Jusuf Kalla Tegas: TNI Tetap di UNIFIL, Jaga Citra Bangsa dari Anggapan Mundur!
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menegaskan pemerintah dan TNI tidak boleh menarik pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon. Misi ini wajib dilaksanakan meskipun berisiko tinggi. JK khawatir penarikan pasukan hanya karena risiko akan menimbulkan citra negatif Indonesia di mata dunia internasional sebagai negara penakut.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mendesak pemerintah dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk tidak menarik mundur pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dari Lebanon. Desakan ini muncul menyusul tingginya risiko misi, termasuk insiden korban jiwa yang menimpa prajurit TNI.
Kalla, berbicara di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (1/4/2026), menegaskan penarikan pasukan hanya akan mencoreng citra Indonesia di mata internasional, mencap negara ini sebagai “penakut” di tengah ancaman konflik.
Pernyataan Kalla ini mengemuka di tengah sorotan publik terhadap keamanan pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon, terutama setelah insiden yang menyebabkan gugurnya seorang prajurit TNI. Namun, Kalla menolak keras gagasan bahwa insiden semacam itu harus memicu penarikan pasukan.
Menurutnya, prinsip dasar TNI dan pemerintah bukan mundur karena adanya korban atau risiko. Misi perdamaian, seberat apa pun tantangannya, harus tetap diemban sebagai komitmen global.
Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu menekankan bahwa risiko adalah bagian tak terpisahkan dari tugas militer di mana pun. Mengalah pada risiko hanya akan mengirimkan sinyal negatif ke dunia.
Kalla secara implisit menantang persepsi bahwa Indonesia akan gentar menghadapi tekanan. Ia memperingatkan bahwa reputasi internasional Indonesia dipertaruhkan.
Saran ini secara langsung menekan kepemimpinan saat ini, terutama dengan menyinggung nama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang dikenal dengan ketegasan militernya.
Mengapa Tidak Boleh Mundur?
“Tidak (menarik mundur pasukan). Negara, TNI tidak seperti itu. Bahwa kalau ada yang korban, tewas, langsung kita mundur. Wah, bukan itu saya kira jiwa TNI dan jiwa pemerintah. Tetap ada di situ. Memang ada risikonya, tapi tetap harus dilaksanakan,” tegas Kalla di Hotel Sultan.
Ia melanjutkan, “Ya, tentara di mana-mana memang ada risikonya. Siapa pun kita juga di sini ada risikonya. Jadi jangan karena risiko seperti itu langsung kita lari.”
Kalla secara gamblang memperingatkan konsekuensi citra, “Nanti dunia menganggap kita penakut gitu. Indonesia bukan negara penakut, apalagi Pak Prabowo yang memimpin.”
Latar Belakang Misi
Desakan Kalla ini muncul setelah sebelumnya seorang prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur di Lebanon. Insiden ini memicu kekhawatiran dan perdebatan mengenai keberlanjutan misi perdamaian Indonesia di wilayah konflik tersebut.
Pengamat bahkan menyoroti serangan terhadap pasukan UNIFIL sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional, menambah kompleksitas situasi di lapangan.