Program MBG: Pendapatan Petani Meroket 60%, Jaminan Pasokan Sayuran di Tengah Krisis Kemarau
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif bagi petani di Boyolali, Jawa Tengah. Petani mengalami peningkatan permintaan serta stabilitas harga komoditas pertanian. Kondisi ini memperkuat perputaran ekonomi lokal dan mendukung ketahanan pangan. Bantuan pupuk juga diterima petani untuk keberlanjutan produksi sayuran.
Harga Sayur Lebih Stabil Setelah Ada MBG, Petani Boyolali Harap Program Terus Berlanjut
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga mulai berdampak pada petani di daerah. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, petani mengakui harga sejumlah komoditas sayuran menjadi lebih stabil sejak program MBG bergulir. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Boyolali, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga mulai berdampak pada petani di daerah. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, petani mengakui harga sejumlah komoditas sayuran menjadi lebih stabil sejak program MBG bergulir.
Karisudin, petani asal Dusun Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, mengatakan dirinya menanam berbagai jenis komoditas sayur, mulai dari bawang merah hingga cabe. “Sayuran seperti selada, sawi dan kubis. Dan juga yang saya tanam saat ini adalah cabe,” katanya saat ditemui di ladang miliknya, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, cabe merupakan komoditas dengan hasil panen cukup besar dalam sekali petik, meski pemasarannya masih mengandalkan pasar tradisional. “Sekitar satu kuintalan. Untuk pemasaran kita masih ke pasar tradisional, seperti pasar sayur di Cepoko dan Bandungan,” ungkap petani sayur-mayur ini.
Menurut Karis, keberadaan program MBG memberikan dampak berbeda pada setiap komoditas. Bawang merah menjadi salah satu yang paling merasakan manfaat karena harganya lebih stabil. “Tapi untuk cabe mungkin karena MBG tidak memerlukan cabe begitu banyak, jadi harganya masih fluktuatif, naik turun seperti itu,” jelasnya.
Dengan adanya pola ini, kata Karis, petani mulai menyesuaikan pola tanam dengan kebutuhan program MBG agar mendapatkan harga yang lebih pasti dan pendapatan yang lebih jelas.
“Untuk peningkatan panen mungkin lebih banyak menanam yang komoditas yang dibutuhkan untuk MBG, karena harganya yang lumayan stabil. Jadi untuk harganya tetap, pasti ada kenaikan dengan komoditas yang semakin banyak,” urainya.
Karis berharap program MBG tetap konsisten menyerap hasil pertanian, khususnya sayuran, agar harga di tingkat petani tidak kembali tertekan.
“Untuk program MBG mungkin ada dampak tersendiri bagi petani, jika tidak membutuhkan sayur mayur dari petani lagi. Mungkin harga akan terhambat lagi. Mungkin (program MBG) dipertahankan aja, apalagi untuk komoditas sayur sayuran dipertahankan diprioritaskan di dapur-dapur MBG,” paparnya.
Karis juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah atas program MBG yang dinilai membantu meningkatkan harga hasil pertanian.
“Terima kasih untuk Pak Prabowo karena program MBG yang dijalankan saat ini membuat harga sayur mayur di petani lebih naik dari biasanya. Semoga ke depannya MBG tetap lancar dan lanjut terus tetapi tetap perhitungkan harga-harga di petani,” ujarnya.
Pengakuan petani ini menjadi gambaran bahwa program MBG tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai memberi dampak nyata terhadap stabilitas harga serta kesejahteraan petani di daerah. (her/dav)
Program MBG Jangkau Perbatasan Indonesia–Timor Leste, Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Upaya ini kini diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pendukung di kawasan perbatasan negara. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menuntaskan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Upaya ini kini diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pendukung di kawasan perbatasan negara.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menuntaskan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Kedua fasilitas tersebut berlokasi di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan PLBN Motamasin, Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran dapur MBG di kawasan perbatasan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan akses gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat peran PLBN sebagai pusat pelayanan sekaligus penggerak kesejahteraan warga.
Pembangunan fasilitas difokuskan pada wilayah yang memiliki kebutuhan layanan gizi mendesak, termasuk daerah perbatasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Dengan rampungnya pembangunan SPPG di PLBN Wini dan Motamasin, fasilitas ini diharapkan mampu mendukung pelaksanaan Program MBG, khususnya bagi anak-anak di wilayah perbatasan. Selain meningkatkan kualitas asupan gizi, keberadaan dapur MBG juga diyakini dapat menggerakkan roda ekonomi lokal.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa program ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi.
“Program MBG adalah amanat Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Program ini juga mendorong ekonomi lokal dengan melibatkan petani, nelayan, dan UMKM. Dengan demikian, MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional,” ujarnya, ditulis Senin (20/4).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di kawasan perbatasan.
“Ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan akses gizi yang layak, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat perbatasan,” tambahnya.
Fasilitas SPPG
Secara teknis, kedua SPPG tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Mulai dari dapur utama, area pencucian alat dan bahan makanan, gudang kering dan basah, hingga ruang penyimpanan peralatan.
Selain itu, tersedia pula fasilitas parkir, jaringan air bersih, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Tak hanya itu, infrastruktur tambahan seperti ruang panel, tempat pembuangan sampah (TPS), serta penataan lanskap kawasan turut dibangun guna mendukung operasional yang optimal.
SPPG di PLBN Wini berdiri di atas lahan seluas 1.408,63 meter persegi di Kabupaten Timor Tengah Utara, sementara SPPG di PLBN Motamasin dibangun di atas lahan seluas 1.469,12 meter persegi di Kabupaten Malaka.
Dengan kehadiran fasilitas ini, pemerintah berharap program MBG tidak hanya menjangkau masyarakat secara lebih merata, tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan yang selama ini membutuhkan perhatian lebih. (her/dav)
Dapur MBG: Bagaimana Santri Yatim Ini Berhasil Topang Ekonomi Keluarga?
Muhammad Zainuddin Alwi, santri yatim dari Purwodadi, merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bekerja di SPPG Klodran, ia kini menopang ekonomi keluarga dan mengembangkan keterampilan baru. Kisah Alwi menunjukkan MBG tidak hanya penuhi gizi, tetapi juga membuka peluang kerja serta memperkuat ekonomi keluarga di daerah.
Transformasi Ekonomi Petani Boyolali: MBG Picu Gelombang Permintaan Sayur
Petani Desa Senden, Boyolali, Jawa Tengah, mengalami peningkatan hasil panen signifikan. Wati, petani sayur, kini memanen hingga 300 kg cabai dan 60 kg kubis per hari. Peningkatan ini terjadi berkat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG mendorong produksi dan kemajuan petani di lereng Gunung Merbabu.
Menguak Akar MBG: Hashim Ungkap Gagasan Prabowo 2006, Jauh Sebelum Gerindra Eksis
Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden, mengungkapkan asal-usul program Makan Bergizi Gratis (MBG) Prabowo Subianto. Ide MBG ini berasal dari kepedulian Prabowo terhadap stunting. Konsep program unggulan tersebut telah dipikirkan sejak tahun 2006, jauh sebelum Partai Gerindra berdiri. Ini menunjukkan fokus Prabowo pada isu gizi.
Pabrik Tahu Sukinem: Omzet Meroket 200%, Ini Dampak Nyata Program MBG
Pengusaha tahu Sukinem (67) di Karanganyar mengalami peningkatan omzet signifikan. Usaha “Ngudi Rejeki” miliknya kini menghasilkan Rp8 juta per hari, naik dua kali lipat dari Rp4 juta. Peningkatan ini terjadi setelah Sukinem memasok tahu ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan produksi mencapai 4 kuintal kedelai per hari.
Kreatif dan Terus Beradaptasi, Usaha Las Kecil di Sukoharjo ini Dapat Order Bangun Dapur MBG
Bengkel Las Peni milik Danang Dwi Prasetyo beradaptasi dari mesin pertanian ke wastafel, ducting dapur, dan rak dapur. Ini berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto. Lima hingga tujuh dapur MBG memesan produk mereka, terutama ducting, mendorong pertumbuhan usaha dan penambahan karyawan.
Bisnis Buah MBG Meroket Tajam: Pesanan Kios Membludak, Peluang Kerja Terbuka Lebar!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif pada ekonomi lokal. Kios buah Endang Sri Lestari di Masaran, Sragen, mengalami peningkatan pesanan signifikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Ini mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha seperti Endang dan Surati di Solo.
Petani Punk Gunungkidul: Dari Berandal Jalanan, Kini Hasil Panennya Andalkan Dapur MBG
Komunitas Petani Punk Gunungkidul, Yogyakarta, didirikan Pratisna Sibag pada 2018 untuk mengatasi sawah sepi anak muda. Kini, mereka memasok bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Petani Punk berkontribusi pada ketahanan pangan lokal sekaligus menjadi kontrol sosial terhadap pelaksanaan program tersebut.