Menkeu

Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menilai pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, dalam siaran pers di Jakarta, Senin (18/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)

Jakarta, Idola 92.6 FM-Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menilai pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan lantaran kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.

Menurut dia, pemerintah saat ini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga.

“Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5).

Ia mengatakan, sebagian sentimen negatif yang membayangi rupiah muncul karena kekhawatiran bahwa kondisi saat ini menyerupai krisis 1997–1998. Namun, Purbaya menilai situasinya sangat berbeda.

Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Perry menjelaskan, penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu faktor musiman. Karena itu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara.

“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.

BI meyakini tekanan tersebut akan mereda pada semester kedua tahun ini. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah biasanya mulai menguat pada periode Juli hingga September.

“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.

Keyakinan itu juga menjadi dasar BI untuk tetap menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengganggu likuiditas di dalam negeri.

Perry menegaskan, bank sentral siap melakukan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah apabila diperlukan.

Perry menambahkan, BI juga belajar dari pengalaman krisis 1997–1998. Saat itu, fokus besar pada stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi.

“Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow,” tegas Perry.

Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta pola musiman yang diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah dan BI optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama dan mata uang Garuda masih berpeluang kembali menguat. (her/dav)

350
Menkeu

Rupiah terus terkapar di hadapan dolar Amerika Serikat, namun pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak mengklaim pelemahan ini hanya bersifat sementara, didorong sentimen jangka pendek dan faktor musiman. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo bersikukuh fundamental ekonomi domestik tetap kokoh, menjamin rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Klaim meredanya tekanan rupiah ini disampaikan di Jakarta pada Senin (18/5), di tengah kegelisahan pasar. Kedua otoritas meyakini mata uang Garuda akan pulih ke rentang 16.200–16.800 per dolar AS pada semester kedua tahun ini, terutama antara Juli hingga September.

Dalih Pelemah Rupiah

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelemahan rupiah tidak perlu disikapi berlebihan. Pemerintah berdalih fokus utama kini menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tidak terganggu. Ia bahkan menepis kekhawatiran krisis 1997-1998 terulang, menyebut situasinya “sangat berbeda,” tanpa merinci perbedaan fundamental yang meyakinkan.

Perry Warjiyo dari BI menambahkan, penguatan dolar AS ini sebagian besar dipicu faktor musiman. Kebutuhan pembayaran jemaah haji, dividen, dan utang menjadi kambing hitam utama di balik lonjakan permintaan dolar, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik yang kerap dipertanyakan.

BI mengklaim telah belajar dari krisis 1997-1998, di mana stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi. Kini, BI memilih membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya menarik inflow dan mencegah kekeringan likuiditas, sebuah strategi yang diyakini menjaga stabilitas tanpa intervensi berlebihan.

Bank sentral juga menyatakan kesiapan untuk melakukan langkah lanjutan guna memperkuat rupiah apabila tekanan pasar terus berlanjut. Namun, detail konkret mengenai langkah-langkah tambahan ini masih kabur, menyisakan pertanyaan tentang efektivitas intervensi yang akan diambil.

Keyakinan terhadap penguatan rupiah pada periode Juli hingga September didasarkan pada pengalaman beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan tingginya suku bunga acuan di Amerika Serikat menimbulkan keraguan apakah pola musiman ini akan cukup kuat untuk melawan sentimen negatif yang lebih luas.

Optimisme di Tengah Tekanan

Purbaya menyampaikan, “Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini.”

Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, “Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang.” Ia optimistis, “Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN.”

Perry juga menegaskan, “Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow.”

Meskipun fundamental ekonomi diklaim kuat dan pola musiman diharapkan mereda, pasar tetap menanti bukti nyata dari janji penguatan rupiah ini. Optimisme pemerintah dan BI berhadapan langsung dengan realitas tekanan pasar yang berkelanjutan, menuntut lebih dari sekadar jaminan verbal.

More like this
Namanya Disebut dalam Pleidoi Nadiem, Jokowi: Yang Saya Tahu Pak Nadiem Orang Baik

Namanya Disebut dalam Pleidoi Nadiem, Jokowi: Yang Saya Tahu Pak Nadiem Orang Baik

admin
Pesan Khusus Kepala Bakom Qodari untuk Nanik S Deyang: Perbaiki Tata Kelola MBG

Pesan Khusus Kepala Bakom Qodari untuk Nanik S Deyang: Perbaiki Tata Kelola MBG

admin
3 Oknum Prajurit TNI Pelaku Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank Divonis 1 hingga 13 Tahun Penjara

3 Oknum Prajurit TNI Pelaku Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank Divonis 1 hingga 13 Tahun Penjara

admin