Indonesia Kecam PBB Usai Prajurit Gugur di Lebanon: Tuntut Investigasi & Perlindungan Pasukan!
Indonesia mendesak PBB segera investigasi serangan di Lebanon selatan. Tiga personel penjaga perdamaian Indonesia dari misi UNIFIL tewas dalam dua hari berturut-turut. Desakan ini disampaikan dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB di New York, menilai serangan tersebut melemahkan mandat UNIFIL.
Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menginvestigasi serangan di Lebanon selatan yang menewaskan tiga personel penjaga perdamaiannya yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dalam dua hari beruntun. Desakan tajam ini disampaikan dalam rapat darurat Dewan Keamanan (DK) PBB di New York, Selasa (31/3) waktu setempat.
Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menegaskan serangan beruntun itu bukan insiden biasa, melainkan tindakan disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL. Ini jelas pelanggaran Resolusi DK PBB 1701 terkait gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Indonesia menuntut penyelidikan cepat, menyeluruh, dan transparan atas rentetan serangan brutal tersebut. Jakarta secara eksplisit meminta investigasi dari PBB, menolak mentah-mentah “alasan dari Israel” yang kerap menjadi pembenaran. DK PBB harus memantau dan menindaklanjuti hasilnya.
Keamanan dan keselamatan personel penjaga perdamaian menjadi prioritas utama Indonesia. Jakarta mendesak DK PBB dan Sekretaris Jenderal segera mengambil langkah darurat untuk melindungi personel dan aset UNIFIL yang kini rentan.
Langkah-langkah mendesak itu mencakup peninjauan ulang protokol keamanan personel secara ketat, serta pengaktifan rencana kontingensi dan evakuasi yang adaptif terhadap perkembangan situasi di lapangan.
Umar Hadi menekankan, sudah saatnya DK PBB dan komunitas internasional bertindak tegas dan cepat. Perlindungan penjaga perdamaian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak.
Indonesia tetap berkomitmen pada perdamaian dunia, namun komitmen itu tidak datang tanpa syarat. DK PBB harus memberikan tindakan nyata dan mengecam keras serangan-serangan yang merenggut nyawa personel penjaga perdamaian.
Tuntutan Tegas PBB
“Oleh karenanya, kami meminta investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan. Lebih jelasnya, kami meminta investigasi dari PBB, bukan alasan dari Israel,” tegas Umar Hadi, mengutip siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Ia menambahkan, tuntutan ini adalah “bentuk penghormatan mendalam bagi para penjaga perdamaian yang telah gugur. Kepada mereka, Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas pengorbanan mulia demi menjaga perdamaian dan keamanan internasional.”
“Hari ini, DK PBB harus menegaskan kewajiban semua pihak untuk memastikan dan menjamin keamanan dan keselamatan para penjaga perdamaian,” lanjut Umar. “Dewan Keamanan harus mengambil langkah tegas untuk mencegah permusuhan di masa depan dan serangan terhadap penjaga perdamaian. Tidak boleh ada lagi serangan.”
Korban Gugur di Lebanon
Indonesia berduka atas gugurnya tiga personelnya di bawah UNIFIL. Praka Farizal Rhomadon tewas pada Minggu (29/3) akibat serangan artileri tidak langsung dekat Adchit Al Qusayr. Sehari kemudian, Sertu Muhammad Nur Ichwan dan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar gugur dalam serangan di dekat Bani Hayyan.
Para personel ini gugur di tengah eskalasi konflik brutal antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan, sebuah wilayah yang terus bergejolak dan menuntut korban dari misi perdamaian internasional.