Menkeu

Menkeu

Rupiah terus terkapar di hadapan dolar Amerika Serikat, namun pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak mengklaim pelemahan ini hanya bersifat sementara, didorong sentimen jangka pendek dan faktor musiman. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo bersikukuh fundamental ekonomi domestik tetap kokoh, menjamin rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Klaim meredanya tekanan rupiah ini disampaikan di Jakarta pada Senin (18/5), di tengah kegelisahan pasar. Kedua otoritas meyakini mata uang Garuda akan pulih ke rentang 16.200–16.800 per dolar AS pada semester kedua tahun ini, terutama antara Juli hingga September.

Dalih Pelemah Rupiah

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelemahan rupiah tidak perlu disikapi berlebihan. Pemerintah berdalih fokus utama kini menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tidak terganggu. Ia bahkan menepis kekhawatiran krisis 1997-1998 terulang, menyebut situasinya “sangat berbeda,” tanpa merinci perbedaan fundamental yang meyakinkan.

Perry Warjiyo dari BI menambahkan, penguatan dolar AS ini sebagian besar dipicu faktor musiman. Kebutuhan pembayaran jemaah haji, dividen, dan utang menjadi kambing hitam utama di balik lonjakan permintaan dolar, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik yang kerap dipertanyakan.

BI mengklaim telah belajar dari krisis 1997-1998, di mana stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi. Kini, BI memilih membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya menarik inflow dan mencegah kekeringan likuiditas, sebuah strategi yang diyakini menjaga stabilitas tanpa intervensi berlebihan.

Bank sentral juga menyatakan kesiapan untuk melakukan langkah lanjutan guna memperkuat rupiah apabila tekanan pasar terus berlanjut. Namun, detail konkret mengenai langkah-langkah tambahan ini masih kabur, menyisakan pertanyaan tentang efektivitas intervensi yang akan diambil.

Keyakinan terhadap penguatan rupiah pada periode Juli hingga September didasarkan pada pengalaman beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan tingginya suku bunga acuan di Amerika Serikat menimbulkan keraguan apakah pola musiman ini akan cukup kuat untuk melawan sentimen negatif yang lebih luas.

Optimisme di Tengah Tekanan

Purbaya menyampaikan, “Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini.”

Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, “Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang.” Ia optimistis, “Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN.”

Perry juga menegaskan, “Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow.”

Meskipun fundamental ekonomi diklaim kuat dan pola musiman diharapkan mereda, pasar tetap menanti bukti nyata dari janji penguatan rupiah ini. Optimisme pemerintah dan BI berhadapan langsung dengan realitas tekanan pasar yang berkelanjutan, menuntut lebih dari sekadar jaminan verbal.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *