Fikri, bocah 6 tahun asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat, kini duduk di bangku Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, setelah bertahun-tahun hidup memulung sampah plastik di jalanan Jakarta. Kisah pilu Fikri, yang harus kehilangan masa kecil demi bertahan hidup, menampar wajah sistem perlindungan anak Indonesia yang gagal berfungsi proaktif.
Pemulangan Fikri ke kampung halaman oleh aparat kepolisian memicu intervensi reaktif pemerintah daerah dan berbagai lembaga, yang kini berupaya menutup lubang kegagalan masa lalu dengan menyediakan akses pendidikan dan kebutuhan dasar bagi Fikri serta keluarganya.
Fikri, yang sebelumnya akrab dengan karung berisi barang bekas, kini membawa buku dan pensil. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, ia menjalani hari-hari yang seharusnya menjadi hak setiap anak: belajar membaca dan berhitung, menggambar, serta bermain bersama teman-teman. Fasilitas seperti papan tulis interaktif dan lego menjadi bagian dari lingkungan barunya.
Namun, kasus Fikri bukan sekadar cerita sukses individu. Ini adalah cermin pahit kondisi ribuan anak lain yang terpaksa hidup di jalanan, luput dari perhatian negara. Intervensi yang diberikan, meski patut diapresiasi, muncul setelah Fikri mengalami eksploitasi dan kehilangan hak dasar sebagai anak.
Tak hanya pendidikan formal, Fikri juga kini menikmati perhatian dan nutrisi yang sebelumnya langka. Ia memperoleh makanan bergizi setiap hari di sekolah, aspek krusial yang sering terabaikan dalam kehidupan anak jalanan.
Intervensi ini meluas hingga ke keluarganya. Adiknya, Naufal, didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bantuan kebutuhan pokok, pengurusan administrasi kependudukan, jaminan layanan kesehatan melalui BPJS, hingga perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dikucurkan. Bahkan, ibu Fikri menerima bantuan modal usaha, sebuah upaya tambal sulam untuk menopang ekonomi keluarga yang sebelumnya terpuruk.
“Sekolahnya Seru Banget”
Fikri sendiri mengungkapkan kegembiraannya. “Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ujar Fikri polos, dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Ia juga merasakan manfaat fisik dari perhatian yang didapat. “Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” katanya sambil tersenyum, menunjukkan betapa mendasarnya kebutuhan yang baru kini terpenuhi. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian,” tambahnya, menggambarkan tumbuhnya rasa percaya diri.
Dalam pernyataan yang sarat nuansa politik, Fikri juga menyebut, “Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak.”
Perjalanan Fikri ke bangku sekolah, yang dipicu oleh penemuan polisi, menyoroti respons reaktif negara terhadap krisis anak jalanan, bukan pencegahan sistemik. Dari jalanan yang keras, ia menemukan harapan baru, namun pertanyaan besar tetap menggantung: berapa banyak lagi Fikri lain yang belum “ditemukan” dan masih berjuang di bawah radar kegagalan sistematis?

Leave a Reply