DPR Serukan Gerakan Intensif: Selamatkan Warisan Seni Tradisional Bersama Generasi Muda

Anggota DPR Samuel Wattimena tekankan pentingnya kenalkan kesenian tradisional, termasuk wayang orang, kepada generasi muda. Acara “Wayang Orang on The Street” di Kota Lama Semarang sukses menarik perhatian. Samuel mengapresiasi dan mendorong kegiatan ini rutin karena berdampak positif bagi UMKM, serta melestarikan budaya bangsa.

2,782
DPR Dorong Generasi Muda Lestarikan Warisan Seni Tradisional

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, mendesak pemerintah dan pegiat seni untuk mengintensifkan pengenalan wayang orang ke generasi muda, menyoroti ancaman pudarnya budaya lokal di tengah gempuran hiburan asing. Desakan ini muncul setelah ia menyaksikan antusiasme kaum muda pada pergelaran “Wayang Orang on The Street” di kawasan Kota Lama Semarang, Minggu (14/9).

Wattimena menuding kurangnya narasi komprehensif sebagai penyebab utama ketidaktahuan generasi muda tentang wayang. Ia menekankan bahwa hanya apresiasi tidak cukup; dibutuhkan strategi konkret dan berkelanjutan untuk menjaga relevansi seni tradisional dari marginalisasi.

Urgensi Revitalisasi Budaya

Pergelaran “Wayang Orang on The Street” di Semarang pada Minggu malam itu sukses menarik perhatian signifikan, terutama dari kalangan anak muda yang memadati area. Momen ini sejatinya menjadi bukti bahwa minat terhadap seni tradisional masih hidup, asalkan disajikan dengan cara yang relevan dan mudah dijangkau.

Meski demikian, Wattimena sendiri mengakui keterbatasannya dalam memahami esensi wayang orang, bahkan sampai tidak bisa berbahasa Jawa. Ini ironis, mengingat posisinya sebagai legislator yang mestinya menjadi garda terdepan pelestarian budaya bangsa.

Ia justru hanya membacakan puisi dan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka”, alih-alih berpartisipasi aktif dalam pementasan. Hal ini menguak ironi bahwa dukungan elite terhadap seni tradisional seringkali hanya bersifat seremonial, tanpa pendalaman substansial yang sebenarnya diperlukan.

Tantangan dan Keterbatasan Dukungan

Wattimena menyatakan, “Kalau menurut saya seperti tadi malam kan kita lihat di bawah panggung itu sudah banyak sekali anak-anak muda yang terlibat, kemudian mau nonton. Nah, mungkin ke depannya berikan mereka ruang.” Pernyataan ini menegaskan adanya potensi besar yang belum tergarap maksimal.

“Menurut saya yang bisa ditambahkan adalah narasi memperkenalkan wayang ini secara lebih intens,” tambahnya. Ia khawatir asupan acara luar mengikis pemahaman budaya lokal yang kaya.

Namun, ia juga mengakui, “Penyelenggaraan sebuah Wayang Orang on The Street juga ini kan bukan sesuatu yang mudah untuk mencari dukungan finansial dan lain-lain. Jadi kalau bisa setahun sekali juga bagus, karena ini melibatkan masyarakat.” Pengakuan ini menggarisbawahi kelemahan sistem pendanaan yang menghambat keberlanjutan.

Tanpa solusi jelas atas masalah pendanaan, Wattimena justru mencoba mengalihkan fokus dengan menyatakan, “Seluruh kostum yang dipakai, seluruh perlengkapan kayak ada ikatan janur segala macam di kepala anak-anak. Ini kan produk UMKM. Dan ini juga bisa menjadi bagian dari objek pariwisata.” Pernyataan ini terkesan menggeser pentingnya substansi pelestarian budaya ke dampak ekonomi semata.

Aksi Konkret yang Dinanti

Meski Samuel Wattimena mendesak penyelenggaraan rutin, ia sendiri hanya menyarankan frekuensi setahun sekali. Ini justru menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan dan komitmen jangka panjang dalam pelestarian wayang orang, mengingat tantangan finansial yang disebutkannya.

Kesenian tradisional, termasuk wayang orang, menghadapi ancaman kepunahan. Tanpa intervensi serius dan program berkelanjutan yang melampaui apresiasi seremonial, narasi budaya bangsa terancam hilang ditelan zaman.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin