Anak bungsu di Indonesia terperangkap dalam dilema psikologis berat, memikul beban ekspektasi membahagiakan orang tua yang menua sementara saudara-saudara telah berkeluarga. Stereotip “anak manja” menyembunyikan kenyataan pahit: mereka seringkali merasa sendirian, dihantui ketakutan tidak mampu membalas jasa, dan terpaksa mengesampingkan cita-cita pribadi. Beban ini memuncak ketika mereka memasuki usia 25 tahun, saat orang tua mencapai usia senja.
Kondisi ini menciptakan tekanan mental ekstrem. Saat kakak-kakak fokus pada keluarga dan anak mereka sendiri, perhatian terhadap orang tua praktis teralihkan. Anak bungsu otomatis menjadi tumpuan terakhir, terjebak dalam tuntutan untuk selalu hadir di rumah, padahal di usia tersebut mereka justru sedang merintis karier dengan finansial yang belum stabil.
Beban Psikologis dan Ekspektasi yang Mencekik
Rumah yang dulu ramai berubah sunyi saat saudara-saudara beranjak pergi, meninggalkan anak bungsu dalam kesendirian. Ekspektasi agar anak bungsu menemani orang tua menjadi sebuah paksaan tak tertulis, dilabeli sebagai “pembuang waktu” jika mencoba mengejar kehidupan di luar. Padahal, justru pada usia 25 tahun inilah banyak anak bungsu baru memulai perjuangan karir, jauh dari kemapanan finansial.
Tuntutan “hanya butuh tinggal bersama” dari orang tua semakin menghimpit. Anak bungsu memendam pertanyaan pedih, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Perasaan ini makin kuat karena mereka tahu, di antara semua anak, hanya merekalah yang tersisa sebagai “harapan terakhir” orang tua. Situasi ini bukan pilihan, melainkan kondisi yang dipaksakan oleh dinamika keluarga dan usia.
Mereka bukan tak mau berkontribusi; justru keinginan itu sangat kuat. Namun, realitas gaji yang kerap jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR) di awal karier menghambat. Harapan untuk membahagiakan orang tua terbentur kenyataan finansial yang belum memadai, menambah rasa bersalah dan tekanan.
Cita-Cita Tergeser oleh Prioritas Orang Tua
Dalam kondisi serba sulit ini, cita-cita dan harapan pribadi anak bungsu kerap terpaksa bergeser. “Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya,” menjadi ungkapan getir. Ini bukan cerminan kemalasan, melainkan prioritas mendesak yang dipicu oleh usia orang tua yang semakin senja. Mereka merasa waktu untuk membahagiakan orang tua terbatas, mendorong cita-cita mereka sendiri ke urutan kedua.
“Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita,” ungkap Abdur Rohman, seorang anak bungsu yang menyuarakan dilema ini. Ia menegaskan, “Di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.”
Rohman juga menyoroti ironi lain. “Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, ‘apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?’” Perasaan menjadi beban, walau tidak diucapkan, merayap dan memakan mental.
“Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!” pungkas Rohman, menyingkap kepahitan di balik citra anak bungsu yang dimanja. Ia menyerukan kakak-kakak untuk menengok adik dan orang tua mereka, mengingatkan bahwa kehadiran tulus kadang lebih berharga dari sekadar uang.
Fenomena ini kontras dengan anggapan umum bahwa anak bungsu hidup paling manja dan bebas beban. Realitas justru menunjukkan mereka memikul tanggung jawab emosional dan praktis yang tak terlihat, terjebak antara hasrat mengejar masa depan dan kewajiban moral terhadap orang tua yang menua, seringkali sendirian menghadapi dinamika keluarga yang berubah.

Leave a Reply