Samuel Wattimena Tegaskan: Bukan Emas, Kekayaan Indonesia Ada pada Keragaman Motif Kerajinan.

Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai keragaman motif kerajinan adalah kekayaan Indonesia. Negara kepulauan ini kaya seni budaya daerah. Samuel menekankan pentingnya mempertahankan keunikan motif lokal, menolak standardisasi tren industri. Lomba melukis kipas dan payung di Semarang diapresiasi, berpotensi mengembangkan ekonomi kreatif desa wisata serta identitas lokal.

2,396
Samuel Wattimena Tegaskan: Kekayaan Indonesia Ada pada Keragaman Motif Kerajinan

Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menyerukan penolakan keras terhadap standardisasi motif dan warna dalam kerajinan seni Indonesia. Pernyataan ini ia lontarkan di Semarang, Minggu (19/10/2025), menegaskan bahwa upaya menyeragamkan identitas seni daerah sama dengan merampas kekayaan kultural bangsa.

Wattimena, seorang desainer, menggarisbawahi posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya etnik, bukan negara kontinental yang cenderung homogen. Kekuatan Indonesia terletak pada keberagaman etnik yang menghasilkan ragam seni unik, sebuah aset vital yang terancam jika tunduk pada tren pasar global.

Ancaman Homogenisasi

Desakan untuk menyamakan tren warna dan motif, seperti yang lazim di industri raksasa luar negeri, adalah langkah bunuh diri bagi identitas kreatif Indonesia. Kebijakan semacam itu membonsai potensi kreatif yang tumbuh dari akar budaya lokal.

Ia menyoroti bagaimana industri besar seringkali mendikte tren demi kelangsungan usaha mereka. Namun, kondisi Indonesia jauh berbeda, setiap daerah dan etnik membawa “titik-titik puncak dari karya-karya kreatif” yang tidak boleh diseragamkan atau dihomogenisasi.

Di tengah kritik tersebut, Wattimena mengapresiasi Lomba Melukis Payung dan Kipas 2025 di Semarang. Ajang ini, menurutnya, berpotensi besar mengangkat payung dan kipas sebagai ikon negara tropis, dan menjadi pendorong ekonomi kreatif di desa-desa wisata, asalkan tetap mempertahankan identitas lokal.

Suara Kritis dari Parlemen

“Karena negara kita ini adalah kepulauan, bukan negara kontinental. Kelebihan kita adalah pada keragaman etnik,” kata Samuel Wattimena, Minggu.

“Maka, masalah tren warna ataupun motif jangan diberikan batasan seperti industri-industri besar di negara-negara luar,” tegas Wattimena, menyoroti bahaya imitasi model industri asing.

“Jadi, menurut saya pribadi tidak boleh dibuat tren warna dan tren motif. Setiap elemen di setiap daerah, setiap etnik yang berbeda itu adalah titik-titik puncak dari karya-karya kreatif. Enggak boleh disamakan,” ucapnya, menancapkan argumennya.

Ia juga melihat potensi dari event lokal, “Kita sebagai negara tropis butuh kipas, butuh payung. Apalagi, kalau kemudian dilanjutkan dipasarkan ke berbagai desa wisata. Akan ada begitu banyak ragam payung dan kipas yang punya identitas dari desa wisata masing-masing.”

Upaya Lokal dan Tantangan Ke Depan

Lomba Melukis Payung dan Kipas 2025 sendiri diinisiasi oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dengan koordinator Teo Ruddy. Tujuan utamanya adalah mengungkit ekonomi kreatif dan nilai tambah bagi desa-desa wisata di Semarang.

Sebanyak 400 peserta memadati lomba ini, terbagi untuk melukis kipas dan payung, dengan tema “Warak Ngendog”-ikon mitologi akulturasi budaya Kota Semarang. Penilaian menekankan orisinalitas, kebersihan, dan kesesuaian dengan tema pariwisata serta mitologi kota. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah pernyataan keras dari Senayan ini akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang melindungi dan memperkuat keunikan seni lokal dari serbuan tren homogen global, atau hanya sekadar retorika di tengah hiruk pikuk acara seni daerah?

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin