Konflik Lebanon Memanas: KSAD Tegaskan Kesiapan Prajurit, Redam Kekhawatiran Keluarga.
KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memastikan prajurit TNI di Lebanon menjalankan SOP ketat, menenangkan keluarga di tengah eskalasi konflik. Prajurit dibekali kemampuan hadapi kondisi lapangan. TNI akan menelusuri kronologi gugurnya 3 prajurit UNIFIL, termasuk Kopda Anumerta Farizal Rhomadon pada 29 Maret. Upacara pelepasan dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta.
Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon, namun Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak justru mengeluarkan pernyataan yang menenangkan keluarga, bersikukuh bahwa prosedur operasional standar (SOP) telah dijalankan secara ketat. Upacara pelepasan jenazah ketiga prajurit ini digelar Sabtu (4/4/2026) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Kematian tragis ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang memanas di Lebanon, memicu pertanyaan serius mengenai efektivitas protokol keamanan dan perlindungan bagi pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di zona berbahaya tersebut.
Kontradiksi Klaim Keamanan
Maruli Simanjuntak bersikeras bahwa prajurit TNI yang bertugas di Lebanon telah dibekali prosedur dan kemampuan mumpuni untuk menghadapi berbagai kondisi lapangan. Ia bahkan menyebut instruksi untuk masuk bunker sudah ada dalam kondisi tertentu. Klaim ini kontras tajam dengan fakta tiga prajurit yang justru tewas dalam dua insiden terpisah.
Satu dari prajurit yang gugur adalah Kopda Anumerta Farizal Rhomadon (28), yang tewas pada 29 Maret 2026 akibat serangan langsung ke posisi UNIFIL di Adchit Al Qusayr. Identitas dan detail insiden dua prajurit lain yang gugur masih minim, menambah keraguan publik atas transparansi penanganan kasus ini.
Janji Maruli untuk melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai kronologi kejadian terdengar reaktif, bukan proaktif, setelah korban berjatuhan. Ini menimbulkan kesan bahwa investigasi baru akan dilakukan setelah insiden fatal terjadi, bukan sebagai upaya pencegahan yang efektif.
Pihak TNI, melalui Maruli, terkesan meremehkan risiko nyata di medan tempur, bahkan meminta keluarga di Tanah Air “tidak perlu risau” di tengah ancaman yang jelas-jelas merenggut nyawa. Situasi ini bukan hanya soal risiko yang melekat pada tugas militer, melainkan juga soal akuntabilitas dan perlindungan maksimal bagi prajurit di wilayah konflik.
Dalih Prosedur dan Risiko
“Ya nggak usah risau sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, apa pun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut,” ujar Maruli di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ia menambahkan, “Sebetulnya itu udah SOP-nya dalam penugasan. Dalam kondisi tertentu mereka ada instruksi untuk masuk ke bunker dan lain sebagainya.”
Maruli memastikan, “Nanti ada tim yang akan mencari tahu bagaimana sih sebetulnya peristiwa tersebut.”
Para prajurit TNI yang gugur ini merupakan bagian dari misi UNIFIL, pasukan perdamaian PBB yang ditempatkan di Lebanon. Kawasan tersebut terus bergejolak dan menjadi saksi konflik bersenjata, menempatkan pasukan asing dalam bahaya konstan.