capaian signifikan. Program ini memperluas jangkauan 62,35 juta penerima manfaat dan membuka lapangan kerja. Tercatat 27.066 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta 1,18 juta relawan terlibat. Keterlibatan 116.465 supplier UMKM juga mendorong ekonomi masyarakat.
Inovasi MBG Dongkrak Produksi Susu Boyolali 400%: Suplai 2.000 Liter/Hari ke SPPG
Peningkatan produksi susu sapi PT Susu Boyolali Andalan mencapai empat kali lipat. Dari 500 liter, kini 2.000 liter per hari. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong pertumbuhan ini, melibatkan UMKM lokal. Susu Boyolali Andalan menyuplai SPPG Jawa Tengah. Potensi susu Boyolali 100.000 liter, namun serapan MBG baru 20.000 liter.
65,4% Masyarakat Dukung MBG: Sebuah Mandat Publik yang Jelas
Survei Cyrus Network (1-5 April 2026) menunjukkan dukungan publik kuat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) inisiasi Presiden Prabowo Subianto. 65,4% masyarakat Indonesia mendukung MBG. Program ini dinilai membantu pemenuhan gizi dan mengurangi beban ekonomi keluarga. Optimisme tinggi terlihat pada dampak ekonomi, kesehatan, dan peningkatan kecerdasan generasi muda.
Di Balik Dapur MBG, Perjuangan Agus Menghidupi Keluarga dan Melunasi Utang
Di balik dapur MBG, menyimpan kisah perjuangan seorang kepala rumah tangga. Agus Yusuf Widodo (53) pekerja di bagian area dapur SPPG Khusus di Kabupaten Ngawi, menyimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Selain bekerja di dapur program MBG, ia juga beternak delapan ekor kambing dan sesekali menjadi tukang pijat keliling untuk menambah penghasilan dan melunasi utangnya. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Ngawi, Idola 92.6 FM-Pagi itu, Agus Yusuf Widodo (53) sudah sibuk membersihkan area dapur SPPG Khusus di Kabupaten Ngawi. Dengan gerakan cekatan, ia menyapu dan merapikan ruang kerja, memastikan area dalam dan luar dapur tetap bersih untuk aktivitas memasak.
Di balik rutinitas itu, Agus menyimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Selain bekerja di dapur program MBG, ia juga beternak delapan ekor kambing dan sesekali menjadi tukang pijat keliling untuk menambah penghasilan.
“(Penghasilan jadi tukang pijat) tergantung orangnya. Kadang satu orang Rp50 ribu, kadang dua orang Rp100 ribu. Kadang-kadang tidak dapat pelanggan (tidak memijat),” curhatnya, ditulis Minggu (12/4).
Keterbatasan fisik tak menghalangi langkah Agus untuk terus bekerja. Sejak kecil, ia mengalami gangguan pendengaran akibat sakit panas, dan baru lima tahun terakhir menggunakan alat bantu dengar.
“Kalau tidak pakai alat bantu dengar, saya tidak jelas (mendengarnya),” katanya.
Kesempatan bekerja di dapur MBG datang dari informasi seorang teman. Tanpa ragu, Agus mencoba melamar, dan kini sudah lebih dari satu tahun ia menjadi bagian dari program tersebut.
Bagi Agus, lingkungan kerja yang menerima kondisinya menjadi salah satu hal yang membuatnya betah. Ia mengaku senang dan semakin bersemangat menjalani pekerjaan setiap hari.
“Lumayan bagus dan lancar, alhamdulillah. Saya semangat dan senang bekerja (di dapur MBG). Teman-teman juga menerima kondisi saya,” ucapnya.
Menurut Agus, penghasilan dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di dapur MBG menjadi penopang utama kebutuhan keluarga. Gaji yang diterima setiap dua minggu sekali ia manfaatkan dengan penuh perhitungan.
“Hasilnya (gaji) cair dua minggu sekali. Ini untuk bayar utang bank. Dua minggu berikutnya untuk kebutuhan,” katanya.
Utang yang ia cicil bukan tanpa alasan. Agus menggunakannya untuk membiayai pendidikan anaknya, sebuah prioritas yang ia perjuangkan di tengah keterbatasan.
“Saya mencicil di bank untuk biaya sekolah anak saya,” imbuhnya.
Program MBG pun menjadi titik terang dalam kehidupannya. Dari pekerjaan sederhana di dapur, Agus kini bisa perlahan menata kembali kondisi keuangannya.
Jika diberi kesempatan bertemu Presiden Prabowo Subianto, Agus hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih, Pak Prabowo. Saya bisa bekerja di MBG untuk mencicil utang dan memenuhi kebutuhan lainnya,” tuturnya. (her/dav)
Pasar Terjamin Berkat MBG: Mengungkap Semangat Baru Pembudidaya Ikan.
Pembudidaya ikan Dodo di Karanganyar merasakan dampak positif program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Penyerapan ikan budidaya Dodo meningkat drastis, dari 3 kuintal per hari menjadi 1 ton per minggu. Peningkatan ini menunjukkan perputaran ekonomi signifikan bagi pembudidaya ikan lokal.
Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci Keberlanjutan Program MBG
loading…
Direktur INDEF Esther Sri Astuti menyatakan krisis global akibat ketegangan geopolitik dan tekanan ekonomi dunia berdampak ke perekonomian. Di antaranya meningkatnya inflasi, khususnya pada sektor pangan. Foto/Ist
JAKARTA – Krisis global akibat ketegangan geopolitik dan tekanan ekonomi dunia berdampak signifikan terhadap perekonomian. Salah satunya yakni meningkatnya inflasi, khususnya pada sektor pangan. Kondisi ini akan memengaruhi keberlanjutan berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menyatakan bahwa dalam situasi krisis global, harga pangan cenderung mengalami kenaikan. Hal tersebut terjadi karena terganggunya rantai pasok global, meningkatnya biaya logistik, serta ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
“Ketika harga pangan naik, maka biaya penyediaan makanan bergizi dalam program pemerintah juga ikut meningkat. Di sisi lain, pemerintah memiliki keterbatasan ruang fiskal dalam APBN,” ujar Esther di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menekankan bahwa anggaran negara tidak hanya digunakan untuk satu program prioritas saja. Pemerintah tetap harus membiayai berbagai kebutuhan lain seperti subsidi energi, belanja infrastruktur, perlindungan sosial, pendidikan, hingga kesehatan. Karena itu, dalam kondisi tekanan global, pemerintah harus berhati-hati agar program yang dijalankan tidak membebani fiskal secara berlebihan.
Menurut Esther, Program MBG tetap perlu dipertahankan karena merupakan janji politik presiden sekaligus program strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, implementasinya sebaiknya tidak dilakukan secara masif di seluruh wilayah dalam waktu bersamaan.
Ia menyarankan agar program tersebut difokuskan terlebih dahulu pada daerah dengan tingkat stunting tinggi dan wilayah yang paling membutuhkan seperti kawasan 3T. Pendekatan yang lebih terarah dinilai akan membuat penggunaan anggaran lebih efisien dan tepat sasaran.
“Jika program dijalankan secara masif di tengah tekanan fiskal, dikhawatirkan akan mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam merespons gejolak ekonomi global, apalagi jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ungkapnya.
MBG: Teropong Pemerintah Bentuk Generasi Emas Masa Depan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai positif menyiapkan masa depan generasi Indonesia. Mahasiswa S3 Steve Marra menyatakan program ini memberikan jaminan nutrisi bagi pelajar, balita, dan ibu hamil. Pemenuhan gizi krusial bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, guna bersaing di kancah global.
Terungkap! MBG Jadi Kunci Lonjakan Ekonomi Pedagang Melon Pasar Gede Solo.
Penjual buah di Pasar Gede Hardjonagoro Solo merasakan peningkatan ekonomi sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai. Sugeng (44) menyebut melon paling laris dibeli Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk MBG. Penjualan melon mencapai 2-4 ton per hari, memperbaiki harga buah. Program MBG dinilai bermanfaat bagi petani dan penjual.