Prabowonomics: Menguak Dilema Ideologis Antara Sosialisme dan Kapitalisme
Muhammad Syarkawi Rauf membahas pandangan ekonom peraih Nobel tentang institusi ekonomi dan kemakmuran negara. Institusi inklusif disebut mendorong pertumbuhan jangka panjang. Namun, pertumbuhan tinggi China dengan kapitalisme negara menantang teori ini. Profesor Keyu Jin juga memberikan perspektif baru tentang ekonomi China.
Muhammad Syarkawi Rauf, mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, melancarkan kritik tajam terhadap dogma ekonomi Barat yang dinilainya buta terhadap realitas pertumbuhan China. Ia menuding pandangan para peraih Nobel Ekonomi 2024 tentang institusi inklusif gagal total menjelaskan anomali ekonomi Beijing.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) itu menegaskan, teori yang mengagungkan institusi inklusif sebagai pendorong kemakmuran jangka panjang tidak berlaku untuk China. Negara dengan kapitalisme negara dan sistem politik ekstraktif-otoriter di bawah kendali tunggal Partai Komunis ini justru mencetak pertumbuhan ekonomi masif.
Kegagalan Prediksi Barat
Tiga ekonom peraih hadiah Nobel Ekonomi 2024, Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A. Robinson, merintis penelitian yang menyoroti bahwa institusi inklusif mendorong pertumbuhan jangka panjang. Sebaliknya, institusi ekstraktif yang eksploitatif menghambat kemakmuran. Namun, gagasan ini seolah mental saat berhadapan dengan China.
Perekonomian China, yang secara institusi digerakkan oleh pemerintah dan dikendalikan partai tunggal, pernah menikmati pertumbuhan di atas 10 persen selama hampir tiga dekade. Bahkan, dalam satu dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan masih melampaui 5,0 persen. Angka ini menampar keras narasi Barat tentang kegagalan sistem ekstraktif.
Syarkawi Rauf menyoroti pandangan Keyu Jin, profesor ekonomi dari London School of Economics (LSE), yang menawarkan perspektif berbeda dalam bukunya “The New China Playbook, Beyond Socialism and Capitalism” (2024). Jin, pemikir brilian berkewarganegaraan China, secara gamblang membongkar bias Barat.
Jin menceritakan bagaimana teman-teman sekelasnya di Harvard University selalu melontarkan pertanyaan seragam: “kapan China akan menjadi negara demokrasi?”, “bagaimana Anda bisa bangun di pagi hari mengetahui Anda tidak bisa memilih presiden sendiri?”, dan “kapan ekonomi China akan berhenti tumbuh?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menggarisbawahi kegagalan ekonom Barat memahami model China. Mereka secara ekstrem berpandangan pembangunan ekonomi China akan gagal jika tidak mentransformasi ekonominya berdasarkan nilai-nilai dan sistem politik-ekonomi Barat.
Bias Barat yang Menyesatkan
“Gagasan ketiga pemenang Nobel di atas tidak berlaku untuk kasus China dengan institusi ekonomi yang digerakkan oleh pemerintah (state capitalism),” tegas Syarkawi Rauf. “Demikian juga institusi politiknya yang ekstraktif dan otoriter dikontrol oleh hanya satu partai, yaitu partai komunis China.”
Ia menambahkan, “Secara ekstrem, seperti yang ditulis Keyu Jin, ekonom-ekonom dari Barat berpandangan bahwa pembangunan ekonomi China akan gagal jika tidak mentransformasi ekonominya berdasarkan Western value—termasuk menyesuaikan dengan sistem ekonomi dan politik Barat.”
Syarkawi Rauf secara implisit menuding bias Barat menyesatkan analisis terhadap fenomena ekonomi global. Pandangan yang menganggap sistem non-Barat pasti gagal hanya menunjukkan arogansi intelektual.
Muhammad Syarkawi Rauf, yang juga adalah Dosen FEB Unhas dan pernah memimpin KPPU RI periode 2015-2018, menantang para ekonom untuk melihat melampaui kerangka teori konvensional. Debat ini krusial untuk memahami dinamika ekonomi global yang kompleks, bukan sekadar memaksakan dogma yang usang.