Pertashop Menghitung Hari: Mengapa Bisnis SPBU Mini Ini Sulit Bertahan?
Kenaikan harga Pertamax berdampak signifikan pada bisnis Pertashop. Banyak gerai di jalur Wonogiri-Jogja tutup atau sepi pasca harga Pertamax mencapai Rp16.000 per liter. Ini merugikan konsumen dan bisnis, mengurangi akses bahan bakar serta pilihan bagi pengendara. Pertashop terancam.
Bisnis Pertashop ambruk di berbagai daerah, khususnya sepanjang jalur Wonogiri-Jogja, mati perlahan akibat kenaikan harga Pertamax yang tak terkendali. Sebagian besar outlet Pertashop, yang dulunya menjanjikan solusi distribusi bahan bakar, kini menutup gerainya permanen atau beroperasi di ambang kebangkrutan. Situasi ini memburuk drastis setahun lebih sejak kenaikan harga Pertamax awal.
Kenaikan agresif harga Pertamax dari kisaran Rp9.000 hingga mencapai Rp16.250 per liter mematikan daya saing Pertashop. Dengan hanya menjual Pertamax, mereka tak mampu bersaing dengan Pertalite yang stabil di Rp10.000 per liter, menjerumuskan usaha mikro ini ke jurang kehancuran yang tak terhindarkan.
Kondisi Lapangan Memprihatinkan
Delapan Pertashop yang dulu menjamur di jalur Wonogiri-Jogja kini menunjukkan tanda-tanda kematian. Satu telah tutup permanen, empat lainnya seringkali tutup dan hanya sesekali beroperasi, sementara dua yang tersisa amat sepi pembeli. Kondisi ini kontras dengan masa jayanya ketika antrean rutin terjadi, menjamin ketersediaan bahan bakar di luar SPBU utama.
Kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter memukul telak anggaran pengendara. Biaya bahan bakar yang sebelumnya kurang dari 5 persen dari pendapatan bulanan kini membengkak hingga menyentuh 10 persen, bahkan bagi mereka yang berpenghasilan di atas UMR. Kondisi ini membuat para pengemudi kelimpungan menyesuaikan pengeluaran mereka.
Konsumen terpaksa meninggalkan Pertamax karena harga yang tak masuk akal. Sebelumnya, mereka beralih ke Pertalite meski merasakan perbedaan performa mesin, lalu kembali ke Pertamax dengan memangkas pengeluaran lain. Namun, dengan harga Pertamax saat ini, uang Rp30.000 hanya cukup untuk satu perjalanan singkat, membuat opsi ini tidak lagi realistis.
Pertashop sendiri awalnya adalah solusi brilian. Berdiri di desa-desa strategis yang jauh dari SPBU utama, mereka menyediakan akses bahan bakar dengan harga kompetitif. Kehadiran mereka sangat vital bagi para “pejuang AKAP” yang tidak selalu melewati jalan raya utama, menawarkan kemudahan dan efisiensi.
Namun, disparitas harga Pertamax (Rp16.250) dan Pertalite (Rp10.000) yang melebar jauh membuat konsumen enggan melirik Pertashop. Dengan keterbatasan hanya menjual Pertamax, Pertashop kehilangan daya tarik utama mereka dan terancam gulung tikar.
Kritik Pedas terhadap Kebijakan
“Usaha yang dulunya dianggap visioner dan menyelesaikan masalah distribusi bahan bakar, kini dibunuh oleh kebijakan yang harusnya mengayomi mereka,” ungkap pengamat perjalanan Rizky Prasetya, mencermati ironi kebijakan Pertamina.
Prasetya menegaskan, “Bangkrutnya Pertashop tidak hanya berefek di sisi bisnis, tapi juga ke konsumen. Konsumen kehilangan opsi dan kemudahan yang sebelumnya mereka nikmati.”
Menyoroti dampak kebijakan yang selalu mengorbankan rakyat, Prasetya mempertanyakan, “Jika tiap kebijakan yang diambil selalu bikin rakyat yang jadi korban, kapabilitas pengambil keputusan patut dipertanyakan.”
Latar Belakang
Kehadiran Pertashop merupakan bagian dari inisiatif Pertamina untuk memperluas akses energi dan mendorong ekonomi di pelosok daerah. Program ini bertujuan memastikan ketersediaan bahan bakar, namun kini justru berbalik menjadi bumerang akibat kebijakan harga yang kontradiktif, mengancam ribuan investasi lokal.