Nawal Yasin Soroti Naruna Ceramic Salatiga: Kisah Melejit dari Garasi Kecil ke 18 Negara
Naruna Ceramic, produsen keramik asal Salatiga, sukses mengekspor produknya ke 18 negara. Kualitas produk dan kekuatan desain menjadi kunci utama menembus pasar global. Didukung strategi pemasaran digital, Naruna Ceramic juga memberdayakan UMKM lokal. Kapasitas produksi mencapai ribuan unit keramik per bulan, membuktikan ketangguhan industri kreatif daerah.
Produsen keramik Naruna Ceramic asal Salatiga kini menembus pasar global, mengekspor produknya ke 18 negara, dengan target 22 negara. Pencapaian ini, yang diklaim sebagai bukti ketangguhan industri kreatif daerah, terjadi di tengah kunjungan apresiasi Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, pada Sabtu, 4 April 2026, di showroom Naruna Ceramic, Kecamatan Sidorejo.
Keberhasilan Naruna Ceramic disebut-sebut bertumpu pada kualitas produk, desain berfilosofi, dan strategi pemasaran digital adaptif. Namun, pertanyaan muncul: seberapa realistis model ini direplikasi oleh ribuan UMKM lain di Jawa Tengah yang masih berjuang?
Kunci Sukses Naruna: Antara Inovasi dan Eksklusivitas
Naruna Ceramic, yang memulai dengan hanya enam pekerja, kini mempekerjakan sekitar 150 orang. Mereka mengklaim menggunakan tanah liat terbaik dari Kalimantan yang dicampur bahan lokal, melalui riset formula ketat. Proses produksi yang panjang dan detail ini menghasilkan ribuan produk per bulan, mulai dari 2.000 hingga 30.000 unit, tergantung pesanan.
Kekuatan desain menjadi kunci utama. Setiap produk tidak sekadar fungsional, melainkan sarat nilai filosofi yang menarik pembeli internasional. Ini bukan sekadar kerajinan, melainkan narasi yang dijual.
Adaptasi digital menjadi tulang punggung pemasaran, terutama saat pandemi Covid-19. Pemanfaatan platform media sosial dan marketplace memungkinkan Naruna menembus pasar lintas benua, sebuah langkah yang seringkali menjadi hambatan besar bagi UMKM tradisional.
Selain itu, Naruna Ceramic juga disebut-sebut memberdayakan usaha kecil melalui program binaan seperti di Salatiga Eco Park. Klaim ini, jika benar-benar efektif, bisa menjadi model, namun implementasinya secara luas masih menjadi












