PKS Soroti Pendidikan: Bantuan & Apresiasi Guru Inspiratif, Inikah Formula Peningkatan Mutu?
loading…
PKS) enegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan bermutu untuk generasi emas berkarakter melalui peringatan Hardiknas 2026. Foto/istimewa
JAKARTA – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan bermutu untuk generasi emas berkarakter melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 bertema Pendidikan Bermutu untuk Generasi Emas Berkarakter.
Presiden PKS Almuzzammil Yusuf mengajak seluruh kader PKS menjadi center of excellence atau pusat keunggulan dalam pendidikan dengan menanamkan ruh pendidikan sesuai amanat Pasal 31 Ayat 3 UUD NRI 1945, yakni pendidikan yang meningkatkan iman, takwa, akhlak mulia, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Kita ingin seluruh kader PKS bekerja dari apa yang bisa kita lakukan; rumah tangga kita benahi, lingkungan masyarakat kita warnai, dan kegiatan digital kita diisi hal-hal positif karena anak-anak kita lebih banyak menggunakan HP,” ujar Almuzzammil saat menjadi keynote speaker dan membuka acara, Sabtu (9/5/2026).
Almuzzammil menegaskan pendidikan tidak hanya terbatas pada sekolah formal, tetapi juga mencakup pendidikan nonformal dan informal. Almuzzammil juga mengapresiasi perjuangan Fraksi PKS DPR RI dalam memperjuangkan kesejahteraan guru serta mengawal pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan & Asrama Gratis: Kisah Siswi Sekolah Rakyat, Kunci Perubahan Hidup
Pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian anak Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itulah pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat sebagai upaya membuka akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Kehadiran program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa, salah satunya Alma Rasya, siswi kelas 10 di SMA Sekolah Rakyat 13 Bekasi. (Foto Dok. Kanal Youtube Bakom RI)
Bekasi, Idola 92.6 FM-Pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian anak Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itulah pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat sebagai upaya membuka akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Kehadiran program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa, salah satunya Alma Rasya, siswi kelas 10 di SMA Sekolah Rakyat 13 Bekasi.
Alma berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang pijat dan pekerja serabutan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Sebelum mengenal Sekolah Rakyat, Alma terus berpikir dirinya tidak akan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Waktu itu saya sempat berpikir tidak bisa lanjut sekolah karena ibu sudah tidak punya biaya lagi untuk menyekolahkan saya. Tapi ternyata Allah menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai jalan agar saya bisa terus belajar,” ujar Alma, seperti dikutip dari Kanal Youtube Bakom RI)
Perjalanan pendidikan Alma tidak mudah. Saat masih duduk di bangku SMP, dirinya sempat memiliki tunggakan biaya sekolah hingga Rp11 juta. Meski begitu, ia tetap berusaha menyelesaikan pendidikannya sambil terus mendalami ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an.
“Kadang saya berpikir untuk makan saja susah, bagaimana untuk sekolah. Tapi sekarang saya sangat bersyukur karena di Sekolah Rakyat semua kebutuhan pendidikan sudah terjamin,” katanya.
Melalui program Sekolah Rakyat, Alma mendapatkan berbagai fasilitas penunjang pendidikan mulai dari seragam, alat tulis, laptop, hingga kebutuhan makan dan asrama secara gratis. Menurutnya, fasilitas tersebut membuat dirinya lebih fokus dalam belajar dan mengejar cita-cita.
“Di sini kami diberikan fasilitas yang sangat membantu untuk belajar. Semuanya sudah tersedia sehingga orang tua tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan saya selama sekolah,” jelasnya.
Selain fasilitas, Alma juga merasakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan semangat para siswa. Para guru tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga nilai etika, dan semangat perjuangan hidup.
“Guru-guru di sini tidak hanya mengajarkan ilmu akademis, tapi juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik dan bermanfaat,” ungkap Alma.
Kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat juga membentuk kedisiplinan dan kemandirian siswa. Selain kegiatan belajar di kelas, para siswa mengikuti berbagai kegiatan asrama, organisasi, hingga ekstrakurikuler yang membantu mengembangkan minat dan bakat mereka.
Meski harus jauh dari keluarga dan hidup tanpa penggunaan handphone sehari-hari, Alma mengaku banyak mendapatkan pelajaran hidup selama hampir 10 bulan menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Saya jadi lebih suka membaca dan lebih fokus belajar. Di sini saya belajar tentang perjuangan dan bagaimana menjadikan hidup lebih bermakna,” ujarnya.
Kini Alma memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri dan membahagiakan keluarganya. Ia bercita-cita menjadi dosen sekaligus reporter agar dapat mengangkat derajat keluarganya di masa depan.
“Sekolah Rakyat memberikan harapan baru dan mimpi baru untuk kami agar bisa terus sekolah dan berani bermimpi,” tutur Alma.
Program Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak Indonesia, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar mereka memiliki kesempatan yang sama dan jaminan pendidikan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kisah inspiratif Alma dapat disaksikan dalam program Sinergi Indonesia melalui kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI. (her/dav)
Hardiknas 2026: Mendesain Ulang Komunikasi Pendidikan untuk Era Partisipasi Digital
Rimba Mahardika (Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Unas) membahas Hardiknas 2026. Tema “Menguatkan Partisipasi Semesta” menyoroti rekonstruksi komunikasi pendidikan. Tantangan digital seperti scrolling culture membuat pendidikan sulit berkomunikasi dengan generasinya. Ilmu Komunikasi menekankan interaksi aktif siswa. Guru diharapkan menjadi fasilitator dialog, krusial bagi Gen Z dan Alpha.
Gaji Dosen Rendah & Minim Perlindungan: SPK Soroti Realita Pahit Pendidikan
Serikat Pekerja Kampus (SPK) mengungkap rendahnya kesejahteraan dosen pada Hardiknas 2026. SPK melaporkan 42,9% dosen bergaji di bawah Rp3 juta per bulan. Bahkan, dosen perguruan tinggi swasta ada yang berpenghasilan kurang dari Rp900.000. SPK menilai negara belum memberikan perlindungan upah minimum.
Prabowo Bidik Kualitas Pendidikan Lewat Papan Digital: Mampukah Ubah Wajah Sekolah?
Presiden Prabowo Subianto berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan nasional lewat digitalisasi. Pemerintah memfasilitasi papan interaktif digital (PID) untuk sekolah di Indonesia. Prabowo menargetkan penambahan PID dan penguatan pengajaran sistem terpusat, melibatkan guru penutur asli bahasa asing, demi pembelajaran interaktif dan bekal kompetisi global.
Sidang MK: Pihak Terkait Sebut MBG Konstitusional dan Bagian dari Pendidikan Nasional
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Perkembangan terkini, pihak Terkait dalam sidang uji materi Pasal 22 ayat (3) beserta penjelasannya dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026 menegaskan bahwa Program MBG yang diakomodasi dalam APBN sah dan tidak bertentangan dengan UUD 1945. Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum Pihak Terkait, Prof. Joko Sriwidodo, bersama tim advokat dalam sidang lanjutan uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (28/4). (Foto Dok. Istimewa/ Asatunews.co.id)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pihak Terkait dalam sidang uji materi Pasal 22 ayat (3) beserta penjelasannya dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026 menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diakomodasi dalam APBN sah dan tidak bertentangan dengan UUD 1945.
Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum Pihak Terkait, Prof. Joko Sriwidodo, bersama tim advokat dalam sidang lanjutan uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Selasa (28/4).
Adapun pihak yang diwakili dalam perkara ini terdiri atas empat warga negara Indonesia, yakni Sujimin (wiraswasta) sebagai Pihak Terkait I; Nadya Alwin (pengurus rumah tangga) sebagai Pihak Terkait II; Ayu Yudiana (guru) sebagai Pihak Terkait III; serta Rizka Rosmawati (karyawan swasta) sebagai Pihak Terkait IV.
Dalam keterangannya di hadapan Majelis Hakim MK, Joko Sriwidodo menegaskan, program MBG merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang bersifat holistik. Menurut dia, pendidikan tidak hanya mencakup aspek pedagogis, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik, termasuk gizi.
“Program MBG harus dimaknai sebagai faktor pendukung untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk manusia yang sehat, berilmu, dan berdaya saing,” ujar Joko.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan dan kecukupan gizi memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan belajar, konsentrasi, serta partisipasi siswa di sekolah. Oleh karena itu, penyediaan makanan bergizi dinilai relevan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Pihak Terkait juga menolak dalil Pemohon yang menyebut anggaran pendidikan seharusnya hanya digunakan untuk fungsi pedagogis. Menurut mereka, pendekatan tersebut terlalu sempit dan tidak mencerminkan konsep pendidikan nasional yang komprehensif.
Selain itu, tudingan bahwa MBG menyebabkan distorsi anggaran pendidikan juga dibantah. Pihak Terkait menyebut program tersebut justru memperkuat efektivitas belanja pendidikan dengan meningkatkan kesiapan belajar siswa serta mengurangi beban ekonomi keluarga.
Program MBG Disebut Sesuai Prinsip Negara Hukum
Selain itu, Joko menyatakan bahwa program MBG telah melalui proses perencanaan dan penganggaran yang sah sesuai dengan prinsip negara hukum (rule of law). Program tersebut, kata dia, telah dirumuskan sejak 2024 dan menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
“Program ini telah melalui tahapan perencanaan, pembahasan bersama DPR, hingga pengesahan dalam APBN 2026. Dengan demikian, tidak ada pelanggaran prinsip konstitusional,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa sebagai kepala pemerintahan dalam sistem presidensial, Presiden memiliki kewenangan untuk menjalankan program prioritas yang telah disahkan dalam peraturan perundang-undangan.
Menanggapi dalil Pemohon terkait kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG, Pihak Terkait menilai hal tersebut bersifat kasuistis dan tidak dapat digeneralisasi sebagai kegagalan program secara keseluruhan. Sebab, pelaksanaan MBG telah dilengkapi dengan standar keamanan pangan yang ketat, mulai dari pengadaan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
“Peristiwa keracunan tidak mencerminkan keseluruhan sistem, karena program ini dijalankan dengan mekanisme pengawasan dan standar higienitas yang jelas,” kata Joko.
Berdasarkan seluruh argumentasi tersebut, Pihak Terkait meminta Mahkamah Konstitusi untuk menolak permohonan para Pemohon. Mereka menilai ketentuan Pasal 22 ayat (3) UU APBN 2026 beserta penjelasannya tidak bertentangan dengan UUD 1945, melainkan justru memperluas makna pembiayaan pendidikan secara konstitusional.
“Program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” tutup Joko. (her/dav)
Pendidikan Berbasis Kompetensi: Kunci Masa Depan Versi Kongres Iterati 2026
Iterati dan Citiasia menyoroti masalah SDM Indonesia: ketidaksesuaian lulusan dengan dunia kerja. Hanya 64% pekerja muda sesuai kualifikasi, 22,36% overeducation. Solusi mendesak adalah reposisi sistem pendidikan dari gelar ke ekosistem berbasis kompetensi. Sertifikasi profesi serta pendidikan vokasi harus terhubung industri, didukung peta talenta jelas.
Digitalisasi Pendidikan: Ikhtiar Kemajuan atau Ujian Keadilan?
loading…
Ahmad Lazuardi Al-Fitrie, Mahasiswa Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Pakuan, dan Ketua Harian Yayasan Nida El-Adabi. Foto/Ist
Ahmad Lazuardi Al-Fitrie
Mahasiswa Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Pakuan Ketua Harian Yayasan Nida El-Adabi
DIGITALISASI pendidikan kerap dipandang sebagai jalan cepat menuju kemajuan. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi melalui berbagai kebijakan, mulai dari platform pembelajaran digital, program smartboard/interactive flat panel, pengadaan perangkat laptop hingga penguatan kompetensi guru berbasis teknologi.
Dalam kerangka besar, langkah ini merupakan ikhtiar strategik untuk menjawab tantangan zaman. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan dengan jernih adalah: apakah digitalisasi ini benar-benar menghadirkan keadilan, atau justru menjadi ujian baru bagi pemerataan pendidikan?
Realitas Ketimpangan Akses
Data menunjukkan bahwa tantangan tersebut nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 78,19% rumah tangga di Indonesia telah memiliki akses internet, namun kesenjangan masih terlihat jelas antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Di perkotaan, akses internet mencapai lebih dari 85%, sementara di perdesaan masih berada di kisaran sekitar 67%. Artinya, hampir sepertiga rumah tangga di desa belum memiliki akses internet yang memadai.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan bahwa masih terdapat puluhan ribu satuan pendidikan yang belum memiliki akses internet memadai. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, sekitar 27.650 satuan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan DIKDASMEN (Pendidikan Dasar dan Menengah) di Indonesia masih menghadapi keterbatasan konektivitas, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Sekitar 86% sekolah di Indonesia belum memiliki fixed broadband yang memadai serta 3.323 sekolah belum memiliki jaringan listrik. Angka ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya digitalisasi belum berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya merata.
Sempat Terisolir, Jembatan Gantung Nglebur Blora Buka Akses Pendidikan dan Ekonomi Warga
Setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses, warga Dukuh Nglebur, Desa Kali Gede, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kini merasakan perubahan nyata. Pembangunan jembatan gantung di wilayah tersebut membuka akses pendidikan bagi anak-anak sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Blora, Idola 92.6 FM-Setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses, warga Dukuh Nglebur, Desa Kali Gede, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kini merasakan perubahan nyata. Pembangunan jembatan gantung di wilayah tersebut membuka akses pendidikan bagi anak-anak sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebelumnya, sekitar 100 warga di wilayah ini kerap terisolasi, terutama saat musim hujan. Sungai yang meluap membuat akses terputus, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah dan aktivitas warga terganggu. Seorang warga, Soekar (62), mengungkapkan kondisi sebelum adanya jembatan.
“Anak-anak, putu-putu kulo ajeng sekolah nek wonten banjir boten iso lewat (anak-anak cucu saya mau berangkat sekolah, kalau banjir tidak bisa lewat),” ujarnya saat ditemui di sekitar jembatan Nglebur, Blora, Senin (27/4).
Kini, keberadaan jembatan gantung sepanjang 35 meter dan lebar 1,5 meter yang melintasi Sungai Nglebur menjadi penghubung vital bagi wilayah yang sebelumnya terisolasi. Infrastruktur ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Anak-anak kini dapat kembali bersekolah dengan aman tanpa khawatir terhambat banjir.
Babinsa Desa Nglebur, Sertu Joko Masubambang, menjelaskan bahwa persoalan akses ini telah lama menjadi keluhan warga.
“Dengan keluhan warga sekitar 18 KK dengan jumlah penduduk kurang lebih 100 jiwa itu, kasihan lihat anak-anak sekolah kalau musim hujan tidak sekolah, ngaji, semuanya terbengkalai,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan jembatan ini merupakan respons cepat terhadap kebutuhan masyarakat. “Dengan adanya program Bapak Prabowo itu, kita mengajukan. Dan terima kasih, setelah satu bulan, belum ada satu bulan, pengajuan sudah direalisasi,” lanjutnya.
Selain membuka akses pendidikan, jembatan ini juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga, terutama petani yang kini lebih mudah menjangkau lahan serta mendistribusikan hasil panen.
Kepala Dusun Nglebur, Ahmad Dian Purnama, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat. “Jarak pengajuan dengan pelaksanaan sangat cepat sekali, karena sangat dibutuhkan warga kami. Ketika hujan, aliran sungai besar, anak sekolah nggak bisa lewat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas realisasi pembangunan tersebut. “Terima kasih sekali kepada Bapak Prabowo yang sudah memberikan pembangunan jembatan ini sehingga warga sangat senang,” tambahnya.
Pembangunan jembatan gantung ini diselesaikan dalam waktu sekitar tiga minggu dengan dukungan gotong royong warga bersama TNI. Antusiasme masyarakat tinggi karena jembatan tersebut menjadi kebutuhan mendesak yang telah lama dinantikan.
Kini, jembatan tersebut tidak hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi simbol terbukanya akses pendidikan dan penguatan ekonomi warga Desa Nglebur. (her/dav)
Terbebani Biaya, Ibu Ini Bangkit! Asrama Gratis Sekolah Rakyat Selamatkan Pendidikan Anaknya
Ibu Sawinah, warga Pati, menghadapi keterbatasan ekonomi. Anaknya, Bayu Laksono, kini dapat melanjutkan pendidikan SMP berkat Sekolah Rakyat. Program ini, gagasan Prabowo Subianto, menyediakan asrama dan perlengkapan sekolah gratis. Ini meringankan beban keluarga serta meningkatkan kemandirian Bayu. Pendidikan kini terjamin.