Akhiri Keterbatasan: Anak Buruh Tani Kini Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat Pemerintah
Punijah, buruh tani di Sragen, bersyukur anaknya, Ahmad Lutfi, dapat kembali bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen. Sebelumnya, Lutfi putus sekolah karena kendala biaya. Program ini menjamin pendidikan anak tanpa biaya. Punijah juga menerima bantuan sosial untuk menopang ekonomi keluarga.
Sekolah Rakyat & Pemerintah: Kisah Nenek Dampingi Yatim Piatu Wujudkan Mimpi Jadi Tentara
Mbah Aina (73) di Surakarta mengasuh Aditya, anak yatim piatu. Ia berjuang membiayai pendidikan Aditya. Kini, Aditya bersekolah gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program Presiden Prabowo Subianto. Sekolah ini memfasilitasi Aditya mewujudkan cita-citanya menjadi tentara.
BBM Nonsubsidi Meroket Tak Terkendali: DPR Angkat Bicara Soal Beban Rakyat
Kenaikan harga BBM nonsubsidi secara drastis dikritik Anggota DPR Mufti Anam. Kebijakan Pemerintah via Pertamina ini dinilai memberatkan rakyat, padahal sebelumnya sempat ada narasi harga BBM tidak akan naik. Kritik DPR menyoroti dampak kenaikan bahan bakar ini terhadap masyarakat.
Sekolah Rakyat: Melampaui Asrama Gratis, Mengukir Bakat Siswa Miskin Lewat Taekwondo dan Seni Tari
Siswa Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi mencatat prestasi dari berbagai bidang. Mereka meraih 2 emas, 1 perak, 1 perunggu di Taekwondo Bekasi Open III 2026. Grup pencak silat dan seni tari juga memperoleh medali. Sekolah Rakyat mengembangkan minat bakat serta menyediakan pendidikan gratis bagi siswa.
Dari Gerobak Tahu Bulat ke Ruang Kelas: Kisah Inspiratif Dai Mengubah Hidup di Sekolah Rakyat
Program Sekolah Rakyat di Bekasi menyediakan pendidikan gratis bagi siswa putus sekolah. Daifulloh Afif (19) adalah salah satu peserta yang kini melanjutkan pendidikan di SRMA 13 Bekasi. Program ini membantu individu terkendala ekonomi untuk kembali bersekolah. Fasilitas pendidikan dan kebutuhan siswa disediakan gratis.
Sekolah Rakyat Ubah Nasib: Anak Ojol Lolos Kuliah Data Analyst di AS
Akbar Varel Areva (17) dari Bekasi, anak pengemudi ojek online, kembali bersekolah melalui program pemerintah Sekolah Rakyat. Program ini memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak keluarga miskin, memutus rantai kemiskinan. Di SRMA Bekasi, Akbar kini bercita-cita menjadi Data Science Analyst. Sekolah Rakyat memberikan pendidikan berasrama gratis dengan fasilitas lengkap untuk masa depan siswa.
Prabowo Gagas Sekolah Rakyat di Tiap Kota/Kabupaten: Solusi Fundamental atau Ide Revolusioner Pendidikan?
Presiden Prabowo Subianto memprioritaskan pembangunan Sekolah Rakyat di setiap kota/kabupaten. Program ini bertujuan menyelenggarakan pendidikan gratis bagi anak-anak keluarga miskin. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan hal tersebut di Kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (16/4/2026), menegaskan ini sebagai perintah presiden.
Kopdes Merah Putih Tak Bebani APBN, Justru Optimalkan Dana Desa untuk Ekonomi Rakyat
Pemerintah memastikan bahwa program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Skema anggaran yang digunakan justru mengoptimalkan dana yang telah tersedia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal itu dikatakan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal, Rabu (15/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah memastikan bahwa program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Skema anggaran yang digunakan justru mengoptimalkan dana yang telah tersedia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal, menyampaikan bahwa berbagai sumber pendanaan seperti dana desa, Dana Alokasi Umum (DAU), serta Dana Bagi Hasil (DBH) memang telah dialokasikan sejak awal melalui mekanisme fiscal recycling atau daur ulang fiskal. Oleh karena itu, implementasinya saat ini tidak menambah beban baru bagi keuangan negara.
“Sudah dianggarkan, jadi itu bukan beban tambahan, tetapi merupakan fiscal recycling,” ujarnya pada Rabu (15/4).
Lebih lanjut, Fithra menjelaskan bahwa distribusi anggaran ke desa tidak bersifat merata dalam jumlah yang sama.
Besaran dana yang diterima setiap desa bergantung pada skala usaha dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Sebenarnya, dengan skala usaha seperti ini, ada yang mendapat Rp500 juta, ada yang Rp1 miliar. Tidak semuanya mendapat Rp3 miliar,” jelasnya.
Fithra juga menekankan bahwa dana desa harus segera disalurkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Hal ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan berbasis desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dana desa itu memang sudah memiliki alokasi per desa. Jadi, harus segera disalurkan,” tegasnya.
Dalam konteks distribusi, Fithra mengatakan pemerintah telah mengusung pendekatan pembangunan dari desa dengan menciptakan ‘engine’ atau mesin penggerak ekonomi daerah melalui sistem yang telah disiapkan sejak awal.
“Engine daerah itu dibangun dan disiapkan sejak awal. Dalam perkembangannya, hal tersebut dapat menciptakan efek skala ekonomi yang memadai,” ungkapnya.
Pemerintah berharap, melalui optimalisasi penggunaan dana desa serta penguatan sistem di tingkat daerah, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dapat terwujud dari akar rumput.
“Pemerintah menyadari bahwa permasalahan kemiskinan struktural memerlukan intervensi yang sistematis. Salah satunya, sesuai dengan Asta Cita, adalah membangun dari desa, membangun dari bawah,” pungkas Fithra. (her/dav)
Fikri: Bagaimana Sekolah Rakyat Mengubah Jalan Hidup Pemulung, Mengembalikan Senyum dan Harapan
Dari memulung ke Sekolah Rakyat. Hal itu dialami Fikri bocah asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat. Ia sempat tinggal bersama neneknya di Jakarta dan ikut memulung sampah plastik di jalanan demi bertahan hidup. Dari membawa karung berisi barang bekas, kini ia membawa buku dan pensil ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat. (Foto Dok Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Sumedang, Idola 92.6 FM-Fikri tersenyum lebar saat tangannya sibuk mewarnai gambar di dalam kelas. Anak berusia 6 tahun itu kini menikmati hari-harinya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat, sesuatu yang dulu terasa jauh dari kehidupannya.
Fikri adalah bocah asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat. Ia sempat tinggal bersama neneknya di Jakarta dan ikut memulung sampah plastik di jalanan demi bertahan hidup. Dari membawa karung berisi barang bekas, kini ia membawa buku dan pensil ke sekolah.
Di ruang kelas, Fikri menjalani hari-hari seperti anak seusianya. Ia belajar membaca dan berhitung, menggambar, hingga bermain bersama teman-teman. Sesekali, ia mencoba permainan edukatif di papan tulis interaktif (interactive flat panel) atau bermain lego dengan penuh antusias.
“Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ujar Fikri polos, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Tak hanya belajar, Fikri juga merasakan perhatian yang sebelumnya jarang ia dapatkan. Di sekolah, ia memperoleh makanan bergizi setiap hari. “Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” katanya sambil tersenyum.
Kini, perlahan, rasa percaya dirinya tumbuh. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian,” tuturnya.
“Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak,” ujarnya dengan suara lantang dan wajah ceria.
Perjalanan Fikri menuju bangku pendidikan bukanlah cerita mudah. Kehidupan di jalanan membuatnya harus kehilangan masa kecil yang semestinya diisi dengan bermain dan belajar. Kondisi itu kemudian menarik perhatian aparat kepolisian yang membantu memulangkannya ke kampung halaman di Sumedang.
Sejak saat itu, berbagai bentuk pendampingan diberikan. Pemerintah memastikan Fikri mendapatkan akses pendidikan yang layak sekaligus dukungan kebutuhan dasar untuk keluarganya. Tak hanya Fikri, adiknya, Naufal, juga kini didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) agar keduanya bisa tumbuh dengan hak pendidikan yang terpenuhi sejak dini.
Bantuan lain turut mengalir, mulai dari kebutuhan pokok, pengurusan administrasi kependudukan, hingga jaminan layanan kesehatan melalui BPJS. Bahkan, rumah keluarga Fikri juga mendapatkan bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) melalui kolaborasi pemerintah daerah, kepolisian, dan PMI. Sang ibu pun memperoleh bantuan modal usaha untuk memperkuat ekonomi keluarga.
Kini, langkah kecil Fikri di ruang kelas menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah. Dari jalanan yang keras, ia menemukan harapan baru, di bangku sekolah, bersama mimpi-mimpi yang perlahan tumbuh. (her/dav)
Koperasi Jateng: Terobosan Pemprov Perkuat Ekonomi Rakyat
Koperasi di Jawa Tengah memperkuat ekonomi rakyat. Terdapat 19.022 koperasi aktif dengan aset Rp60,13 triliun. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) beroperasi di 6.271 unit, mendorong UMKM naik kelas. Dekopinwil Jateng fokus pada pemerataan kesejahteraan dan transformasi digital, serta penguatan usaha.